Namaste

Namaste by Muhammad Anta Kusuma

Namaste adalah ekspresi verbal, juga sikap tubuh (gesture) simbolik untuk saling memberi salam. Terminologi ini berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti “Saya menghormatimu.”

Namaste dilakukan dengan menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada (atau tepatnya di depan jantung), jari-jari tangan menunjuk ke atas, menutup mata, dan membungkukkan kepala. Sikap ini disebut Pranamasana, juga bisa dilakukan tanpa kata dan membawa arti yang sama.

Saat berdoa, tangan diposisikan sedikit lebih tinggi, atau di depan dada atas. Ekspresi tangan tertangkup di depan dahi menunjukkan sikap hormat kepada orangtua, guru, dan orang yang dihormati.

Makna Namaste

  • Sikap namaste merupakan keyakinan bahwa ada percikan Illahi di dalam setiap kita, yang bersemayam di Anahata-cakraatau Cakra Jantung. Gerakan itu adalah pengakuan jiwa dalam diri seseorang oleh jiwa di dalam diri orang lain.Walau secara harfiah namaste berarti “Saya membungkuk padamu” (nama = busur; as = saya; te = kau), namun kata ini lebih sering diterjemahkan sebagai “cahaya illahi dalam diriku menghormat cahaya illahi dalam dirimu” atau “Allah dalam diriku menyapa Allah dalam dirimu.” Namaste adalah pengakuan bahwa kita semua sama dan berbagi keilahian.
  • Namaste dapat pula dilakukan dengan mula-mula menangkupkan kedua telapak tangan di depan Cakra Mata Ke-tiga atau Ajna-cakra, menundukkan kepala, kemudian membawa tangan ke jantung. Ini merupakan bentuk penghormatan yang mendalam. Di Barat namaste biasanya diucapkan sambil melakukan gerakan itu, sementara di India dipahami bahwa gerakan itu sendiri menandakan namaste, dan karenanya tidak perlu mengucapkan kata sementara membungkuk.
  • Menangkupkan kedua tangan juga memiliki makna yang dalam. Pada tradisi India, tangan kanan adalah representasi “diri (self) yang lebih tinggi” atau “diri dalam kandungan Yang Illahi”, dan tangan kiri adalah representasi “diri yang lebih rendah” atau “diri duniawi.” Dengan menangkupkan kedua telapak tangan dan melakukan namaste, berarti kita menyatukan kedua aspek ‘diri’ itu, dan berupaya menyambungkannya dengan individu lain di hadapan kita.
  • Ketika menangkupkan kedua telapak tangan di Cakra Jantung kita meningkatkan aliran Kasih Illahi. Membungkuk dan memejamkan mata membantu pikir berserah diri kepada Yang Illahi. Kita bisa melakukan namaste terhadap diri sendiri sebagai suatu teknik menditasi untuk masuk lebih jauh ke dalam diri.
  • Namaste juga sebuah tradisi yang kerap dilakukan di kalangan praktisi yoga, untuk mengawali dan mengakhiri latihan. Dengan melakukan namaste, guru dan murid bersama-sama masuk ke medan koneksi energi yang bebas dari segala ikatan ego. Jika dilakukan dengan keikhlasan hati dan pikir, suatu ikatan spirit akan tumbuh dan mekar. Namaste dilakukan di akhir latihan, karena pada saat ini pikiran (mind) tidak terlalu aktif dan energi di dalam ruangan lebih damai (peaceful). Guru memulai namaste sebagai wujud syukur, dan murid membalas sebagai simbol penghormatan. Sebagai imbalannya, Guru mengajak para murid untuk terhubung dengan kanal yang memungkinkan kebenaran mengalir – yaitu kebenaran bahwa kita semua adalah satu ketika kita hidup dari hati nurani. (ret)..
Advertisements

2 thoughts on “Namaste

Sila beri tanggapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s