Yoga

 

Yoga adalah sebuah tradisi spiritual pan-India.

Kata Sansekerta yoga berasal dari akar yuj yang berarti ‘mengekang’ atau ‘memanfaatkan’. Yoga memiliki berbagai aplikasi dalam bahasa Sansekerta, dari ‘serikat’, ‘kelompok’, ‘jumlah’, ‘peralatan’, hingga ‘bersama-sama’.

Awalnya terminologi yoga diterapkan untuk pengendalian pikir (manas) dan indera (indriya). Kemudian kata ini digunakan untuk menunjukkan penyatuan lingkungan, indera, tubuh, pikiran, dan jiwa. Penyatuan ini dijabarkan dalam sebuah teks kuno yang dikenal sebagai Yoga Sutra, karya Patanjali Maharshi yang menjelaskan bahwa yoga adalah pengendapan pikir secara progresif di medan keheningan murni, yang biasanya dibayangi oleh aktivitas pikir.

Pada masa Bhagavad Gita – sekitar abad ke-3 atau ke-4 SM – yoga secara luas digunakan untuk menunjukkan disiplin spiritual, dengan berbagai pendekatan untuk menuju realisasi diri atau pencerahan.

Swami Krishnananda, seorang Guru di awal abad 20, mendefinisikan yoga sebagai latihan pikir (mind). Walau di dalamnya tercakup latihan fisik, namun yoga lebih merupakan suatu sistem berpikir daripada metode melakukan sesuatu secara fisik. Yoga bukan melakukan sesuatu, malainkan memikirkan sesuatu, yang secara tidak langsung berarti ‘menjadi sesuatu dalam diri sendiri’, karena diri kita terutama adalah apa yang kita pikirkan. Keberadaan dan pikir tidak bisa dipisahkan. Siapapun kita, diri mulai beroperasi melalui pikir (mind) sebagai proses berpikir. Pikir dan diri adalah dua hal yang tidak terpisahkan; diri adalah pikir.

Yang terjadi pada tubuh tidak lebih penting daripada yang terjadi pada pikir. Kebahagiaan dan ketidakbahagiaan lebih tergantung pada kondisi pikir daripada kondisi tubuh. Bahkan ketika tubuh kuat dan sehat, seketika kita bisa merasa tidak bahagia tatkala suatu gagasan menghinggapi benak. Jadi kesehatan fisik saja tidak berarti bahagia. Satu saja gagasan yang mengganggu sudah cukup untuk mengguncang keseimbangan.

Atensi mendasar hendaknya diberikan pada seni berpikir (the art of thinking) daripada latihan fisik. Bukan berarti latihan fisik tidak diperlukan. Latihan fisik diperlukan namun itu bukan keseluruhan yoga. Diri lebih dari tubuh. Perasaan dan emosi, pemahaman dan pikiran adalah hal-hal penting dalam hidup, dan jauh lebih penting daripada penampilan fisik.

Dengan demikian, yoga adalah seni menyalurkan pikiran ke arah tertentu. Kesulitannya adalah bahwa kita harus tahu apa dan ke mana arah itu. Pikir harus dibentuk dan dimapankan untuk beroperasi dalam arah tertentu. Pertanyaan utamanya adalah ‘apakah arah itu?’ Yoga dimulai dengan pertanyaan: apa yang harus saya pikirkan?

Tidaklah mudah untuk memahami kehidupan. Kehidupan tidak sekadar apakah kita, malainkan juga relasi-ralasi apa yang terbangun di antara kita dan orang lain. Hidup kita tidak hanya yang ada dan terjadi di dalam tubuh, tetapi juga yang terhubung dengan orang lain di luar. Segala hal yang memberi dampak atas kita adalah kita. Jadi relasi sosial adalah kita sendiri. Dengan demikian diri bukan semata-mata mental individual dan personalitas fisik. Diri juga mencakup personalitas sosial. Masyarakat bisa mengadakan ataupun meniadakan kita, terlepas dari apapun yang terjadi atas tubuh dan pikir.

Angin yang berhembus kuat, hujan lebat dari langit, dingin atau panas yang teramat, juga dapat memengaruhi kita. Ini adalah bentuk relasi lain dengan alam fisik. Jadi bisa dibayangkan, betapa rumitnya personalitas kita. Kita bukan hanya sesosok individu saja.

Dari pemahaman di atas, pada awalnya kita mengenali diri sebagai tubuh yang melakukan latihan. Kemudian, kita mengenali diri juga meliputi perasaan, emosi, pemahaman, dan pemikiran. Itu pun belum lengkap. Diri memiliki relasi sosial dan seluruh kemanusiaan yang dapat memengaruhi kita. Labih jauh, kita sampai pada pemahaman bahwa seluruh semesta dapat memengaruhi kita. Bahkan matahari yang besinar di langit bisa memberitahu sesuatu. Dan akhirnya, Tuhan memberitahu sesuatu. Dialah Sang Kreator semesta raya.

Jadi dalam penyesuaian personalitas kita dalam berbagai arah ini – fisik, mental, emosional, sosial, kosmologikal, alamian, dan ilahiah – semuanya dibawa bersama-sama ke dalam kelengkapan organik yang tersusun sistematis, sehingga kita merasa sebagai individu kosmik yang utuh.

Gagasan bahwa kita adalah ‘seseorang’ harus dienyahkan. Kita – Anda dan saya masing-masing – lebih besar dari yang selama ini kita bayangkan. Jika kita menghargai itu, itu sudah sebuah kemajuan besar dalam memperbaiki hidup. Ini adalah langkah pertama dalam yoga. Jika ini diteruskan, kebahagiaan kita tidak terkirakan. Kita akan merasakan bahwa semua orang melindungi kita. Masyarakat, Tuhan, pikiran, dan semesta akan menjadi kawan. Kita akan hidup di dunia teman-teman. Inilah caranya menjadi bahagia.

Selamat beryoga. Selamat berbahagia. (ret)

Referensi:

  1. Feuerstein, Georg. 2011. The Encyclopedia of Yoga and Tantra. Boston: Shambala Publications.
  2. Krishnananda, Swami. 2001. Your Questions Answered. Shivanandanagar: Divine Life Society Publications.
  3. Rama Muktasambhava, pemaparan lisan pada suatu senja di tahun 2009.

 

 

Advertisements

Sila beri tanggapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s