Realitas Spiritual # 1

I. PENDULUAN
Sebelum melangkah, ada baiknya kita luruskan dulu beberapa kesalahpahaman tentang yoga, terutama pemahaman yang datang dari Barat. Yoga bukanlah magic atau fenomena supranatural fisik maupun mental. Yoga adalah proses belajar untuk melatih pikir agar menjadi lebih natural, dan menyapihnya dari kondisi hidup yang tidak natural. Jika di sekolah kita mempelajari suatu objek studi, dalam yoga kita mempelajari diri sendiri, yaitu struktur terdalam dari diri.
     Yoga adalah proses untuk memahami dunia dan kehidupan. Sebagai studi tentang pikir, yoga mempelajari relasi diri dengan hal-hal dan makhluk-makhluk lain. Perintah ‘Kenalilah dirimu’ menyiratkan bahwa kita harus mengenal diri dan tahu segala sesuatu yang berkaitan dengan diri, yaitu mengenal alam semesta. Dalam yoga kita melangkah dari yang rendah menuju ke yang lebih tinggi tanpa tergesa-gesa.
Yang terpenting untuk disadari dalam pengalaman ini adalah dunia. Ada proses pikir tertentu yang terjadi dalam benak hingga kita menyadari keberadaan dunia. Sensasi, persepsi dan kognisi –yang dikenal sebagai ‘persepsi langsung’ atau pratyaksha– adalah perangkat untuk mengenali dunia, menilai, dan mengambil keputusan atasnya untuk tujuan membangun relasi-relasi. Relasi-relasi inilah yang membentuk kehidupan sosial kita.

Indriya
Kita memiliki lima indra pengetahuan dan itulah alat kita untuk menerima informasi tentang dunia. Suatu stimulasi indrawi terjadi karena getaran yang ditimbulkan oleh objek di luar diri. Getaran ini terjadi dengan dua cara: (1) karena kehadiran objek itu sendiri, dan (2) karena ada cahaya, suara, dan gejala lain yang mengenai atau ditimbulkan oleh objek yang memengaruhi retina mata, gendang telinga, atau indra lainnya. Jika kelima indra tidak berfungsi, kita bahkan tidak akan tahu bahwa dunia ini ada.
Kita hidup di dunia indrawi. Ketika menerima getaran rangsang dari luar, diri menjadi aktif. Aktivitas indrawi merangsang pikir melalui sistem syaraf yang menghubungkan indra dengan pikir (mind) dengan memanfaatkan prana atau energi vital. Kanal syaraf ini laksana kabel tempat prana mengalir. Prana adalah getaran internal yang menghubungkan indra dan pikir. Sensasi, karenanya, membuat pikir aktif dan mulai merasakan bahwa ada sesuatu di luar diri. Ini adalah persepsi tidak langsung (indeterminate perception), yaitu ketika pikir memiliki kesadaran tanpa sifat objek. Ketika menjadi lebih jelas –menjadi determinate– persepsi mental ini menjadi kognisi.
Melampaui pikir ada kemampuan lain yang disebut intelektualitas (buddhi). Intelektualitas adalah kemampuan untuk menentukan sesuatu sebagai baik atau buruk, perlu atau tidak perlu, begini atau begitu. Intelektualitas memutuskan berdasarkan nilai tertentu, baik positif maupun negatif; baik secara moral, estetika, ataupun religius. Orang menilai suatu situasi dalam kaitannya dengan objek.
Beberapa psikolog berpendapat bahwa pikir adalah instrumen dalam genggaman intelektualitas. Dalam bahasa Sansekerta, manas (pikir atau mind) adalah karana atau sarana atau instrumen, sementara buddhi atau intelektualitas adalah karta atau pelaku. Intelektualitas menentukan hal-hal untuk dipikirkan oleh pikir, dan memutuskan tindakan terhadap objek pada situasi tertentu.
Intelektualitas terkait dengan prinsip lain dalam diri yang disebut ahamkāra atau ego. ‘Aham‘ berarti ‘aku’, dan ‘kāra‘ adalah (pelaku) yang mewujudkan atau menegaskan. Ada sesuatu dalam diri kita yang menegaskan ‘Aku’. Penegasan ini disebut ego. Tidak diperlukan logika untuk membuktikan ego, karena kita tidak perlu membuktikan keberadaan diri sendiri. Penegasan inipun tidak membutuhkan bukti dalam seluruh prosesnya. Ego tidak terpisahkan dari intelektualitas, sebagaimana api dan panas. Intelektualitas adalah fungsi dari ego. Fungsi ego banyak ragamnya dan itu adalah subjek ilmu psikologi. Ego, intelektualitas, dan pikir melakukan fungsi penganggapan, pemahaman, dan penggagasan objek.

Citta
Selain ego, intelektualitas, dan pikir, ada fungsi lain –fungsi ke-4– yang disebut citta. Citta adalah bagian dari kosmos pengindra (prakriti), walau tidak diperlakukan sebagai tattva (realitas) tersendiri. Tidak ada terjemahan yang pas untuk citta. Kata ini lebih banyak digunakan sebagai terminologi payung untuk semua proses batiniah (inner processes), terutama atensi. Dalam literatur Barat, citta dikaitkan dengan subconsciousness (bawah sadar). Lapisan bawah sadar adalah lapisan di dasar pikiran sadar (conscious mind), yang berfungsi menyimpan kenangan (memory). Citta kemudian kerap diterjemahkan sebagai subconscious mind atau pikiran bawah sadar. Namun, dalam psikologi yoga, citta termasuk juga unconscious mind, yang adalah subjek studi psikoanalisis. Sebagai produk dari kesadaran transendental (citi) dan objek yang dirasakan, cittaterkait dengan keduanya. Ada banyak kesadaran seperti ini, dan dalam Yoga-Sūtra, Patanjali secara khusus menolak pandangan kesadaran tunggal.
     Citta diselubungi oleh penggerak subliminal (samskāra) yang tidak terhitung jumlahnya, yang berpadu membentuk karakter (vasana), dan bertanggung jawab dalam produksi berbagai fenomena psiko-mental, terutama rangkaian lima gejolak kesadaran (vritti).
Dalam Yoga Sutra, citta diarahkan, pada akhirnya, untuk ‘pembebasan diri’. Setelah realisasi diri (self-realization), kesadaran – yang merupakan fenomena material – melebur, karena realisasi diri mensyaratkan adanya ‘involusi’ (pratiprasava) dari konstituen utama, yaitu kualitas (guna) dari prakriti. Sebagaimana aspek-aspek pengindra lainnya, kesadaran mengalami perubahan terus-menerus. Dalam sudut pandang yoga, modifikasi terpenting adalah lima gejolak mental (vritti), yaitu kognisi yang akurat, ketidaktahuan, konseptualisasi, tidur, dan memori atau kenangan. Semua gejolak itu harus dihentikan ketika hendak mengaktualisasi tahapan kesadaran yang lebih tinggi.
     Yoga Bhāsya mengibaratkan kesadaran sebagai magnet yang menarik objek-objek. Pada bagian lain, kesadaran digambarkan sebagai kristal yang merefleksikan warna objek di dekatnya. Dalam Yoga-Sūtra, citta kerap dipadankan dengan buddhi.

Antahkarana
Semua aparatus fungsional ini, secara bersama-sama, adalah antahkarana (jiwa atau psyche). Organ-dalam ini berfungsi dalam berbagai bentuk, dan yoga memberi atensi pada kajian menyeluruh fungsi-fungsi ini, karena tujuan akhir metode yoga adalah semua fungsi psikis.
Jiwa menghasilkan lima reaksi sehubungan dengan dunia luar, baik positif maupun negatif, dan ini adalah tema ilmu psikologi. Kelima moda antahkarana itu membentuk kehidupan normal, yaitu pramana, viparyaya, vikalpa, nidra, dan smriti.
     Pramana (nilai atau ukuran) adalah kesadaran akan objek sebagaimana adanya. Ini adalah subjek studi logika. Yoga klasik menjabarkannya sebagai kognisi atau pengetahuan sahih. Yoga tidak memintas wacana penting dalam filsafat, yaitu tentang kemungkinan dan cakupan pengetahuan. Tiga sumber kognisi sahih menurut Patanjali adalah pratyaksha (persepsi), anumanā (kesimpulan), dan āgama (kesaksian). Dalam disiplin ilmu pengetahuan lain, ada yang menambahkan dengan perbandingan (comparison), anggapan (presumption), dan keyakinan (non-apprehension).
Lalu, bagaimana kita tahu ada sesuatu di hadapan kita? Pengetahuan ini kita peroleh melalui kontak indrawi langsung. Inilah persepsi. Ketika melihat air berlumpur di sungai, kita beranggapan pasti ada hujan di gunung. Pengetahuan ini kita dapatkan dengan penyimpulan (inference).
Ucapan orang yang kita percayai juga memberi pengetahuan sejati. Misalnya, kita percaya ada gajah masuk kota ketika berita itu kita dapat dari seorang kawan dekat meskipun kita tidak benar-benar melihatnya sendiri. Semua metode ini disebut pramana atau bukti langsung pengetahuan yang dapat diandalkan.
     Viparyaya(error) adalah persepsi yang salah. Ketika melihat seutas tali di senja hari, misalnya, kita kerap menyangkanya ular. Atau sebuah tongkat akan tampak bengkok ketika berada di dalam air.
Dalam Yoga-Sūtra, viparyaya adalah salah satu dari lima kategori gejolak mental, yaitu ketika kita menangkap sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataannya. Menurut Yoga Bhāshya, viparyaya sinonim dengan avidyā (ketidaktahuan atau nescience), yaitu kesalahan sebagai akibat dari salah mengartikan (misinterpret) keberadaan itu sendiri.
     Vikalpa (keraguan atau doubt). Ketika kita tidak yakin, misalnya, hal yang kita lihat adalah orang atau tiang, apakah sesuatu bergerak atau diam, persepsi tidak jelas, atau ketika ragu-ragu, kita dikatakan berada dalam vikalpa.
     Nidra (tidur) adalah kondisi negatif, yaitu ketika pikir ditarik dari semua aktivitas. Namun, tidur juga merupakan kondisi psikologis, karena walau tidak secara positif terhubung dengan objek-objek di luar diri, tidur merepresentasikan kondisi laten terhadap impresi dan kemungkinan pemikiran objektif. Nidra adalah tidur dari antahkarana.
     Smriti (memory) adalah kenangan masa lalu, retensi kesadaran dari impresi pengalaman yang dialami di masa lalu.
Semua fungsi organ internal di atas, dapat dibawa ke salah satu atau semua proses antahkarana ini. Namun, bukan berarti bahwa hanya ada lima macam gejolak mental. Semua, ratusan jumlahnya mungkin, gejolak mental dan pemikiran dapat dimasukkan ke dalam lima kelompok fungsi ini. Yoga mendalami struktur batiniah manusia dan meletakkannya dalam relasi dengan semesta.
Salah satu penemuan yoga yang luar biasa adalah hubungan erat antara kesadaran (consciousness) dan nafas. Penemuan ini terutama ditekankan dalam literatur yoga pasca-klasik. Di salah satu bagian Yoga Shikha-Upanishad disebutkan bahwa di manapun ‘angin’ tinggal di dalam tubuh, di situ tinggal pula kesadaran. Dalam Laghu Yoga Vasistha dinyatakan bahwa pikir digetarkan oleh prana-parispanda (life-force). Teorema besarnya adalah dengan mengendalikan nafas, maka pikir bisa ditaklukkan.

Bhūta
Setiap objek material, baik makhluk hidup, elemental, ataupun roh tataran rendah, bisa ditandai dari elemen pembentuknya. Ada lima kelompok besar elemen (panca-bhūta), yaitu (1) ākāshaatau ether, (2) vāyu atau udara, (3) agni atau api, (4) apas atau air, dan (5) prithivīatau tanah. Pengurutan elemen di atas didasarkan pada tingkat kehalusan unsur pembentuknya; elemen pertama lebih halus daripada elemen ke-dua, elemen ke-2 lebih halus dari elemen ke-3, dan seterusnya. Juga, elemen pertama adalah unsur penyebab atau pembentuk elemen berikutnya. Kelima elemen itu adalah unsur pembentuk keseluruhan kosmos fisik. Elemen-elemen ini adalah objek nyata bagi indra. Semua objek yang terlihat oleh mata, misalnya, terbentuk dari unsur elemen-elemen ini.
Elemen pembentuk objek memungkinkan indra menangkap sensasi dan berhubungan dengan dunia. Dengan telinga kita menangkap sensasi suara yang merupakan gaung yang dihasilkan elemen ether. Indra peraba menangkap sensasi objek melalui elemen udara. Mata menangkap sensasi cahaya yang terbentuk dari unsur elemen api. Indra pencecap menangkap sensasi yang dibawa elemen air, dan hidung akan menangkap sensasi objek yang dibawa oleh elemen tanah.
Kita hidup di dunia objek lima elemen. Alam semesta yang luas ini kita kenali melalui indra. Indra tidak mampu mengenali apa pun selain kelima elemen itu. Organ internal menerima informasi dan pengaruh dari objek, dan terhubung dengan objek dengan cara tertentu. Itulah kehidupan. Reaksi psikologis membentuk kehidupan personal, sementara penyesuaian yang kita lakukan terhadap orang lain akan membentuk kehidupan sosial.
Yoga terutama memberi perhatian pada kehidupan personal dalam relasinya dengan semesta, dan bukan dengan kehidupan sosial, karena dalam lingkungan sosial kepribadian seseorang jarang terungkap. Yoga pada dasarnya adalah studi diri oleh diri. Proses awalnya tampak seperti sangat individual, yaitu pemeriksaan dan realisasi diri (atma-vichara dan atma-sakshatkara). Pemeriksaan diri (atma-vichara) dalam hal ini adalah kesadaran akan integrasi terhadap realitas secara gradual, yang pada akhirnya akan mencakup seluruh pengalaman dan semesta dalam eksistensinya.
Jika kajian psikologi dalam yoga mencakup fungsi-fungsi organ internal, dan kajian fisika meliputi lima elemen objek (mahabhūta), maka kajian filosofis yoga melampaui kedua kajian itu. Yoga meyakini bahwa tubuh, bahkan juga kelima elemen objek, tidak hanya sedemikian. Kita tidak bisa melihat bagian dalam tubuh, juga bagian dalam semesta lima elemen itu. Diperlukan seperangkat indra lain untuk membongkar rahasia yang lebih besar ini. Yoga pada akhirnya akan mengantar kita ke titik itu. Ketika masuk lebih jauh ke dalam tubuh kita akan bertemu akarnya. Demikian pula dengan objek-objek lain di luar diri.
Petualangan ini dimulai dari satu titik konvergen – seperti dua sisi pada sebuah segitiga punya satu sudut sebagai titik konvergen. Dunia luas tempat kita bergerak tidak mengungkapkan kebenaran sejati diri ataupun objek-objek lain. Pada titik konvergen, kita tidak perlu melihat objek, tidak ada indra yang diperlukan, bahkan tidak ada diri dan hal-hal lain. Di titik ini hanya ada satu realitas, yaitu ketika subjek dan objek universal menjadi eksistensi tunggal.
Dalam petualangan ini tidak ada pengalaman atas subjek maupun objek –yang melahirkan pengetahuan akan seluruh kosmos. Dalam perjalanan ini tidak ada objek, karenanya tidak diperlukan indra, pikir, atau intelektualitas. Dalam Yoga hanya ada satu hal, yaitu kesadaran (consciousness).
Yoga, dengan demikian adalah spiritual, suprafisikal, dan supramaterial, karena materialitas ditumpahkan dalam pancapaiannya dan kesadaran menjadi panglima. Inilah objek tertinggi dalam yoga, yaitu ketika individu dan semesta bukan lagi dua entitas yang terpisah, tetapi satu kesatuan. Tujuan yoga adalah mengatasi keterbatasan –baik subjektif maupun objektif– dan menyatukan yang terdalam dalam diri dengan yang terdalam dalam kosmos. (ret)

Bersambung

Selanjutnya: SISTEMATIKA YOGA #2: Realitas Spiritual


Advertisements

Sila beri tanggapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s