DIRI # 1

I. PENDULUAN

Manusia bukan benda padat. Pun personalitas manusia bukan pilar granit. ‘Kepribadianmu’ atau ‘individualitasku’, apapun kita menyebutnya, bukanlah substansi berat seperti batu. Personalitas manusia adalah sebuah gerakan, suatu transisi yang terus-menerus, dan bukan sesuatu yang sekadar ada. Manusia adalah suatu titik gerakan terkonsentrasi.

Suatu gerakan bisa tenang, bisa pula berlarian ke sana ke mari; bisa seperti angin yang berhembus sepoi-sepoi, bisa pula bergolak seperti puting beliung. Personalitas manusia bukanlah gerakan yang kacau-balau dan tak tentu arah, yang bergerak sesukanya. Kepribadian manusia adalah gerakan yang rapi dan terarah kepada maksud tertentu. Dalam kefanaannya ada tatanan, sistem, metode, dan logika tersendiri dalam personalitas. Dan manusia, pada dasarnya, waras dan tidak liar. Jika manusia berhembus seperti angin sepoi-sepoi, sementara personalitasnya bergerak liar ke segala arah, maka manusia akan tercabik-cabik.

Setiap orang, pada dasarnya, tahu bahwa ia punya status dan substansinya sendiri, yang membuatnya merasa bahwa ada metode dalam keberadaannya. Setiap orang punya kenangan masa lalu dan antisipasi masa depan. Kenangan adalah satu aspek penting psikologi manusia, salah satunya, untuk membawa ke titik kesadaran bahwa ada koneksi antara masa lalu dan masa kini. Dalam kefanaan gerak pikiran, ada kesinambungan untuk mengelola dirinya. Tanpa kesinambungan ini, mungkin hanya ada potongan-potongan pikiran, seperti batu bata yang terserak di sana-sini tanpa ada eleman penyemen yang menyatukannya. Setiap saat kita memikirkan suatu hal, dan di setiap saat yang lain kita memikirkan hal lain. Tidak selalu ada kaitan antara pemikiran yang satu dengan pemikiran yang lain. Ada beragam pemikiran muncul dalam benak pada satu waktu, padahal suasana hati dan perasaan, gagasan dan kemauan selalu berubah-ubah, namun ada kesatuan dalam pengelolaannya.

Ada pembedaan ke-diri-an di setiap objek. Semua menganggap dirinya sebagai dirinya sendiri. “Aku adalah diriku, kau adalah dirimu,” begitu kerap kita bilang. Afirmasi atas identitas diri objek tertentu ini adalah ke-diri-an objek itu. Satu objek tidak bisa menjadi objek yang lain. Begitupun, setiap orang punya ketegasan untuk mempertahankan keterpisahan atau isolasi diri sendiri.

Apakah Aku?

Apa yang kita lihat ketika mengamati diri sendiri? Apa yang dirujuk orang ketika bertanya, “Siapakah kamu?” Biasanya, yang dilihatnya adalah wajah tampan dan tubuh atletis. Apakah itu diri?

Apa yang kita lihat ketika mengamati diri sendiri? Apa yang dirujuk orang ketika bertanya, “Siapakah kamu?” Biasanya, yang dilihatnya adalah wajah tampan dan tubuh atletis. Apakah itu diri?

Secara umum, orang menganggap bahwa tubuh adalah diri, karena ‘aku’ yang umumnya dibicarakan orang berasosiasi dengan tubuh. Ini adalah situasi umum pada setiap orang, dan mudah untuk dicermati pada diri kita sendiri. Kita kerap berkata bahwa aku tinggi, aku kurus, aku gemuk, aku kuat.

Di saat yang lain kita menyatakan, “Aku lapar” atau “Aku haus” dengan cara yang berbeda dengan ketika menyatakan bahwa aku marah, aku kesal, aku kecewa. Pernyataan terakhir tidak merujuk kepada tubuh. Juga ketika mengucapkan, “Aku tidur nyenyak,” atau “Aku Tuan A, aku seorang menteri, dan aku orang kaya,” kita merujuk kepada personalitas yang berbeda. Kalau begitu, apakah sesungguhnya manusia itu?

Pernyataan, “Aku Tuan A, aku seorang menteri, dan aku orang kaya,” menegaskan seorang individual dalam konteks relasi sosialnya. Ketika menyatakan bahwa kita bahagia, marah, jengkel, atau dia cerdas, baik hati, dan tidak sombong, kita merujuk pada kondisi ‘di dalam’ dan bukan tubuh fisik.

Dengan demikian, kita merujuk seseorang pada berbagai tingkat pemahaman, meskipun, umumnya, ada kombinasi. Tingkat-tingkat pemahaman adalah lapisan-lapisan personalitas. Dalam pandangan ilmu Psikologi dan Psikoanalisis, manusia adalah lapisan-lapisan psikis. Manusia bukan gumpalan massa pikiran. Manusia adalah lapisan-lapisan vertikal, seperti awan yang terbentuk dari berbagai strata tekanan atmosfer, yang membentuk diri menjadi satu massa tebal. Seperti awan, jiwa terbangun dari strata yang berbeda-beda. Personalitas manusia terbangun dari lapisan-lapisan tertentu, dan pada dasarnya material.

Jika pikiran atau gagasan senyata materi, apakah serta-merta jiwa dapat dianggap sebagai suatu jenis materi? Apakah jiwa adalah suatu substansi? Ya!

Tubuh adalah substansi material, terbangun dari lapisan-lapisan materi, namun bukan merupakan zat padat. Ada lima lapisan personalitas manusia (kosha), yaitu annamaya-kosha (tubuh-fisik), prānamaya-kosha (tubuh-vital), manomaya-kosha (tubuh-mental), vijnānamaya-kosha (tubuh-intelektual), dan ānandamaya-kosha (tubuh-kausal).

Kelima lapisan personalitas itu diklasifikasikan dalam tiga kelompok besar, yaitu Tubuh Kasar, Tubuh Halus, dan Tubuh Kausal. Tubuh Kasar adalah tubuh-fisik, yaitu selubung terluar yang kasat indera. Tubuh Halus terdiri dari tubuh-vital (prānamaya-kosha), tubuh-mental (manomaya-kosha), dan tubuh-intelektual (vijnānamaya-kosha). Tubuh Kausal (ānandamaya-kosha) adalah kesadaran murni.

Tubuh kasar adalah selubung fisik, sementara tubuh halus adalah lapisan psikis. Ketika manusia secara sadar berpikir, biasanya ia membayangkan tidak lain tubuh fisiknya. Padahal sebagian besar dirinya adalah psikologis. Kehidupan manusia lebih mental daripada fisikal. Inilah esensi personalitas manusia.

Tubuh Kasar

Tubuh Kasar tidak lain adalah tubuh fisik. Ini adalah lapisan terluar – suatu massa daging, tulang, sumsum, dan material padat yang kasat indera. Dalam bahasa Sansekerta, tubuh fisik disebut Annamaya Kosha. Anna berarti makanan. Tubuh fisik ada (exist) dan dijaga dengan makanan dan minuman yang kita asup. Jika manusia tidak makan, tubuh fisiknya akan semakin kurus, dan lama-kelamaan mati. Materi fisik mudah aus, karena tidak seperti dinding, tidak ada lapisan plester pada struktur fisik, yang menjaganya dari kerapuhan dan keruntuhan. Setiap hari, orang harus makan. Energi dalam vitalitas makanan adalah sumber kekuatan tubuh fisik.

Tubuh terbentuk dari komponen-komponen esensial yang diperoleh dari orang tua. Esensialitas fisik orang tua yang sangat kecil dan halus adalah sumber tubuh fisik seseorang. Dengan demikian, materi adalah asal-usul tubuh. Setetes daya ini tumbuh semakin tebal, padat, panjang, lebar, tinggi, berat, dan membentuk substansi. Namun, walaupun potensialitasnya sangat tinggi, materi ini tetaplah substansi fisik semata. Itulah Tubuh Kasar.

Selubung fisik pada dasarnya lunglai dan tidak berdaya. Materi tidak memiliki kesadaran. Manusia bisa mati-rasa ketika vitalitas tubuh ditarik. Pada kasus stroke yang melumpuhkan, ada bagian tubuh yang kehilangan kesadaran atau sensasi. Kelumpuhan adalah contoh tentang orang yang memilik tubuh namun tidak memiliki sensasi atas tubuhnya, tidak memiliki kesadaran akan tubuhnya. Pada kasus lain, schizophrenia misalnya, pikir (mind) membagi dirinya menjadi bagian-bagian, dan satu orang ‘membayangkan’ dirinya menjadi dua, tiga, empat orang lainnya.

Tubuh tidak sama dengan kesadaran, walau ada pandangan materialisme yang meyakini bahwa kesadaran adalah pancaran materi. Yang sebenarnya, kesadaran adalah yang menyadari eksistensi tubuh, maka tidak mungkin jika kesadaran adalah dampak dari tubuh. Kesadaran mendului tubuh, seperti sebab mendului akibat. Jika benar bahwa tubuh adalah sumber kesadaran, maka tidak mungkin tubuh menjadi objek pengetahuan seperti yang terjadi hari ini.

Kesadaran tidak bisa didefinisikan dengan tubuh. Dalam kehidupan manusia, eksistensi adalah entitas sadar, bahkan tanpa kesadaran tubuh sekalipun. Misalnya, fenomena bermimpi dan tidur lelap. Pada kedua kondisi itu, tubuh ada, namun kesadaran absen; dan si manusia tidak mati. Jadi manusia bisa ada sebagai entitas sadar dan makhluk hidup, bahkan tanpa koneksi dengan tubuh fisik. Tubuh Kasar atau selubung fisik ini, dengan demikian, bukanlah personalitas manusia yang sesungguhnya.

Tubuh Halus

Di dalam Tubuh Kasar ada tubuh astral atau Tubuh Halus, yang lebih jernih dan ringan daripada tubuh fisik. Dalam bahasa Sansekerta, Tubuh Halus disebut sūkshma-sarira  atau linga-sarira. Linga berarti emblem, lencana, tanda, atau indikasi. Sukshma atau Linga Sarira atau Tubuh Halus adalah penanda si manusia. Sukshma-sarira adalah indikator faktor pembentuk diri manusia, sementara tubuh fisik, atau fitur fisik, atau fisiognomi tubuh adalah ekspresi komposisi internal Tubuh Halus.

Ada sistem kelistrikan dalam materi fisik. Begitu pun dengan Tubuh Halus di dalam Tubuh Fisik. Tubuh Halus adalah daya, yang sampai batas tertentu bisa dibandingkan dengan energi listrik. Tubuh Halus bukan substansi padat. Tubuh Halus atau sukshma sarira adalah esensi personalitas seseorang. Seluruh dirinya, semua yang dipikirkan, direnungkan, dan dilakukannya adalah hasil dari hakikat Tubuh Halus di dalam dirinya.

Sebagaimana tubuh fisik terbentuk dari esensi halus makanan yang diasup orang tua dan makanan yang diasupnya sendiri, begitu pun Tubuh Halus terbangun dari komponen kecil lainnya, seperti Prana, indera, pikir, dan akal. Pembagian lebih jauh masih bisa dilakukan dengan analisis yang lebih mendalam. (ret)

Bersambung

Selanjutnya: DIRI # 2: PRANA

.

.

Advertisements

Sila beri tanggapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s