DIRI # 2

II. Prāna

Apa yang dimaksud dengan prāna? Apa itu kebidupan?

Para ahli biologi menjelaskan bahwa ada sesuatu yang disebut kehidupan yang tidak teridentifikasi dengan materi, walau ada pula pandangan materialis-mekanis yang beranggapan bahwa hidup tidak lain adalah materi. Sejatinya, hidup tidak sama dengan seonggok batu, atau bahkan sesosok tubuh fisik manusia. Orang bisa tetap ada bahkan ketika tidak ada kesadaran akan tubuhnya. Manusia tetap hidup ketika ‘terpisah’ dari tubuhnya. Manusia tetap hidup dan ada ketika sedang bermimpi, tidur lelap, dan ketika sedang berkonsentrasi penuh pada suatu hal tertentu yang tidak terkait dengan tubuhnya. Saat meditasi penuh, manusia tidak menyadari tubuhnya. Materi bukan hidup, dan tubuh adalah objek dari kesadaran. Memang sulit untuk memahami relasi di antara keduanya. Tidak ada yang pernah benar-benar memahami hidup. Inilah daya kehidupan yang disebut prāna-shakti.

Prāna adalah vitalitas, kekuatan hidup, energi organik. Prāna adalah vitalitas protolasmik dan organismik yang memberi energi kehidupan pada manusia.

Kerap prāna diidentikkan dengan nafas. Sesungguhnya prāna adalah bagian-dalam dari nafas. Mari kita bandingkan dengan kerja pandai besi. Seorang pandai besi menerapkan semacam tekanan pada sebuah kantong. Ia memompakan udara ke perapian agar menyala. Udara yang dipompakan bukanlah tekanan itu sendiri. Udara dan tekanan adalah dua hal yang berbeda. Udara bergerak karena tekanan yang diberikan oleh si pandai besi. Kira-kira, seperti itulah relasi antara nafas, yang merupakan bagian-luar, dan energi di dalamnya. Ada tekanan yang diberikan pada udara yang terhela saat menarik dan melepaskan nafas. Proses metabolisme tubuh fisik dikondisikan oleh prāna –pergerakan energi vital dalam diri manusia. Lalu, dari mana energi itu datang? Siapakah sang pandai besi yang telah memompa kantong udara dalam diri kita sehingga udara terkonsentrasi pada api yang hendak dinyalakan?

Sumber Prāna

Energi vital dalam diri manusia adalah jumlah seluruh dayanya. Daya atau kekuatan atau energi penggerak dalam diri manusia adalah prāna. Kekuatan tidak hanya di dapat dari makanan yang diasup. Walau bahan bakar diperlukan untuk pembakaran, namun bahan bakar tidak sama dengan api. Ada perbedaan antara panas, dan penyebab panas. Panas yang diperlukan dalam pembakaran adalah akibat dari tindakan bahan bakar. Begitupun, meski dipercepat, ditekan, dan diperkuat dengan asupan makanan, energi tidak identik dengan daya itu sendiri.

Daya adalah kapasitas impersonal dalam diri manusia. Bagaimana manusia bisa meningkatkan kekuatannya? Tidak semata-mata dengan nasi yang kita asup atau susu yang kita minum. Segelas susu bisa saja dituangkan ke dalam mulut sesosok mayat, namun tidak akan menambah kekuatannya. Ada prinsip lain, yang disebut vitalitas, yang dibutuhkan untuk mencerna makanan yang diasup. Vitalitas, misalnya, membantu kerja obat yang diminum. Tanpa vitalitas, obat hanyalah materi mati belaka, yang tidak akan menyembuhkan apapun. Begitu pula dengan makanan. Makanan itu sendiri tidak menyediakan energi jika tanpa vitalitas di dalamnya. Dari mana datangnya vitalitas itu?

Energi individual berasal dari kosmos. Energi tidak semata-mata didapat dari asupan makanan. Matahari, oksigen, lima elemen (panca-bhūta) di luar diri adalah sumber energi. Seluruh semesta adalah massa energi. Ketika manusia berada dalam kesatuan dengan semesta –dalam proporsi yang selaras dengan kekuatan alam– dalam proporsi itu dan sampai sejauh itu, ia kuat. Jadi, daya bersumber pada kosmos. Daya tidak datang dari aktivitas mekanis lain seperti latihan fisik dan asupan makanan, walau semua itu adalah aksesori. Aksesori tidak identik dengan yang utama. Nenek moyang kita dulu, menjalani laku tertentu untuk meningkatkan kemampuan pikirnya hingga ketinggian identifikasi kosmik dalam segala hal. Mereka tidak akan menginterpretasikan apapun tanpa menghubungkannya dengan semesta. Semesta adalah sumber energi. Semesta adalah dinamo penghasil tenaga sebagai sumber segala pergerakan dan kehidupan.

Fungsi-fungsi Prāna

Prāna adalah sebutan yang umum digunakan untuk energi vital atau energi personalitas. Prāna adalah total kapasitas dalam diri manusia. Prāna punya lima prinsip yang melakukan fungsi yang berbeda-beda.

Kemampuan kita untuk menghembuskan nafas adalah hasil kerja prāna. Daya prāna ketika kita menghembuskan nafas disebut dengan nama yang sama, yaitu prāna. Sementara daya prāna yang memungkinkan kita menarik nafas disebut apāna. Prāna bekerja di tubuh bagian atas –dari cakra jantung (anāhata-cakra) hingga cakra mahkota (sahasrāra-cakra) di kepala. Apāna bekerja di tubuh bagian bawah –dari cakra seks (svādhishthāna-cakra) hingga cakra telapak kaki, sebuah cakra minor– dan bertanggung jawab atas proses ekskresi, baik pembuangan materi limbah maupun pelepasan sperma dan sel telur.

Fungsi prāna yang ke-tiga adalah Vyāna yang bertanggung jawab atas sirkulasi darah. Vyāna adalah fungsi prāna ketika mendorong aliran darah dan menyebabkan kita merasakan sensasi kehidupan di setiap bagian tubuh sebagai dampak aliran darah yang bergerak secara sirkular ke seluruh tubuh secara merata.

Prinsip prāna yang lain adalah Udāna, yang bertanggung jawab untuk menelan makanan. Udāna adalah daya prāna ketika mendorong makanan dari mulut ke kerongkongan dan selanjutnya ke lambung untuk dicerna. Tanpa udāna makanan akan tertinggal di kerongkongan. Udāna juga punya fungsi lain, yaitu membawa kita ke tahap tidur lelap. Udāna mendorong kesadaran ego atau kesadaran individualitas ke tahap somnambulism atau tidur lelap tanpa gangguan mimpi. Pada saat kematian, udāna bertugas memisahkan tubuh vital dan tubuh fisik. Dengan demikian, ada tiga fungsi yang dijalankan oleh udāna.

Fungsi ke-lima energi vital prāna adalah Samāna yang beroperasi di area pusar dan bertanggung jawab atas proses pencernaan makanan. Samāna menciptakan panas di perut dan area pusar sehingga tercipta rasa lapar dan nafsu makan. Selanjutnya, samāna akan mencerna makanan yang masuk ke lambung.

Masih ada fungsi-fungsi minor prāna lainnya, namun uraian di atas cukuplah untuk memberi gambaran bahwa prāna, apāna, vyāna, udāna, dan samāna adalah lima prinsip dalam energi tunggal – bukan lima hal yang berbeda. Semua struktur ini ada di tubuh halus.

Keseimbangan Harmonis Prāna

Prinsip-prinsip prāna ini harus dijaga agar tetap dalam tatanannya, sehingga bisa mengalir melalui sistem syaraf, seperti air mengalir dalam pipa. Ketika terjadi sumbatan pada pipa, air tidak bisa mengalir dengan lancar. Ketika pernafasan tidak lancar, berarti ada gangguan sistem aktivitas prāna. Prāna adalah energi homogen yang mengalir di seluruh sistem tubuh dan tidak terkonsentrasi di satu tempat. Ketika terjadi konsentrasi prāna, orang akan merasakan sakit pada bagian tubuh tertentu. Ketika berjalan terlalu jauh, misalnya, kita merasakan sakit di kaki, karena semua prāna mengalir ke kaki. Ketika terjadi aktivitas berlebih di bagian tubuh tertentu, prāna akan akan mengalir ke bagian itu.

Suatu ketika, prāna bisa tidak terdistribusi dengan baik. Sebab yang utama adalah hasrat (desire). Manusia adalah makhluk yang penuh dengan hasrat. Jika hasrat itu bajik dan harmonis dengan semesta dan lingkungan sekitarnya, maka hasrat tidak membuat gejolak. Tidak ada yang salah dengan hasrat, begitupun, pada akhirnya, tidak ada yang salah dengan segala hal di dunia ini. Semuanya benar ketika masing-masing berada pada tempat yang telah digariskan. Namun, ketika sesuatu diletakkan di luar konteksnya, ketika diletakkan di tempat yang salah, atau atasnya dikenakan kepentingan yang berlebihan, terutama ketika ada cinta dan benci yang kuat, maka prāna akan terlempar keluar dari roda gigi, dan menyisakan ketidakseimbangan distribusi di dalam tubuh dan di alam semesta.

Cinta, tentu saja, adalah baik, dan manusia hidup karena cinta. Namun, bukan berarti bahwa kita harus mencurahkan cinta pada objek tertentu saja. Pengetahuan terendah adalah ketika kita terkonsentrasi pada objek yang terbatas, seolah-olah itu adalah segalanya. Cinta adalah sumber vitalitas, energi, kesehatan, makanan kita. Namun cinta yang ditujukan untuk satu objek adalah bahaya. Di sana, prāna, yang menjadi tidak berguna karena ditujukan ke satu arah saja, akan memotong relasi dengan objek-objek lain.

Kekuatan manusia bersumber pada energi kosmos. Manusia memperoleh kekuatannya dari alam semesta. Ketika manusia tidak terhubung selaras dengan semesta, dan secara tidak harmonis berkonsentrasi pada cinta atau kebenciannya terhadap objek tertentu, berarti ia memisahkan diri dari bagian-bagian lain semesta. Ketika kita memberi penekanan yang berlebih pada satu bagian saja, prāna dan pikir akan bergerak menuju objek dan berdiam di dalamnya, dan kita terisolasi dari objek-objek lain. Pada saat itu, manusia menjadi kawan bagi satu objek sekaligus menjadi musuh bagi objek-objek lain. Ketika ada cinta untuk objek tertentu saja, permusuhan secara otomatis tercipta terhadap objek-objek yang tidak dicintai. Walau dalam kondisi ini biasanya tidak disebut permusuhan, namun ada implikasi psikologis bahwa makhluk tidaklah sederajat, tergantung pada aspek-aspek semesta lainnya. Dan, inilah sumber sakit fisik dan frustrasi mental.

Adalah salah jika mengira bahwa sesuatu diperoleh dengan cinta yang terkonsentrasi pada suatu objek. Ini adalah kerancuan dalam pemahaman. Lalu, mengapa kita mencintai sesuatu dengan berlebihan? Apa yang sesungguhnya terjadi? Yang terjadi sederhana, yaitu salah perhitungan dalam proses kerja pikir. Pikir (mind) mengira bahwa jika cinta dituangkan secara berlebih kepada satu objek, maka objek itu akan memberi kepuasan. Kita selalu mengira bahwa suka cita datang dari hal-hal di luar diri, dari objek-objek inderawi.

Sejatinya, kepuasan tidak melekat pada objek. Suka cita adalah hasil dari harmoni objek-objek. Semakin kita selaras dengan dunia luar secara seimbang, maka kita semakin bahagia. Ketika kita memberi tekanan berlebih terhadap bagian tertentu manapun, maka prāna akan terdistribusi secara salah.

Prāna adalah Tautan antara Pikir dan Tubuh

Prāna adalah tautan (link) antara pikir dan tubuh. Ketika pikiran muncul, segera prāna bergetar dan menghasilkan dampak pada tubuh. Pikiran apapun yang muncul dalam benak, prāna akan memberinya daya dan mengomunikasikannya kepada tubuh. Ketika seseorang menyimpan amarah dalam benak, prāna akan mentransmisikan suasana batiniah ini kepada tubuh dengan segera, dan hati (liver) pun berhenti bekerja. Ia tidak akan merasa lapar hari itu. Kita akan berkata, “Tidak, hari ini aku tidak mau makan! Anakku mati; Ibuku pergi; Aku kehilangan semua hartaku; Aku tidak berdaya; Aku tidak lapar; Aku tidak bisa makan.”

Kesedihan yang muncul dalam benak dikomunikasikan oleh prāna, selayaknya kabel listrik, dan dalam seketika hati, perut, serta semua organ berhenti bekerja. Sebaliknya, ketika sedang bahagia, kita memiliki energi yang luar biasa dan sanggup mengerjakan pekerjaan seberat apapun. Sungguh hebat daya pikiran. Pikir mengomunikasikan impresinya melalui prāna kepada tubuh, dan tubuh terpengaruh dengan simpatiknya. Inilah relasi antara pikir dan tubuh melalui prāna, suatu kumpulan daya yang misterius.

Bersambung

Selanjutnya: DIRI # 3: Tubuh Halus (Habis)

Advertisements

Sila beri tanggapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s