DIRI # 3 – Selesai

III. Tubuh Halus

Esensi Tubuh Halus

Seperti telah diuraikan dalam tulisan sebelumnya, DIRI # 1 dan DIRI # 2, manusia terbangun dari lapisan-lapisan halus personalitas dalam tubuh fisiknya, dan manusia lebih ‘pikir’ daripada ‘tubuh’. Walau manusia tampak seperti sesosok tubuh dan seolah-olah tubuh adalah segalanya, namun kebenarannya adalah sebaliknya. Hidup manusia lebih psikis daripada fisik. Proses pikir adalah proses kehidupan manusia.

Prāna hanya salah satu aspek Tubuh Halus. Ada aspek-aspek lain yang juga penting dan vital, yaitu pemikiran, kemauan, perasaan, intelektualitas, dsb. Tubuh Halus adalah keajaiban besar. Bagaimana pengetahuan muncul dalam benak? Bagaimana orang bisa tahu tentang sesuatu? Apakah pengetahuan diimpor dari luar dan ditanamkan dalam benak sehingga orang bisa tahu hal-hal di luar diri? Ataukah pengetahuan diekspor dari dalam? Di mana pengetahuan berakar? Bagaimana pengetahuan tumbuh? Diskusi tema ini telah berlangsung berabad-abad, dan sampai hari ini kontroversinya masih berlanjut.

Pengetahuan pasti ada di suatu tempat, agar dapat mewujud dalam bentuk pengalaman manusia. Inilah alasannya kita harus masuk sedikit lebih jauh ke dalam Tubuh Halus. Tubuh ini halus karena supra-fisik, tidak dapat disentuh oleh organ inderawi. Tubuh Halus tidak bisa dicengkeram oleh pemikiran biasa, karena berpikir itu sendiri adalah bagian dari kerjanya. Tubuh Halus adalah totalitas personalitas psikis manusia, dan bukan semata-mata pikir, atau akal, atau emosi, atau yang lain. Tubuh Halus adalah total unsur pembentuk manusia. Tubuh Halus adalah penampungan seluruh energi diri, atau, lebih tepatnya adalah diri itu sendiri. Individualitas, personalitas atau karakteristik yang dipertontonkan dalam kehidupan sehari-hari adalah prosesi unsur-unsur pembentuk Tubuh Halus.

Aktivitas psikologis adalah pergerakan Tubuh Halus. Tubuh Halus beroperasi pada tahap bermimpi, juga pada tahap terjaga. Tubuh Halus tidak beroperasi pada tahap tidur lelap. Cahaya jiwa memancar melalui organ inderawi, ini sebabnya manusia memiliki pengetahuan sensorik – persepsi tentang hal-hal di luar diri. Bukan bola mata yang melihat, atau gendang telinga yang mendengar, tetapi energi yang dipompakan dari dalam dengan kecepatan tinggilah yang bertanggung jawab terhadap kecerdasan eksternal yang disebut persepsi atau pengetahuan tentang dunia. Orang didesak maju dengan kekuatan luar biasa yang membentuk Tubuh Halus.

Sebenarnya kata ‘tubuh’ agak kurang pas digunakan pada ‘Tubuh Halus’, karena Tubuh Halus bukan materi padat. Namun, tidak ada kata lain yang lebih pas. Tubuh halus adalah energi-kompleks, medan elektromagnetik, pusat energi, titik tekanan yang berdenyut dengan daya sedemikian rupa yang tidak membiarkan manusia beristirahat. Manusia seolah-olah di dorong ke luar dari dirinya sendiri dan dipaksa untuk menjadi sesuatu yang berbeda. Itu sebabnya manusia begitu bersemangat untuk melihat hal-hal di luar diri, daripada menengok ke dalam.

Semua pikiran dalam benak peduli dengan hal-hal di luar, dan seluruh keterikatan hidup. Boleh dibilang, semua urusan hidup menjadi urusan manusia dengan apapun selain dirinya sendiri. Manusia sibuk dengan hal-hal eksternal, baik dengan manusia lain maupun dengan yang bukan manusia, dan ia diharuskan oleh struktur paling dasar Tubuh Halus untuk melibatkan diri dalam urusan hidup, agar tehubung dengan hal-hal di luar diri, dan menyesuaikan dengan prinsip-prinsip luar. Manusia dalam posisi yang tidak menguntungkan. Ia tidak sehat, jika dilihat dari cara kerja Tubuh Halus. Ia tidak berdaya dan dikendalikan dari luar dirinya, seolah-olah ada iblis duduk dalam dirinya, dan tidak membiarkannya memikirkan dari mana energi ini muncul. Sehingga, tidak seorangpun memikirkan dirinya sendiri; tidak mungkin sempat untuk melakukan itu, bahkan tidak punya kapasitas untuk melakukannya. Seluruh aktivitas kehidupan, dari pagi hingga malam, adalah dorongan seluruh energi dari dalam diri, dan dituangkan kepada sesuatu yang lain, seolah seluruh dunia terdiri dari segala hal kecuali dirinya. Ini terjadi karena sifat Tubuh Halus yang paling mendasar. Tubuh Halus seperti mesin pompa yang melepaskan energi secara eksternal dan mengeksternalkan seluruh personalitas, sedemikian rupa, sehingga manusia terdorong ke luar, terus-menerus, dari hari ke hari. Seluruh kehidupan manusia bisa dibilang adalah gerakan pasrah dengan tujuan yang ditorehkan oleh intensi Tubuh Halus.

Tubuh Halus adalah sumber energi yang tidak terbatas, pompa yang tidak pernah lelah bekerja, tidak ada habisnya, mungkin, bahkan ketika manusianya mati. Tubuh Halus terus berlanjut, dan akan terus berlanjut selama tujuannya belum terpenuhi. Suatu aktivitas bengis dan tidak tertahankan terjadi di Tubuh Halus, yang dipenuhi gelora, dan gelora keinginannya adalah alasan kecepatan aksinya.

Organisasi Hasrat

Daya, yang bekerja bersama Tubuh Halus, proporsional dengan hasrat (desire) yang membentuknya. Tubuh Halus tiada lain adalah tumpukan hasrat. Pernyataan ini sangat dekat dengan pandangan para psikoanalis yang meyakini bahwa keseluruhan personalitas (kepribadian) manusia adalah dorongan hasrat; bisa segepok, bisa pula satu hasrat. Mungkin ada kebenaran di dalamnya.

Manusia memiliki berbagai macam dorongan, dan setiap dorongan berbeda satu dengan lainnya. Namun, pada prinsipnya, semua adalah kosenkuensi dari dorongan utama – satu bentuk sifat keseluruhan hasrat manusia, yang memiliki bentuk yang berbeda-beda, seperi seseorang memiliki perilaku yang berbeda dalam hidupnya sesuai dengan tuntutan waktu. Ia tampil berbeda pada jam yang berbeda pada hari yang sama, menyesuaikan dengan kebutuhan atau urgensi kesempatan tertentu. Tapi ia bukan orang yang berbeda; ia orang yang sama. Manusia menunjukkan sebagian kecil dari personalitasnya dengan perilaku tertentu atau pada suasana hati tertentu. Demikian juga dengan dorongan, hasrat, dan desakan, masing-masing bersegi-segi seperti intan, masing-masing seginya merefleksikan segi yang lain, dan setiap seginya memberi andil dalam membentuk daya tunggal. Tekanan hasrat yang spatio-temporal dan berujung runcing inilah yang dikenal sebagai individualitas.

Manusia adalah individual karena ia mampu terisolasi dari sesamanya. Pemisahan diri dari titik asersi diri yang lain ini dikelola oleh afirmasi salah satu jenis hasrat. Hasrat seseorang terbangun sedemikian hingga tidak teridentifikasi oleh hasrat lain, untuk alasannya sendiri, dan, dengan demikian, mausia mempertahankan individualitasnya. Jika tidak, orang akan sama dengan yang lain, dan tidak ada perbedaan personalitas satu dengan lainnya. Kedalaman afirmasi karakter individual ini tergantung intensitas hasrat.

Hasrat Dasar Manusia

Ada dua hasrat dalam diri manusia, sebagaimana yang kerap disebut dalam ilmu psikologi, yaitu hasrat untuk mempertahankan diri, dan hasrat untuk melestarikan diri. Hasrat untuk mempertahankan diri memiliki karakter ganda. Hasrat ini mewujud sebagai afirmasi tubuh, dan afirmasi psikis. Bukan hanya tubuh (body) yang harus mendapat afirmasi tetapi juga pikir (mind). Dengan demikian, hasrat dapat dibedah lebih jauh menjadi tiga wujud, yaitu melestarikan diri, dan mempertahankan diri dengan dua karakternya, fisik dan psikis.

Biasanya, manusia mencintai tubuhnya, dan tidak ingin melepaskannya. Mempertahankan diri, biasanya, diartikan sebagai mempertahankan tubuh, menjaganya agar tetap utuh. Namun hasrat egois untuk mempertahankan tubuh tidaklah cukup. Orang juga punya kecenderungan untuk mempertahankan identitas psikis. Ini alasannya orang mengejar nama, ketenaran, otoritas, dominasi spirit atas orang lain, dll, yang, kadang, menyita proporsi yang luar biasa dalam hidupnya, menggeser bahkan hasrat untuk mempertahankan tubuh. Orang rela menanggalkan tubuhnya demi nama! Orang rela menjadi martir secara politis atau secara religius demi gagasan di kepalanya, dan gagasan itu menjadi begitu kuat sehingga menenggelamkan arti pentingnya tubuh fisik. Orang rela membakar tubuhnya demi gagasan di benaknya yang hanya ia sendiri yang tahu. Begitu dahsyatnya kekuatan hasrat untuk mempertahankan identitas psikis! Ini adalah situasi yang luar biasa. Ini adalah hasrat untuk selalu ada. Ini adalah hasrat untuk ada, dan kemudian selalu ada.

Para ahli metafisika menjelaskan bahwa dorongan berhubungan dengan ruang dan waktu. Orang mungkin merasa takut terbawa aliran waktu yang mengalir bagai sungai yang meluap. Ia selalu merasa cemas bahwa tidak mudah untuk mempertahankan identitas dirinya sendiri. Maka ia berusaha untuk mempertahankannya dengan segala cara yang bisa dilakukannya. Manusia terus-menerus dicekam rasa takut kehilangan dirinya di tengah massa masyarakat atau dalam aliran proses waktu. Waktu membunuh setiap orang dan apapun juga. Waktu menghancurkan semua makhluk dan menelan semua ciptaan.

Dalam bahasa Sansekerta, ‘waktu’ disebut kalā yang memiliki dua arti. Kalā berarti waktu, tapi juga berarti penghancur. Dewa Kematian juga disebut Kalā. Waktu adalah Dewa Kematian yang tidak menghendaki identitas diri apapun berkelanjutan. Setiap saat orang harus berubah. Kecemasan manusia untuk mempertahankan diri diabaikan oleh dorongan waktu. Waktu tidak peduli akan hasrat manusia untuk mempertahankan kesendiriannya. Waktu menelan seseorang pada suatu hari atau pada kesempatan lain. Manusia tahu itu dengan baik, dan berupaya untuk menggagalkannya. Tapi waktu selalu berhasil, dan manusia kalah! Tubuh berubah setiap menit. Pikir juga tunduk pada perubahan yang sama. Akibatnya, asersi diri menggelora. Manusia berperang melawan waktu, dan berusaha menegaskan diri dan melestarikan diri. Ini karena ada hasrat yang begitu besar dalam diri manusia untuk terus ada.

Ada aspek lain dalam hasrat untuk ada (exist), yang mewujud menjadi kehendak untuk memperluas dimensi personalitas fisik. Walau manusia ditakdirkan untuk berkelanjutan, ia tidak ingin berkelanjutan sebagai makhluk lain di dunia ini. Ada keinginan lain yang berbeda sama sekali, yang adalah dampak dari pengaruh ruang. Manusia punya hasrat untuk menimbun sesuatu. Manusia serakah akan kekayaan dan harta, serakah untuk meraup sebanyak-banyaknya dari dunia di luar, untuk menjadi kaya secara material. Lebih jelasnya, manusia tidak ingin hidup lama sebagai orang miskin atau individu yang tidak diinginkan di dunia. Manusia tidak ingin melestarikan keberadaannya sebagai individu tidak berdaya, kurus kering secara fisik maupun psikis. Manusia mendambakan untuk menjadi individualitas yang kuat dan terawat baik. Ada hasrat akan kekayaan, yang termasuk juga setiap bentuk penimbunan materi. Hasrat untuk menjadi raja ada dalam diri para penguasa. Raja punya hasrat untuk memperluas kerajaannya. Ia menyerang kerajaan lain dan memasukkan wilayah jajahan menjadi wilayah kerajaannya. Hasrat untuk meraup kekayaan, dan memiliki sebanyak mungkin, dalam bentuk apapun yang dimungkinkan di dunia ini, adalah dorongan dari dalam diri untuk memperluas dimensi individualitas.

Individualitas bukanlah eksistensi sejati manusia. Individualitas adalah bentuk semu eksistensi, dan selalu berupaya untuk membalikkan situasi ini. Individualitas merasuk untuk memperluas diri secara spasial, diiringi hasrat untuk melestarikan diri secara temporal, juga. Maka, manusia menjalani kehidupan hasrat, tidak habisnya meminta lebih banyak dan lebih banyak lagi di dunia ini – lebih banyak kawan, lebih banyak relasi, lebih banyak rumah, lebih banyak tanah, lebih banyak uang, dan lebih banyak kontak dengan dunia, sehingga ia bisa menjadi sebesar dunia itu sendiri, jika mungkin. Manusia ingin pergi Bulan, dan Mars, dan semua tempat di sistem tata surya, dan menjadi sama besar dengan alam semesta itu sendiri. Jika bisa sebesar semesta raya, mengapa harus terkungkung di ruang kecil individual? Hasrat manusia untuk memperluas diri secara horisontal mencoba untuk mencapai ukuran fisik kosmos, dan secara vertikal berusaha untuk menentang waktu.

Hasrat ini belum pernah berhasil. Tidak seorangpun dalam sejarah berhasil mewujudkan hasrat ini. Tidak ada orang bisa menjadi sekaya yang diinginkannya, dan tidak ada orang yang bisa memahami ini. Dunia belum pernah menjadi milik individual siapapun hingga saat ini. Dunia selalu luput dari jangkauan siapapun; siapapun yang mencoba untuk mengendalikan, menguasai, dan memiliki dunia pada akhirnya terdepak dan hancur. Manusia pergi dengan kecewa. Ini adalah kisah manusia.

Meskipun benar bahwa ada hasrat untuk melestarikan diri, namun ada pula kecurigaan bahwa hasrat itu sesungguhnya tidak bisa terpenuhi. Sekali lagi, ada kontradiksi di dalam jiwa. Setiap orang tahu bahwa hasrat ini tidak akan terpenuhi, karena manusia tidak bisa masuk lebih dalam. Semua orang paham dengan baik bahwa manusia tidak bisa memiliki apapun di dunia ini; semua orang tahu bahwa manusia tidak bisa lestari dari waktu. Tapi semua orang tetap berkeras dengan hasratnya kendati menyadari konsekuensinya. Terlepas dari pengetahuan bahwa tidak ada orang yang bisa sekaya Tuan segala ciptaan, terlepas dari pemahaman bahwa tidak seorangpun bisa lestari dalam proses waktu, setiap orang melawan! Bagaimana perlawanannya? Dengan cara yang sangat semu. Sangat kekanak-kanakan. Manusia secara membabi buta mencoba menipu diri sendiri dengan menggiringnya kepada keyakinan bahwa hasrat itu mungkin terpenuhi. Namun, jika penipuan ini tidak merasuki seorangpun, maka tidak ada yang hidup di sini bahkan selama tiga hari penuh. Penipuan diri yang terus-menerus ini justru membuat orang bertahan, sehat, dan bahagia di dunia ini.

Bukanlah omong kosong ketika kita mendengar, “Ketidaktahuan adalah kebahagiaan.” Mungkin memang begitu. Perjuangan manusia untuk menimbun harta dalam segala bentuknya, walau disertai dengan pemahaman bahwa harta itu tidak akan abadi, adalah salah satu aspek bekerjanya pesonalitas fisik. Cara lain adalah memalsukan satu bagian individual untuk melestarikan diri melalui reproduksi diri. Kekekalan (eternity) bekerja dengan satu cara, dan ke-tidak-berhinggaan (infinity) bekerja dengan cara yang lain. Karakter ke-tidak-berhinggaan adalah alasan di balik kesukaan orang untuk melebarkan dimensi personalitasnya. Dan karakter keabadian adalah alasan orang untuk melestarikan diri melalui reproduksi. Infinity dan eternity, yang merupakan karakteristik Realitas Tertinggi, mendesak orang untuk menjadi kaya secara material, meraup sebanyak mungkin, mencoba berkuasa seperti Napoleon atau Alexander, dan untuk mereproduksi dirinya, dalam spesiesnya sendiri, dalam kondisinya sendiri, dengan bentuknya sendiri – suatu dorongan yang tidak tertolakkan. Siapa bisa menolak kekekalan? Siapa bisa menolak ketidakberhinggaan?

Ini adalah gambaran tentang Tubuh Halus dan cara bekerjanya. Betapa bodohnya manusia! Namun, kebodohan itu disebabkan oleh makna besar di balik kehidupan itu sendiri. Signifikansi luar biasa yang mendasari semua kehidupan, tercermin dengan sangat lucunya, dalam semua hasrat yang mewujud dalam diri dengan cara melestarikan diri secara fisik dan psikis. Tema-tema ini dipelajari selama bertahun-tahun oleh para pemikir. Di Barat, mereka sampai pada titik yang mereka sebut lapisan tidak sadar (unconscious level). Manusia dibedah menjadi tiga lapisan, yaitu sadar (conscious), bawah sadar (subconscious), dan tidak sadar (unconscious). Tapi manusia bukan hanya tiga bagian itu; manusia adalah sesuatu yang lebih. Mulai sekarang, kita punya gagasan tentang sifat cara kerja Tubuh Halus. Jadi, makhluk apakah sesungguhnya manusia itu? (ret)

SELESAI

Advertisements

Sila beri tanggapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s