A

ABHINIVESHA

kb: keinginan untuk hidup Salah satu dari lima penyebab penderitaan (klesha), menurut yoga klasik. Patanjali dalam Yoga-Sūtra (2.9) menyatakan: “Dambaan untuk hidup yang mengalir secara alamiah berakar bahkan dalam diri para bijak.” Abhinivesa muncul dari kebodohan spiritual (avidyā), ketika seseorang salah mengidentifikasikan diri dengan tubuh dan tunduk kepada naluri untuk bertahan hidup.

AGNI

kb: dewa api Dipahami sebagai dewa utama di agama Veda kuno. Agni terkait erat dengan ritual pengorbanan. Simbolisme Agni terbuka untuk banyak interpretasi, termasuk kaitannya dengan ‘kekuatan ular’ (kundalinī-shakti) pada beberapa konteks.

AHAMKĀRA

kb: 1 ego; 2 ke-aku-an; 3 prinsip individuasi Dalam filsafat Sāmkhya dianggap sebagai salah satu dari delapan delapan transformasi primer (vikriti) alam. Secara dangkal, ahamkāra kerap digunakan untuk merujuk ilusi ego, yaitu sensasi tubuh-pikir tertentu, kepemilikan properti tertentu (perasaan saya, ide-ide saya, anak-anak saya, dll), dan menjadi aktor yang melakukan tindakan. Semua tradisi spiritual sepakat bahwa sensasi ego harus dilampaui. Makna yang lebih mendalam adalah perubahan radikal dalam sensasi diri, yaitu dari identitas diri menuju ke identitas Diri – dari ahamkāra ke ātman.

ĀHĀRA

har: makanan kb: 1 objek indera; 2 apapun yang diasup oleh indera. Āhāra adalah asupan indera, dan bukan hanya makanan yang kita kunyah melalui mulut. Semua objek yang disuapkan kepada indera adalah makanan bagi indera. Sementara kita harus menjalani pola makan murni, yaitu pola makan yang bersifat sattva atau sattvic diet, kita juga harus melihat hal-hal sattvic melalui mata, mendengar kata-kata sattvic melalui telinga, berbicara kata-kata sattvic melalui mulut, dan menyentuh dan membau hanya hal-hal sattvic. Kelima indera harus terhubung hanya dengan objek sattvic. Itulah āhāra shuddhi. Ketika ada āhāra shuddhi, maka ada peningkatan luminositas karakter. Ketika sattva dalam diri meningkat, kekuatan memori, daya konsentrasi, dan meditasi juga menjadi lebih intensif; ikatan-ikatan hati akan terlepas. Kita terbebaskan.

AHIMSĀ

kb: sumpah untuk tidak menyakiti Sering diterjemahkan sebagai ‘tidak melakukan kekerasan’ yang mencakup pemahaman yang lebih fundamental. Patanjali memasukkannya sebagai salah satu dari lima ketaatan moral (yama), yang membentuk ‘sumpah besar’ (mahā-vrāta), yang harus dijalankan dalam kondisi apapun. Otoritas lain memasukkannya dalam lima prinsip ‘pengendalian diri’ (niyama). Ahimsā secara umum didefinisikan sebagai praktek tidak menyakiti orang lain secara fisik, mental, dan verbal kapanpun. Mahatma Gandhi, dalam upayanya mendudukkan ahimsā sebagai praktik moral dan politik yang layak, mengartikulasikan tradisi Hinduisme kuno, walau pendekatan radikalnya bukan karakteristik semua ajaran Hindu. Misalnya, Brāmanisme memungkinkan penyembelihan hewan untuk tujuan kurban (yajna). Juga, ajaran Bhagavad-Gitā disampaikan dengan latar belakang salah satu perang besar India kuno. Di dalamnya ada nasihat Krishna kepada Arjuna untuk berpartisipasi dalam perang daripada merasa sedih karena harus membunuh saudara dan mantan gurunya. Karena nuansa militeristik ini, Bhagavad-Gitā lebih sering ditafsirkan sebagai kiasan perjuangan batin manusia.

AJAPA – MANTRA

har: mantra yang tidak terucapkan kb: suara ‘hamsa‘, yang terus-menerus dihasilkan oleh tubuh sebagai akibat dari proses pernafasan. Suku kata ‘ham‘ berhubungan dengan inhalasi (menarik nafas), dan ‘sa‘dengan ekshalasi (melepas nafas). Suara ini otomatis ‘diucapkan’ dalam tubuh manusia sebanyak 21.600 kali dalam sehari. Dianjurkan untuk mengucapkan suara potensial (mantra) ini secara sadar dan bahkan melipatkan gandakan jumlahnya dalam rangka mempengaruhi keadaan pemuliaan (unmanī). Secara esoteris suara hamsa-hamsa-hamsa yang terus menerus juga terdengar sebagai so’ham-so’ham-so’ham, yang berarti, “Akulah Dia, Akulah Dia, Akulah Dia,” yang berarti,”Akulah Sang Diri Sejati.”

ĀJNĀ – CAKRA

Kb: 1 Cakra Mata Ke-tiga; 2 guru-cakra Cakra ke-enam dari tujuh pusat energi utama (cakra) yang terletak di tengah dahi, tepat di antara kedua alis. Disebut ‘mata ke-tiga’ karena cakra ājnā adalah penerima komunikasi telepati dari guru kepada murid. Secara grafis digambarkan sebagai teratai berkelopak dua berwarna abu-abu atau putih. Cakra ājnā adalah representasi simbolis dari falus (lingga) – sebagai simbol kreativitas maskulin, atau shiva – terletak dalam segitiga terbalik, yaitu simbol prinsip feminin, atau shakti. Cakra ini terhubung dengan sensasi individualitas (ahamkāra), pikir tataran rendah (manas), dan kata suci om. Di sini bersemayam Parama-Shiva (Shiva Yang Agung) dan Dewi Hākinī. Ini adalah perhentian terakhir bagi ‘kekuatan ular’ (kundalinī-shakti) dalam pendakiannya sepanjang sumbu tulang belakang. Aktivasi cakra ini mengantar kepada semua jenis kekuatan batin (siddhi), terutama clairvoyance dan kemampuan untuk berkomunikasi secara telepati.

AJNĀNA

kb: 1 kebodohan; 2 ketidaktahuan

Sinonim untuk avidyā. Ajnāna menandakan kebutaan spiritual, sebagai hasil pengalaman kita sebagai tubuh-pikir terindividuasi yang mengenal sakit fisik (duhkha), siksaan psikis, dan yang dibatasi takdir usia dan kematian. Ini adalah kebalikan dari kebijaksanaan spiritual (jnāna, vidyā), yang kondusif untuk pengetahuan diri sejati dan, pada akhirnya, realisasi Diri.

 ĀNANDA

(adj) 1 sukacita; 2 kebahagiaan transendental

Hatha-Yoga-Pradīpikā (4:75) membedakan antara ‘kebahagiaan’ sebagai kondisi mental (citta-ānanda) dan sebagai kesenangan wajar (sahaja-ānanda) yang berkaitan dengan Sang Mutlak. Dalam Yoga Klasik, terminologi ini merujuk kepada salah satu fenomena yang menyertai ekstase sadar (samprajnāta-samādhi). Ajaran Shivaisme Kashmiri membedakan tujuh tingkat pengalaman kebahagiaan: (1) nijānanda (nija-ānanda, ‘kebahagiaan bawaan’), pengalaman kebahagiaan subjektif yang berbeda dari dunia objektif, (2) nirānanda, pengalaman kebahagiaan di alam objektif, hasil dari mengalirnya energi vital (prāna) ke mahkota kepala, dvādahsa-anta, (3) parānanda (para-ānanda, ‘kebahagiaan tertinggi’), realisasi Diri Sejati bercampur dengan penyerapan kandungan objektif, akibat mengalirnya prāna dari kepala ke jantung dan menjadi apāna; (4) brahmānanda (brahma-ānanda, ‘kebahagiaan brahmais’), ketika kandungan objektif terserap secara bersamaan, akibat konversi prāna menjadi samāna di jantung; (5) mahānanda (mahā-ānanda, ‘kebahagiaan agung’), yang sama sekali tidak memiliki kandungan objektif, hasil dari gerak naik prāna dalam bentuk udāna; (6) cid-ānanda (kebahagiaan sadar), realisasi Diri Sejati sebagai subjek, objek, dan aparatus pengetahuan, hasil dari konversi udāna menjadi aliran vyāna di saluran pusat atau sushumnā-nādī; dan (7) jagad-ānanda (kebahagiaan dunia), realisasi Diri Sejati yang identik dengan tubuh dan dunia.

ĀNANDAMAYA – KOSHA

kb: 1 tubuh kausal Adalah selubung tertinggi atau terhalus dari lima selubung (kosha) yang menyelimuti Diri Transendental. Substansinya adalah kebahagiaan (ānanda). Kadang-kadang diidentifikasikan sebagai Diri yang sejati.

ANGA

Kb: 1 tubuh; 2 anggota tubuh; 3 genital laki-laki; 4 tahap Dalam konteks yoga, merujuk kategori atau tahap atau tapak yang harus dilakukan dalam praktek jalan-yoga. Setidaknya ada empat tahap umum yang didapati di semua kategori jalan-yoga yang dikenal, yaitu: postur (āsana), pengendalian nafas (prāna-samodha), meditasi (dhyāna), dan ekstase (samādhi). Tradisi yang paling terkenal adalah yoga delapan tapak, atau ashta-anga-yoga yang diajarkan oleh Patanjali. Pendekatan lain yang juga cukup dikenal adalah yoga enam tapak (shad-anga-yoga) yang diajarkan, misalnya, dalam Maitrāyanīya-Upanishad (6.18). Juga ada tujuh disiplin (sapta-sādhana) dan yoga 15 tapak (panca-dasha-anga-yoga). Dalam Yoga Klasik ada pembedaan antara ‘tapak luar’ (bahir-anga) dan ‘tapak dalam’ (antar-anga) yang terdiri dari praktek mental yang lebih tinggi.

ANNAMAYA – KOSHA

har: lapisan tubuh yang terbentuk dari makanan kb: 1 tubuh fisik; 2 tubuh kasar Annamaya-Kosha adalah tubuh fisik yang kasat indera, yaitu selubung terendah atau terkasar dari lima selubung (kosha) yang menyelimuti Diri Transendental, menurut doktrin Vedānta kuno.

ANTAHKARANA

har: 1 instrumen internal; 2 empat lapisan pikir, yaitu pikir, kecerdasan, ego, dan lapisan pikir bawah sadar. kb: 1 jiwa Sebuah terminologi yang ditemukan dalam teks Sāmkhya, Yoga, dan Vedanta. Antahkarana terdiri dari kecerdasan (intellect), ego (ahamkāra), pikir sadar (conscious mind), dan pikir bawah sadar (subconscious mind). Dalam yoga klasik digunakan terminologi citta.

APARIGRAHA

prinsip tidak serakah Salah satu dari lima disiplin moral (yama) dalam yoga klasik. Ketika dipraktekkan dengan sempurna asparigraha akan sampai kepada pengetahuan tentang ‘alasan’ kelahiran seseorang, sebagaimana dijabarkan dalam Yoga-Sūtra. Yama ini telah melahirkan mazhab yang mendukung penolakan hal-hal duniawi secara radikal. Namun, otoritas lain, seperti Bhāgavata Purāna, mendukung interpretasi minimalis asparigraha sebagai ‘memiliki [hanya] sebanyak yang diperlukan.’

ASAMPRAJNĀTA – SAMĀDHI

1 ekstase supra-sadar (adj); 2 teknik untuk menuju kepada keadaan ekstase supra-sadar (v) Ekstase supra-sadar adalah keadaan superlatif ketika kesadaran menyatu melampaui konten kognitif. Dalam kondisi ini, subjek dan objek menjadi satu. Dalam Vedānta, keadaan ini dikenal sebagai ‘ekstase tanpa bentuk’ (nirvikalpa-samādhi). Keadaan ini mengandaikan dekonstruksi sementara kesadaran biasa (citta), dan hanya menyisakan kecenderungan bawah sadar (samskāra). Jika keadaan ekstase supra-sadar dipertahankan untuk jangka waktu lama, kecenderungan-kecenderungan bawah sadar akan saling menetralisasikan satu sama lain, yang mengantar kepada pembebasan akhir dan tetap – pencerahan (enlightenment). Pada tahap awal, bagaimanapun, ekstase supra-sadar hanya dapat dilakukan untuk durasi yang singkat karena ‘aktivator’ bawah sadar (samskāra) yang kuat menyebabkan keadaan sadar cenderung untuk menegaskan diri kembali. Namun, periode restriksi (nirodha) konten kesadaran semakin lama akan semakin panjang sampai endapan bawah sadar (āshaya) benar-benar hilang. Pada titik ini ekstase ultra-sadar disebut ‘tanpa dasar’ (nir-bīja)

ĀSHAYA

(n1 tempat persemayaman (har); 2 kandungan; 3 residu Dalam Yoga Klasik, āshaya diartikan sebagai ‘kandungan [alam] bawah sadar’. Āshaya juga digunakan untuk menyebut ‘residu tindakan ‘ (karma-āshaya), yaitu jaringan penggerak (samskāra) subliminal yang membentuk struktur memori bawah sadar atau memori dalam (smriti). Residu tindakan ini bertanggung-jawab atas kelahiran seseorang, rentang hidup, dan pengalaman hidup. Kondisi ini harus terlampaui agar pencerahan bisa terwujud.

ASMITĀ

kb: ke-aku-an Kesadaran diri sebagai makhluk tersendiri; salah satu dari lima penyebab kesengsaraan (klesha). Yoga-Sūtra mendefinisikannya sebagai identifikasi kekuatan visi (yaitu, pikiran) dengan kekuatan visioner (yaitu, Diri). Ke-aku-an adalah salah satu fenomena dasar yang hadir pada keadaan ekstase sadar (samprajnāta-samādhi).

ASTEYA

Prinsip tidak mencuri Salah satu praktek ketaatan moral (yama). Yoga-Sūtra secara simbolis menyatakan bahwa ketika kebajikan ini dipraktekkan dengan sempurna, akan menghasilkan segala macam permata (ratna). Asteya tidak semata tindakan fisik, tetapi juga meliputi keinginan untuk memiliki sesuatu yang bukan milik diri. Asteya adalah prinsip untuk tidak mengingini milik orang lain secara fisik, mental, dan lisan. (Sila baca juga artikel YAMA # 3: Asteya)

ATMADARSHANA (ĀTMA-DARSHANA)

kb: visi diri sering digunakan sebagai sinonim realisasi Diri atau pencerahan. Menurut Yoga-Sūtra (2.41) ātma-darshana menandakan munculnya Diri Transendental di cakrawala kesadaran dalam moda ekstase tertinggi (samādhi).

ĀTMAN

(n) 1 Diri; 2 diri Karena bahasa Sansekerta tidak memiliki huruf kapital, maka hanya konteks yang bisa digunakan untuk menentukan makna kata ātman sebagai ‘diri empiris’ atau ‘ego personalitas’ (jīva, atau jīva-ātman), atau sebagai ‘Diri Transendental’… Lebih lanjut lihatAtman 

AUM – KĀRA

(n) huruf aum lihat: Om

AVIDYĀ

kb: 1 ketidaktahuan; 2 kebodohan spiritual Avidyā adalah salah satu dari lima pokok penyebab penderitaan (klesha) yang mengikat manusia dengan siklus kelahiran dan kelahiran kembali yang tak berujung (samsāra). Yoga-Sutra (2,5) mendefinisikannya sebagai ‘melihat Diri yang abadi, murni, dan menyenangkan, sebagai sesuatu yang fana, tidak murni, penuh kesedihan, dan bukan Diri’. Ketidaktahuan bukan semata tidak adanya pengetahuan tetapi termasuk juga kesalahpahaman positif tentang realitas, seperti musuh bukan semata kondisi tidak hadirnya kawan, tetapi juga berarti lawan. ————————————————————— Catatan: 1. Singkatan:      har = makna harfiah kb = kata benda kk = kata kerja ks: kata sifat ungk = ungkapan 2. Sumber:  Feuerstein, Georg. 2011. The Encyclopedia of Yoga and Tantra. Boston: Shambala Publications. . .

Advertisements

Sila beri tanggapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s