C – D

CITTA

kb: 1 pikir (mind); 2 lapisan pikir bawah sadar (subconscious mind); 3 kesadaran
Bentuk past participle dari akar kata cit (menjadi sadar), salah satu konsep kunci dalam Yoga Klasik. Meskipun istilah ini tidak secara eksplisit didefinisikan oleh Patanjali, namun maknanya dapat dipastikan dari peristiwa-peristiwa dalam karyanya.

Citta adalah bagian dari kosmos mengindera (prakriti), meskipun tidak diperlakukan sebagai kategori terpisah (tattva). Kata tersebut lebih banyak digunakan sebagai terminologi payung untuk berbagai proses batiniah, terutama kapasitas atensi. Sebabai produk Kesadaran Transendental (citti) dan obyek yang dirasakan, citta ‘diwarnai’ oleh keduanya. Ada ada banyak kesadaran seperti itu, dan dalam Yoga-Sūtra (4.15) Patanjali secara khusus menolak pandangan idealis tentang kesadaran tunggal.

Citta diyakini diliputi ‘aktivator subliminal’ (samskāra) yang tidak terhitung jumlahnya, yang berpadu ke dalam sesuatu yang disebut ‘karakter’ (vāsanā); dan bertanggung jawab atas produksi berbagai fenomena psiko-mental, khususnya lima ‘gejolak mental’ (vritti). Dalam Yoga-Sūtra (4.24), dinyatakan bahwa citta pada akhirnya diarahkan untuk pembebasan diri. Setelah realisasi Diri, kesadaran (yang merupakan fenomena material) lebur karena realisasi Diri mengandaikan ‘involusi’ (pratiprasava) ‘kualitas’ (guna) dari prakriti. Seperti semua aspek kosmos pengindera lainnya, kesadaran mengalami perubahan terus-menerus, dan dari sudut pandang yoga, modifikasi yang paling penting adalah lima ‘gejolak mental’ (vritti): kognisi akurat, pengetahuan yang salah, konseptualisasi, tidur, dan kenangan. Semua itu harus dihentikan untuk aktualisasi tahap kesadaran yang lebih tinggi.

Citta tidak terkait dengan ukuran tubuh (yang merupakan pandangan Sāmkhya), namun benar-benar meliputi segala sesuatu. Citta juga bukan sekadar ‘pusaran’ mental (vritti) yang bisa mengembang dan mengerut. Vācaspati Mishra menyampaikan perbedaan antara ‘kesadaran kausal’ (kārana-citta) dan ‘kesadaran dipengaruhi (kārya-citta).

Untuk menjelaskan proses kognitif, berbagai metafora digunakan sebagai bahan kajian. Yoga-Bhāshya (1.4), misalnya, membandingkan kesadaran dengan sebuah magnet yang menarik benda-benda, dan pada bagian lain (1.41) membandingkannya dengan kristal yang merefleksikan warna dari objek di dekatnya. Tattva-Vaishāradī (1.7) juga mengungkapkan kesadaran sebagai cermin yang merefleksikan ‘cahaya’ Diri (chāyā).

Di luar lingkup Yoga Klasik, terminologi citta biasanya digunakan untuk merujuk ‘pikir’ secara umum. Pemahamn ini secara teknis, kurang tepat. Kecenderungan ini sudah muncul dalam komentar atas Yoga-Sūtra, ketika citta sering disamakan dengan buddhi.

Salah satu penemuan paling luar biasa dari para yogi adalah hubungan istimewa antara kesadaran dan nafas (prāna). Penemuan ini terutama ditekankan dalam literatur Yoga Pasca-klasik. Misalnya, Yoga-Shikhā-Upanishad (1.59) mengandaikan pikir sebagai burung yang diikat dengan kabel energi kehidupan (prāna). Pada bagian lain (6.69) teks ini menyatakan bahwa di manapun ‘angin’ (yaitu, energi kehidupan) berada di dalam tubuh, di sana juga bersemayam kesadaran. Dalam Laghu-Yoga-Vāsishtha (5.9.73), pikir didefinisikan sebagai ‘getaran energi kehidupan’ (prāna-parispanda). Teorema besarnya adalah bahwa dengan mengendalikan nafas, pikir dapat ditaklukkan.

DESHA

kb: 1 tempat; 2 lokasi; 3 lokus
Selain menunjuk lingkungan yang sesuai untuk latihan yoga, desha juga merujuk lokus khusus untuk konsentrasi, seperti pusat psiko-energi (cakra) dan titik sensitif (marmasthāna) tubuh.

Lingkungan yang tepat adalah prasyarat penting untuk keberhasilan praktek yoga. Desha termasuk di antara disiplin lima belas tapak Yoga (panca-dasha-anga-yoga). Ketentuan paling umum adalah tempat itu harus bersih dan tenang. Beberapa teks menguraikan prasyarat yang lebih spesifik, seperti tanah yang rata, bebas dari kerikil, pasir dan api. Tempat itu sebaiknya juga tersembunyi, tidak berisik, enak dipandang, dan terlindung dari angin. Tempat favorit para yogi adalah tempat terpencil seperti gunung, gua, candi, dan rumah-rumah kosong.

DHĀRANĀ

kb: konsentrasi
Dari akar kata dhri yang berarti ‘menahan’. Kadang disebut juga samādhāna (ketertampungan).

Dhāranā adalah salah satu dari delapan tapak yoga klasik, juga merupakan komponen dari laku spiritual versi lain. Yoga-Sūtra (3.1) mendefinisikannya sebagai pengikatan kesadaran (citta) ke suatu lokus (desha). Dhāranā adalah latihan atensi terus-menerus, yang adalah esensi ‘satu keterpusatan’ (eka-agratā). Amrita-Nāda-Upanishad (15) memahaminya sebagai ‘kompresi’ (samkshepa) pikiran.

Konsentrasi, yang mendului meditasi, merupakan dasar untuk proses introversi (masuk ke dalam diri). Ini merupakan pertemuan energi psikis, yang disertai dengan penghambatan sensorik (pratyāhāra) tingkat tinggi dan pelambatan gelombang otak. Konsentrasi yoga bisa dibarengi berbagai objek mental (artha), mulai dari bayangan makhluk terinternalisasi hingga suara terinternalisasi (nāda), pada suatu lokus (desha) dalam tubuh. Memperdalam konsentrasi mengarah kepada meditasi (dhyāna).

Pada beberapa konteks, dhāranā menunjuk retensi nafas.

DHYĀNA

kb: 1 meditasi; 2 kontemplasi

Suatu teknik dasar umum untuk semua jalan yoga. Bhagavad-Gītā (12.12) menempatkan meditasi di atas pengetahuan intelektual, dan Shiva-Purāna (7.2.39.28) menganggapnya lebih unggul daripada perjalanan ziarah, kaul kemiskinan (tapas), dan ritual kurban. Garuda-Purāna (222.10) menyatakan: “Meditasi adalah kebajikan tertinggi. Meditasi adalah kesederhanaan tertinggi. Meditasi adalah kemurnian tertinggi. Oleh karena itu gemarlah bermeditasi.”

Pada delapan tapak Yoga Klasik, meditasi mendului ekstase (samādhi). Patanjali, dalam Yoga-Sūtra (3.2), mendefinisikannya sebagai ‘aliran satu arah’ (ekatānatā) gagasan yang disajikan (pratyaya) relatif terhadap satu objek konsentrasi. Dengan demikian, meditasi merupakan kelanjutan alamiah dari konsentrasi (dhāranā). Objek apapun bisa menjadi alat penunjang proses meditasi. Objek itu, tentunya, bukanlah objek-objek terlarang, seperti perempuan telanjang, misalnya.

Meditasi berdampak pada tertangkapnya (nirodha) lima jenis ‘gejolak’ (vritti) kesadaran. Meditasi dianggap tataran yang lebih tinggi daripada pengendalian indera (pratyāhāra). Oleh karena itu Mahābhārata (13.294.16) menggambarkan yogi yang bermeditasi sebagai: “Dia tidak mendengar, dia tidak membau, juga tidak mencecap ataupun melihat, atau mengalami sensasi sentuhan; juga, pikir berhenti bayangkan. Dia tidak mengingini apa-apa, dan bagai batang kayu dia tidak berpikir. Kemudian orang bijak menyebutnya ‘terikat’ (yukta), ‘orang yang telah mencapai ranah kosmik’ (prakritim āpannam).”

Banyak teks Yoga Pasca-klasik membedakan jenis-jenis meditasi. Namun, pendekatan apapun yang dipilih, meditasi meneruskan kecenderungan transformatif yang ampuh yang dipicu oleh konsentrasi. Jika dilakukan dengan ketelitian yang memadai, kecenderungan itu membawa kepada penghapusan ‘simpanan’ (āshaya) karma bawah sadar, yaitu restrukturisasi identitas pribadi seseorang secara menyeluruh – dari personalitas ego ke ke-Dirian yang transendental (ātman). Meditasi adalah batu pijakan untuk ekstase (samādhi) dan karenanya harus dilampaui pada titik tertentu.

DĪKSHĀ

(n) 1 inisiasi; pentahbisan

Dīkshā menempati posisi sentral di semua cabang dan mazhab dalam tradisi Yoga. Menurut Kulārnava-Tantra (10:3), adalah mustahil untuk mencapai pencerahan tanpa inisiasi – suatu sentimen yang juga tersirat dalam kitab-kitab lain, seperti: “Disebutkan dalam ajaran Shiva bahwa tidak akan ada pembebasan tanpa inisiasi dan bahwa tidak ada [inisiasi] tanpa pembimbing (acārya) [berkualitas]. Demikianlah garis kekerabatan dengan pembimbing (paramparā)’.

Hal penting pada dīkshā adalah bahwa di dalamnya terkandung makna sangat mendasar tentang pemindahan kebijaksanaan (jnāna) atau kekuatan (shakti) dari guru kepada murid. Melalui inisiasi murid terlibat secara misterius dalam kondisi hakikat sang guru, dan bahkan menjadi bagian dalam jalur pemindahan (paramparā) gurunya. Garis kekerabatan guru adalah rantai pemberdayaan spiritual yang melampaui dunia waktu dan ruang.

Dīkshā maupun konsep yang mendasarinya sudah dikenal sejak Atharva-Veda, yang memuat bait (11.5:3) berikut: “Inisiasi terjadi ketika guru membawa muridnya ke dalam dirinya sebagaimana adanya, seperti seorang ibu [mengandung] janin dalam tubuhnya. Setelah upacara selama tiga hari, sang murid lahir.”

Secara umum ada tiga macam inisiasi yang memiliki derajat yang berbeda, yaitu : (1) mantra-dīkshā – murid diberi mantra bertuah untuk pelafalan dan meditasi (juga dikenal sebagai ānavī-dīkshā); (2) shakti-dīkshāguru mengaktifkan ‘kekuatan ular’ (kundalinī-shakti) murid, dan yang, menurut Shiva-Purāna (7.2.15:6), mengharuskan guru untuk masuk ke dalam tubuh muridnya – suatu prestasi yang dikenal sebagai para-deha-pravesha; dan (3) Shiva-dīkshā, inisiasi tertinggi, yang diberikan dengan semata-mata sentuhan atau tatapan (drishti) guru, dan murid didorong masuk ke dalam keadaan ekstase (samādhi). Ini juga dikenal sebagai shāmbhavī-dīkshā. Proses perpindahan ini kerap disebut sebagai ‘kekuatan keturunan’ (shakti-pāta).

Menurut Kulārnava-Tantra (14:3 dst), tidak akan ada pembebasan tanpa inisiasi, dan inisiasi hanya mungkin dengan pembimbing segaris keturunan. Tantra ini (14:34 dst) juga menyebutkan bahwa ada tiga jenis inisiasi: dengan sentuhan (sparsha), penglihatan (drik), dan semata-mata pemikiran (mānasa). Inisiasi yang terakhir tidak memerlukan upaya dan tidak ada ritual. Pada gagian lain (14:39 dst) Kulārnava-Tantra membedakan tujuh macam dīkshā: menurut ritual, alfabet (yang diproyeksikan kepada murid), memancarkan energi khusus (kalā), sentuhan, ucapan, penglihatan, dan pikiran; masing-masing disebut dīkshā samayā, sādhikā, putrikā, vedhakā, pūrnā, caryā, dan nirvāna. Kulārnava-Tantra (17:51) mendefinisikan dīkshā sebagai berikut: “karena memberikan keadaan ilahiah (divya-bhāva), membersihkan (kshālana) dosa (kalmasha), dan melepaskan ikatan keberadaan duniawi, maka disebut dīkshā.”

DRASHTRI

har kb: pelihat (seer)
adalah terminologi yang digunakan Patanjali untuk ‘Diri’ dalam perannya sebagai saksi perubahan fenomena psiko-mental. Yoga-Bhāshya (2:17) mendefinisikannya sebagai ‘kondisi sadar-Diri pada pikir’ (budhhi).
Lihat juga: sākshi, samyoga.

DUHKHA

har: suasana hati yang buruk
kb: 1 kesedihan; 2 penderitaan; 3 rasa sakit

Menurut tradisi spiritual India, keberadaan, pada hakikatnya penuh dengan kesedihan. Doktrin ini sering membuat kritikus Barat secara ringkas menggambarkan filsafat India sebagai sangat pesimistis. Penggambaran ini terbukti menyesatkan, karena bagaimanapun, tujuan spiritualitas India justru transendensi sempurna dari kesedihan atau rasa sakit. Memang, sebagian besar mazhab spiritualitas India menggambarkan Realitas utama sebagai penuh kebahagiaan (ānanda). Kesedihan, kemudian, adalah tempat berlindung hanya bagi ego individu, bukan untuk Diri.

Menurut Yoga-Sūtra dari Patanjali (2.17), ‘korelasi’ (samyoga) antara Diri yang kekal dan kosmos (atau tubuh-pikir), adalah penyebab dari pengalaman penderitaan. Ketika hubungan itu terputus, maka penderitaan berhenti. Sudah sejak Bhagavad-Gītā (6.23) Yoga didefinisikan sebagai ‘perpecahan atas persatuan dengan penderitaan’ (duhkha-samyoga-viyoga).

DVESHA

kb: 1 kebencian; 2 keengganan
Dalam yoga klasik adalah salah satu dari lima ‘penyebab penderitaan’ (klesha); didefinisikan dalam Yoga-Sūtra (2.8) sebagai tempat berlindung dari sesuatu yang menyakitkan (duhkha). Namun, kebencian yang juga bisa memiliki efek spiritual positif. Uddhāva-Gītā (4.22) menjelaskan bahwa kita harus bersatu [dengan Ilahi] baik melalui ikatan permusuhan atau persahabatan, rasa takut atau pamrih atau hasrat (kāma). Gagasan ini mengekspresikan posisi dvesha-yoga, salah satu perkembangan paling mencengangkan dalam spiritualitas Hindu.

————————————————–

Catatan:
1. Singkatan:
     har = makna harfiah
kb = kata benda
kk = kata kerja
ks = kata sifat
ungk = ungkapan

2. Sumber:
Feuerstein, Georg. 2011. The Encyclopedia of Yoga and Tantra. Boston: Shambala Publications.

.

.

Advertisements

Sila beri tanggapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s