E – F – G – H

GUNA

kb: 1 arti; 2 kualitas; 3 konstituen
Kata ini memiliki banyak konotasi. Dua penggunaan yang paling umum dan berkaitan adalah ‘kualitas’ dan ‘konstituen’, dan merupakan kosa kata teknis tradisi Yoga dan Sāmkhya, yang merujuk kepada tiga serangkai kekuatan – sattva, rajas, dan tamas – yang dianggap sebagai prinsip pembangun kosmos.
Asal-usul doktrin ini tidak jelas. Seorang pakar berkebangsaan Belanda, J.A.B. Van Buitenen (1957), berspekulasi bahwa doktrin ini mungkin terkait dengan Veda Atharva kuno yang berkisah tentang bunga teratai dengan sembilan gerbang, yang berarti tubuh manusia, ditutupi dengan tiga ‘helai’. Van Buitenen menunjukkan bahwa pada konsepsi awal doktrin ini berusaha untuk menjelaskan evolusi psiko-kosmologikal dari tatanan pikir yang lebih tinggi (disebut buddhi) menjadi pikir tatanan rendah (manas), indra (indriya), dan elemen material (bhūta).
Patanjali, dalam Yoga-Sūtra (2.15), menggambarkan ketiga macam daya fundamental –yang mungkin setara dengan energi kuanta pada fisika modern– sebagai berada dalam konflik terus-menerus satu sama lain. Sebagai hasil dari ketegangan yang melekat di antara mereka, mereka menciptakan berbagai tingkat (parvan) keberadaan. Tujuan yoga klasik Patanjali adalah untuk menghadirkan ‘involusi’ (pratiprasava) guna, yaitu penyerapan kembali guna ke dalam matriks transendental alam (prakriti), setidaknya pada tingkat mikrokosmik personal.
Menurut Bhagavad Gītā (13,21), guna ‘lahir dari alam (prakriti ja), dan mereka mengikat diri-terindividuasi (dehin) ke tubuh tertentu (deha). Dalam Mahābhārata (12.301.15) kosmos dikatakan mengungkap guna seratus kali lipat atau seribu kali melalui hasrat dan kehendak bebas dan demi permainan kosmik. Patanjali, di sisi lain, tampaknya menggagas guna sebagai tiga jenis daya atau energi yang keberadaannya dapat disimpulkan dari pola perilaku (shila) kosmos. Dari Yoga Bhāsya (2.18) – komentar tertua atas aforisma Patanjali – kita belajar bahwa (1) meskipun guna adalah berbeda, (2) mereka tetap saling tergantung dan (3) dalam kombinasi menciptakan kosmos fenomenal, karena itu (4) segala sesuatu harus dianggap sebagai ‘sinergisasi’ dari ketiga faktor. Hingga Yoga Vārttika (2.18) karya Vijnāna Bhikshu yang ditulis pada abad ke-enam belas M, guna dipahami sebagai substansi yang berjumlah tak terbatas dan menghasilkan fenomena semesta material dan immaterial.

GURU

(n) 1 orang yang berbobot (har); 2 orang bijak

Berbeda dengan sebagian besar bentuk yoga hibrida yang diajarkan di dunia Barat, Yoga tradisional dicirikan dengan hubungan guru-murid yang mendalam yang diyakini akan terus berlanjut bahkan melampaui kehidupan ini. Guru, yang nasihat atau penilaiannya ‘berbobot’, merupakan poros seluruh struktur inisiasi yoga. Stansa dalam Shiva-Samhitā (3:11; 13f) berikut menggambarkan pentingnya dari peran guru di hampir semua perguruan.

[Hanya] pengetahuan yang diberikan melalui mulut guru adalah pengetahuan produktif [membawa pembebasan], selain itu adalah sia-sia, lemah, dan menyebabkan banyak penderitaan.

Tidak ada keraguan bahwa guru adalah ayah bagi seorang murid; guru adalah ibu bagi seorang murid; guru adalah Tuhan. Oleh karena itu guru harus dihormati dalam semua, pikiran, perkataan, perbuatannya. Dengan bantuan guru (prasāda) murid akan memperoleh semua manfaat.

Kata Sansekerta guru terbentuk dari suku kata gu yang berarti ‘kegelapan’, dan suku kata ru yang berarti ‘penghancur’. Karena [kekuatan] untuk menghancurkan kegelapan, ia disebut guru (Advaya-Tāraka-Upanishad 14).

Beberapa mashab Tantra membedakan empat tingkat guru: (1) guru, (2) parama-guru, (3) parāpara-guru, dan (4) parameshthi-guru. Menurut Nīla-Tantra (5:73), Shakti adalah ‘lebih tinggi’ dari ‘guru tinggi’ (parāpara-guru), sedangkan Shiva adalah guru tertinggi (parameshthi-guru).

Selebihnya tentang ‘guru’ sila baca: Guru

HAMSA

har: angsa
kb: 1 bunyi yang dihasilkan dari pelafalan huruf Om; 2 diri individu (jīva); 3inkarnasi Wisnu dalam epos Mahābhārata
Hamsa adalah bunyi yang dihasilkan oleh nafas. Keluarnya prāna menimbulkan bunyi ha dan ketika masuk kembali ke dalam tubuh menimbulkan bunyi sa. Bunyi spontan ini secara luas dikenal sebagai ajapa-mantra, ajapagā-yatri, atau hamsa-mantra. Tubuh diperkirakan melafalkan mantra ini secara otomatis sebanyak 21.600 kali sehari. Yoga-Shikhā-Upanishad (6.54) menyatakan bahwa suara ini harus dilafalkan secara terbalik, yaitu sebagai so’ham, ‘Akulah Dia. Hamsa adalah suara yang harus diucapkan agar ‘ganjalan’ (kīlaka) di pintu pembebasan dapat dipaksa terbuka.

Hamsa secara harfiah diterjemahkan sebagai ‘angsa’ tapi lebih tepat ‘angsa liar’ (Anser Indicus), yang kemampuan terbang tingginya telah mengilhami orang India kuno untuk menjadikannya simbol matahari dan, kemudian, Diri Transendental yang bercahaya (ātman). Ajaran Hatha-Yoga kerap menggunakan kata hamsa untuk merujuk diri individu (jīva), terutama dalam aspeknya sebagai energi kehidupan (prāna) dan aspek eksternalnya, yaitu nafas. Kaula-Jnāna-Nirnaya mengidentikkan hamsa dengan energi spiritual tubuh (kundalinī-shakti).

Shvetāshvatara-Upanishad (1.6) menyatakan bahwa hamsa bergetar dalam brahma-cakra, yang berarti sifat rendah Tuhan, yaitu dunia. Meskipun mewujud dalam tubuh, hamsa melayang masuk dan keluar tubuh. Mungin inilah sumber gagasan selanjutnya bahwa hamsa meninggalkan tubuh (dalam bentuk nafas) melalui saluran kiri dan kanan (yaitu, ke-dua lubang hidung).

Pashupāta-Brāhmana-Upanishad (1.25) menyatakan bahwa hamsa beredar antara lengan kiri dan pinggul kanan, sedangkan Yoga-Shikhā-Upanishad (6.35) mengajarkan bahwa hamsa bergerak naik turun di dalam saluran pusat (sushumnā-nādī) tubuh.

—————————————

Catatan:
1. Singkatan:
     har = makna harfiah
     kb = kata benda
     kk = kata kerja
     ungk = ungkapan

2. Sumber:
Feuerstein, Georg. 2011. The Encyclopedia of Yoga and Tantra. Boston: Shambala Publications.

.

.

Advertisements

Sila beri tanggapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s