I – J

INDRIYA

kb: 1 organ tubuh 2 organ sensasi/indra
Termasuk di dalamnya adalah jnana indriya (organ internal, yaitu organ pengetahuan, kognisi, atau persepsi) dan karma indriya (organ eksternal fisik atau organ tindakan).
Secara khusus, terminologi indriya kerap dipakai untuk merujuk pada organ sensasi atau panca indra.

INDRIYA-JAYA

ks: penaklukan indera

Indriya-jaya adalah kapasitas untuk mengendalikan aliran-keluar atensi melalui jalur sensoris. Menurut Yoga-Sūtra (2.41), penguasaan indera adalah salah satu buah pemurnian yang sempurna (shauca). Patanjali juga berbicara tentang ‘ketaatan’ indera (vashyatā) sebagai hasil dari latihan penarikan indera (pratyāhāra) secara terus-menerus.

JĀLANDHARA

1 (atau Jālandhari) seorang guru besar Hatha-Yoga dan, sebelum menarik diri dari kehidupan duniawi, diyakini adalah penguasa Hastinapura di India Utara. Dinyatakan, dialah yang mengenalkan yoga kepada Raja Bhartrihari. Menurut beberapa tradisi, ia juga disebut Hadipā (Hadipāda), yang diketahui juga telah mengenalkan yoga kepada Raja Gopīcandra dari Bengali.
2 Sebuah kota di dekat Jullundur, Punjab Timur, India. Salah satu dari empat tempat kedudukan (pītha) Tantra 

JĀLANDHARA – BANDHA

kb: 1 kuncian Jālandhara; 2 kuncian tenggorokan
Sebuah latihan penting dalam Hatha-Yoga yang meliputi kontraksi tenggorokan (kantha-samkocana), yang dilakukan dengan menempelkan dagu di dada, biasanya setelah inhalasi. Jālandhara-bandha dilakukan bersama dengan berbagai postur (āsana) dan ‘gestur’ (mudrā). Jālandhara-bandha ‘menutup’ jaringan saluran (sirā) dan mencegah cairan ambrosial (amrita) mengalir ke dada. Jālandhara-bandha juga diyakini mampu mengatasi penyakit tenggorokan.

JAPA

1 pelafalan [doa] secara berulang-ulang (n)

Yoga-Yājnavalkya (2:12) mendefinisikan sebagai ‘pengulangan (abhyāsa) mantra menurut aturan tertentu’.

Japa adalah praktik sangat tua yang sudah dijalankan sejak masa awal perkembangan tradisi yoga. Praktik ini, mungkin, tumbuh dari praktik pendarasan teks-teks kitab suci secara meditatif, yang menuntut konsentrasi tinggi sang pendeta, karena setiap kata suci harus dilafalkan secara akurat, agar tidak mempengaruhi hasil dari ritual pengorbanan (yajna).

Yoga-Sūtra (1:28) merekomendasikan pelafalan suku kata suci ‘om‘ untuk menghilangkan semua hambatan (antarāya). Bacaan ini secara alami mengantar menuju kontemplasi (bhāvanā) kepada inti mantra ini.

Japa, seperti juga semua praktik Yoga, harus dilakukan dengan penuh perhatian dan dedikasi. Pelafalan tanpa atensi (mindless) tidak memberikan efek yang diinginkan. Menurut Mahābhārata (12:190), seseorang yang gagal untuk masuk kepada makna kata-kata yang dilafalkannya ditakdirkan untuk masuk neraka.

Japa dapat dilakukan secara verbal maupun mental. Dalam hal yang pertama, mantra dapat dilafalkan dengan berbisik (upāmshu) atau bersuara (ucca, ada pula yang menyebutnya vācika). Menurut Yoga-Yājnavalkya (2:15 f), melafalkan dengan berbisik adalah seribu kali lebih baik dari japa bersuara, sedangkan japa mental (mānasa) adalah seribu kali lebih baik daripada japa berbisik; sementara meditasi, dinyatakan sebagai seribu kali lebih baik dibanding japa mental.

Linga-Purāna (1.85:106) menekankan bahwa melafalkan di rumah adalah baik, namun di cow pen seratus kali lebih baik, dan di tepi sungai seribu kali lebih baik. Lebih lanjut, pada catatan berikutnya, di hadapan Shiva, pelafalan tidak terbatas khasiatnya.

 

JNĀNA

kb: 1 kebijaksanaan; 2 ilmu pengetahuan
Diterapkan dalam konteks sakral maupun sekuler. Jnāna dapat merujuk pengetahuan konseptual, juga wawasan dan kebijaksanaan intuitif yang lebih tinggi, atau gnosis. Kadang jnāna bahkan disamakan dengan Realitas tertinggi itu sendiri.

Bhagavad-Gītā (18.20ff) membedakan tiga jenis jnāna berdasarkan pada dominasi satu atau lebih dari tiga konstituen utama (guna) kosmos: (1) sāttvika-jnāna, dengan mana seseorang melihat Realitas tunggal yang kekal dalam semua hal: (2) rājasa-jnāna, dengan mana seseorang melihat semata hakikat lahiriah gabungan dari sesuatu, dan bukan kesatuan hakikat yang mendasarinya, dan (3) tāmasa-jnāna, dengan mana seseorang dengan tidak rasional terikat pada satu hal seolah-olah itu adalah segalanya, tanpa peduli pada Realitas.

Yoga-Vāsishtha (3.118.5ff) menyebut tujuh tahap atau tingkat (bhūmī) kebijaksanaan: (1) shubha-icchā, atau dorongan spiritual ke arah kebenaran, (2) vicāranā, pertimbangan mendalam tentang ajaran spiritual, (3) tanu-mānasī, penyempurnaan gagasan, (4) sattā-āpatti, akuisisi makhluk murni, (5) asamsakti, tanpa pamrih, (6) pada-artha-bhāva, pengakuan atas sesuatu yang benar-benar penting, yaitu pencerahan, dan (7) turya-ga, intuisi akan ‘yang ke-empat’ (turya). Tahapan-tahapan jnāna ini mengantar kepada pembebasan akhir yang mutlak.

Bhagavad-Gītā (4.36) menyatakan bahwa kebijaksanaan adalah rakit (plava) untuk menyeberangi ‘aliran kehidupan yang curam.’ Bait lain (4,38) menyebutkan, kebijaksanaan adalah ‘pemurni terbesar di muka bumi.’ Sementara Tri-Shiki-Brāhmana-Upanishad (2.19) menyatakan: “Kebijaksanaan dibawa oleh yoga. Yoga dikembangkan oleh kebijaksanaan.’

JNĀNA – INDRIYA

kb: 1 indera; 2 organ kognitif; 3 indera pengetahuan
Adalah organ untuk mengenali atau memperoleh pengetahuan melalui pengalaman. Ada lima indera pengetahuan, yaitu (1) indera penglihatan (mata); (2) indera pendengaran (telinga); (3) indera pencecap (lidah); (4) indera peraba (kulit); (5) indera pembau (hidung).

———————————————

Catatan:
1. Singkatan:
     har = makna harfiah
     kb = kata benda
     kk = kata kerja
     ungk = ungkapan

2. Sumber:
Feuerstein, Georg. 2011. The Encyclopedia of Yoga and Tantra. Boston: Shambala Publications.

.

.

Advertisements

Sila beri tanggapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s