L – M

LINGA

kb: 1 marka; 2 tanda; 3 indikasi
dalam bahasa Inggris sering dilafalkan lingam. Dalam tradisi Sāmkhya, istilah ini mengacu pada ‘sesuatu yang memiliki karakteristik,’ yaitu kepribadian manusia, yang terdiri dari pikir tataran tinggi (buddhi), ego (ahamkāra), pikir tataran rendah (manas), lima indera kognisi (jnāna-indriya), dan lima organ tindakan (karma-indriya).
Maitrāyanīya-Upanishad (6.10) mengaplikasikan terminologi linga untuk seluruh penciptaan, membentang dari prinsip pertama (mahat) sampai ‘khusus’ (vishesha), berbeda dengan linga yang ‘tanpa dasar’, yaitu Realitas terbayangkan itu sendiri. Dalam Mahābhārata (12.195.15), linga diartikan sebagai kendaraan, atau wadah, dari jiwa yang bermigrasi.
Istilah linga dapat juga merujuk kepada falus atau, dengan perluasan, prinsip kosmik untuk kreativitas. Pemujaan kepada Yang Illahi melalui simbol falus berawal dari peradaban Indus-Sarasvati. Mulanya Shiva diasosiasikan dengan simbol linga dan ibadahnya. Linga adalah lambang dewa yang paling umum digunakan. Lingāyatas, cabang dari Shaivism, mengenakan miniatur linga sebagai amulet.
Secara metafisis, linga memiliki potensi tak terbayangkan atau daya kreatifitas sebelum penciptaan dunia. Dalam karyanya, Tantrāloka (5,54), pemikir Abhinavagupta menjelaskan kata linga sebagai berikut: “Keseluruhan [alam semesta] ini terlarut (līnam) di dalamnya, dan keseluruhan [alam semesta] ini dianggap (gamyate) sebagai berada di dalamnya.” Demikian pula, Amaraugha-Prabhodha (55) memberikan definisi etimologis: “Ketika yang bergerak dan tidak bergerak larut oleh kekuatan laya, itulah [yang disebut] linga.
Berdasarkan hukum korespondensi okultisme ‘as above, so below‘, linga kosmik juga punya representasi dalam mikrokosmos tubuh manusia. Oleh karena itu ajaran Tantra dan Hatha-Yoga menjelaskan pengalaman yang melibatkan linga yang bercahaya yang dapat dilihat di pusat-pusat psikoenergi (cakra) tubuh. Misalnya, Brahma-Upanishad (80) menjabarkan tiga jenis linga yang harus menjadi objek meditasi seseorang: (1) linga adho (rendah) di dasar tulang belakang, (2) linga shikhin (puncak ) di terminal atas dari saluran pusat (sushumnā-nādī), dan (3) linga jyotir (cahaya) terletak di pusat psikoenergetik dahi. Siddha-Siddhānta-Paddhati (2,4) menyebut tentang api berbentuk linga di jantung.

LINGA – SHARĪRA

kb: 1 tubuh halus; 2 tubuh karakteristik
Menurut tradisi Sāmkhya, terdiri dari bagian-bagian konstituen yang disebut linga, dengan penambahan potensi inderawi (tanmātra). Kompleks ini juga dikenal sebagai sūkshma-sharīra dan dikontraskan dengan ‘tubuh kasar’ (sthūla-sharīra), organisme fisik yang terdiri dari unsur-unsur material (bhūta). Tubuh kasar sendiri dianggap tidak mengindera. Tubuh kasar menjadi ‘hidup’ ketika dihubungkan dengan linga-sharīra, yang merupakan entitas yang berpindah secara paksa oleh karma individual.

MANAS

kb: 1 pikir (mind); 2 alat untuk berpikir; 3 kemampuan berpikir

MĀNDŪKYA – UPANISHAD

kb: adalah salah satu upanishad penting, bahkan ada yang menganggapnya terpenting, yang membahas lapisan-lapisan personalitas (kosha) dengan penjelasan keterlibatan kesadaran (consciousness) dalam tiap kosha

MANOMAYA – KOSHA

kb: 1 tubuh mental; 2 selubung yang tebentuk dari lapisan pikir (mind)
Salah satu dari lima selubung (kosha) yang menyelimuti Diri. Tubuh mental terdiri dari manas dan lima jnāna-indriya.

 

MĀYĀ

(n) 1 ‘dia yang menimbang’ (har); 2 ilusi

Konsep kunci dalam tradisi Vedānta. Istilah ini umumnya diterjemahkan sebagai ‘ilusi’. Dalam ajaran-ajaran Yoga dan Sāmkhya sangat awal seperti Bhagavad-Gītā (7:14) dan Shvetāshvatara-Upanishad (4:10), kata itu digunakan dalam arti ‘kekuatan kreatif’, yang mengacu kepada tiga konstituen utama (guna) kosmos. Oleh māyā Tuhan (īshvara), demikian Bhagavad-Gītā (18:61) menyatakan, semua makhluk berputar, seolah-olah mereka terpasang di atas mesin.

Hanya di beberapa mazhab Vedānta idealis radikal di masa sesudahnya, kata itu memperoleh arti ‘ilusi’ atau ‘keberadaan siluman’. Misalnya, dalam Shiva-Samhitā (1:64), māyā disebut ‘ibu alam semesta’ (vishva-janani), alam semesta adalah ‘permainan ilusi’ (māyā-vilāsitā). Mazhab non-dualis yang lebih moderat memahami māyā sebagai ‘eksistensi relatif’ daripada ‘halusinasi’. Paham ini dikontraskan dengan Realitas Mutlak, yang non-dual.

MOKSHA

ks: pembebasan
Laghu-Yoga-Vāsishtha (5.9.48) menyatakan: “Pembebasan bukanlah di luar angkasa, atau di akhirat, ataupun di bumi. Pembebasan adalah ‘kematian’ pikir melalui penghapusan semua hasrat, kepentingan, dan aspirasi (āshā).” Dengan kata lain, pembebasan merupakan peristiwa intrapsikis, bukan lokalitas. Pembebasan adalah pergeseran dalam kesadaran ketika seseorang melampaui semua dualitas.

Peristiwa pembebasan paradoks dengan pendapat bahwa baik pembebasan maupun ikatan hanyalah konstruksi konseptual dan karenanya tidak ada signifikansi tertinggi. Laghu-Yoga-Vāsishtha (6.13.25) menyatakan demikian: “tidak ada ikatan atau pembebasan. Yang ada hanyalah Sang Mutlak mengatasi segala sakit.” Teks (6.13.93) ini dengan tegas menyatakan: “Yang disebut ‘pembebasan’ tidak memiliki ruang atau waktu atau batasan-batasan lain.”

 

MŪLA – BANDHA

kb: kuncian dasar
Salah satu dari tiga ‘kuncian’ utama (bandha) dalam Hatha-Yoga. Teknik ini mengantar kepada penguasaan nafas dan berdampak peremajaan tubuh.

Kontraksi pada otot-otot di dasar panggul menarik apāna – yang secara alami bergerak ke bawah – untuk bergerak naik dan bersatu dengan prāna. Selanjutnya, prāna dan apāna akan bersatu dengan nāda dan bindu. ‘Kuncian’ juga merangsang api-dalam tubuh dan membangkitkan ‘kekuatan ular’ (kundalinī-shakti).

Salah satu dampak sampingan dari praktek ini adalah berkurangnya urin dan air-besar.

Tejo-Bindu-Upanishad (1.27) menyatakan bahwa mūla-bandha merupakan akar semesta alam. (Lebih jauh tentang pengakaran dengan mūla-bandha sila baca artikel mūla-bandha)

MŪLĀDHARA – CAKRA

kb: 1 cakra dasar; 2 roda penyangga
Yang terbawah dari tujuh pusat psiko-energi (cakra) tubuh. Cakra dasar digambarkan sebagai teratai berkelopak empat, terletak di perineum (yoni), area di atas area antara alat kelamin dan anus. Kelopaknya umumnya digambarkan sebagai rona merah. ‘Akar suku kata’nya (bīja-mantra) adalah lam yang berhubungan dengan elemen tanah. Ini adalah tempat bersemayamnya Dviranda, dan Dewi Dākinī.
Mūlādhāra–cakra berisi segitiga bercahaya disebut kāma-rūpa (wajah hasrat), tempat falus (linga) emas Shiva berada. Cakra ini adalah sumber saluran pusat (sushumnā-nādī) energi kehidupan (prāna), dan tempat bersemayamnya ‘kekuatan ular’ (kundalinī-shakti). Kontemplasi rutin atas pusat psiko-energi ini menghasilkan, antara lain, kemampuan untuk melompat seperti kodok dan, pada stadium lanjut, untuk benar-benar melayang.

———————————————————————–

Catatan:
1. Singkatan:
     har = makna harfiah
     kb = kata benda
     kk = kata kerja
     ungk = ungkapan

2. Sumber:
Feuerstein, Georg. 2011. The Encyclopedia of Yoga and Tantra. Boston: Shambala Publications.

.

.

Advertisements

Sila beri tanggapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s