N – O

NAMASTE

ungk har: 1 ‘saya membungkuk kepadamu’
Dalam bahasa Sansekerta namaste diartikan sebagai ‘Saya menghormatimu’. Namaste adalah ekspresi verbal, juga sikap tubuh (gesture) simbolik untuk saling memberi salam saat seseorang bertemu atau berpisah dengan orang lain. Namaste dilakukan dengan menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada, jari-jari tangan menunjuk ke atas, menutup mata, dan membungkukkan kepala.
Sila baca juga artikel Namaste.

NIDRA

kb: 1 tidur
Nidra adalah salah satu musuh besar latihan yoga dan karenanya sering dianggap sebagai kekurangan atau cacat (dosha). Mahābhārata (12.209.1) menyatakan bahwa orang harus meninggalkannya. Di bagian lain (12.263.46) karya ini menganggap tidur sebagai kekurangan di antara kekurangan lain seperti hasrat (kāma), amarah (krodha), serakah (lobha), dan rasa takut (bhaya).
Dalam yoga klasik tidur dianggap sebagai salah satu dari lima ‘gejolak’ kesadaran (vritti). Patanjali, dalam Yoga-Sūtra (1.10), mendefinisikan tidur sebagai kondisi mental yang didasarkan pada pengalaman (pratyaya) tidak terjadinya fenomena mental lainnya. Tidur adalah kesadaran yang belum sempurna. Bahwa tidur tidak sekadar absennya aktivitas sadar, menurut Yoga-Bhāshya (1.10), ditunjukkan oleh fakta bahwa ketika bangun tidur, orang ingat bahwa “Saya telah tidur nyenyak.” Berbagai teknik yoga dapat digunakan untuk memerangi tidur, termasuk pengendalian nafas, terutama sīt-karī-prānāyāma, dan khecarī-mudrā.

NIRODHA

1 pengendalian (adj); 2 retensi (v)

Dalam Yoga klasik, ada empat tingkat pengendalian kesadaran: (1) vritti-nirodha, ‘pengendalian gejolak (vritti)’, yang dicapai melalui meditasi (dhyāna); (2) pratyaya-nirodha, ‘pengendalian gagasan (pratyaya)’, yang terwujud pada tingkat ekstase sadar (samprajnāta-samādhi); (3) samskāra-nirodha, ‘pengendalian terhadap penggerak (samskāra) [bawah sadar]’, yang terwujud pada tingkat ekstase supra-sadar (asamprajnāta-samādhi); dan (4) sarva-nirodha, ‘pengendalian penuh’, yang terwujud bersamaan dengan realisasi ‘awan ekstase dharma (dharma-megha-samādhi). Terminologi nirodha kadang juga digunakan sebagai sinonim untuk kumbhaka.

NIRVIKALPA – SAMĀDHI

1 ekstase tanpa bentuk (adj)

adalah istilah Vedānta untuk ekstase supra-sadar (asamprajnāta-samādhi) dalam Yoga Klasik. Sebagaimana dinyatakan dalam Laghu-Yoga-Vāsishta (5.10:81), keadaan ini melenyapkan semua sifat bawah sadar (vāsanā), dan mengantar kepada pembebasan. Menurut Mandala-Brāhmana-Upanishad (5.2), pengalaman akan kondisi ekstase ini mengurangi urin, tinja, dan tidur.

NITYĀ

har: abadi
Salah satu dari enam belas dewi yang disembah dalam tradisi Shrī-Vidyā, yaitu Tripura-Sundarī, Kāmeshvarī, Bhaga-Malinī, Klinnā, Bherundā, Vahni-Vāsinī, Mahāvidyeshvarī, Dūtī, Tvaritā, Kula-Sundarī, Nityā, Nīla-Patākā, Vijayā, Sarva-Mangalā, Jvālā-Mālinī, and Vicitrā.

NIYAMA

kk: menahan diri
Tapak ke-dua dari yoga delapan tapak (ashta-anga-yoga) yang diajarkan oleh Patanjali. Menurut Yoga-Sūtra (2.32), ada lima praktik niyama: kemurnian (shauca), kepuasan (samtosha), asketisme (tapas), belajar (svādhyāya), dan devosi kepada Tuhan (īshvara-pranidhāna). Dalam Tri-Shikhi-Brāhmana-Upanishad (2.29) niyama didefinisikan sebagai ‘keterikatan terus-menerus kepada Realitas tertinggi.’ Kitab ini juga menyebutkan bahwa niyama meliputi sepuluh praktek berikut: asketisme (tapas), kepuasan (samtushti), afirmasi (āstikya) terhadap warisan Veda atau keberadaan Illahi, kebebasan (dāna), adorasi (ārādhana), ‘mendengarkan [kitab suci] Vedanta (vedānta-shravana), kesederhanaan (hrī), keyakinan (mati), bacaan (japa), dan sumpah (vrāta).

Uddhāva-Gītā (14.34) melengkapi daftar dua belas praktek: kemurnian tubuh dan mental (shauca), yang dihitung secara terpisah; bacaan (japa); asketisme (tapas); kurban (homa); percaya (shraddhā); keramahan (atithya); ibadah (arcanā); ziarah (tīrtha-atana); bekerja untuk kebaikan orang lain (para-artha-iha); kepuasan (tushti), dan mengabdi kepada guru (ācārya-sevanta). Linga-Purāna (1.8.29f) menambahkan ‘pengendalian atas penis’ (upastha-nigraha) dan puasa (upavāsa), mandi (snāna), dan keheningan (mauna). Siddha-Siddhānta-Paddhati (2.33) menambahkan: hidup dalam kesendirian (ekānta-vāsa), tidak melakukan kontak (nihsangatā), ketidakpedulian (audāsinya), pengekangan nafsu (vairāgya), dan ‘mengikuti jejak sang guru’ (guru-carana-avarūdhatva).

OM

kb: 1 kata suci bersuku satu y ang melambangkan Sang Mutlak; 2 mantra tertua dan paling dihormati dari semua mantra Hindu, juga digunakan dalam Buddhisme.
Om hanya diisyaratkan dalam Veda dan muncul pertama kali dalam Brāhmana. Kata ini juga disebut ‘mantra akar’ atau mūla-mantra dan sering mendului mantra lainnya. Maitrāyanīya-Upanishad (6.22) menyebutnya sebagai ‘suara Sang Mutlak yang sunyi’.
Dengan mengucapkan – lebih tepatnya ‘mendengungkan’ – para yogi memfokuskan perhatiannya ke titik di mana ia dapat melampaui kesadaran terbatas. Upanishad itu (6.24) mengibaratkan tubuh sebagai busur, suku kata om sebagai panah, pikiran terfokus ke ujung panah, dan Misteri Utama sebagai target. Bagai laba-laba yang memanjat melalui benangnya dan menemukan ruang terbuka, begitupun mediator memanjat melalui om dan menemukan otonomi (sva-tantrya).
Mandūkya-Upanishad, yang sepenuhnya didedikasikan sebagai analisis teologi dan esoterisme dari monosilabel om ini, dibuka dengan kalimat berikut: “Om! Suku kata (akshara) ini adalah seluruh dunia ini.” Penjelasan lebih lanjutnya adalah: “Masa lalu, masa kini, dan masa depan – semuanya tidak lain adalah suara om. Dan apa pun yang melampaui ketiga waktu – itu juga tidak lain adalah suara om.
Kitab suci yang sama juga menjelaskan bahwa om terdiri dari empat bagian atau ‘ukuran’ (mātra): a, u, m, dan suara imbuhan (anusvāra), diwujudkan oleh titik yang di atas huruf m dalam bahasa Sansekerta, yang berarti bunyi dengung hidung. Keempat bagian dibandingkan dengan empat keadaan kesadaran: terjaga, bermimpi, tidur, dan ‘kesadaran ke-empat’ (turīya), yang merupakan Diri Transendental di luar pikir.

——————————————————-

Catatan:
1. Singkatan:
     har = makna harfiah
kb = kata benda
kk = kata kerja
ks: kata sifat
ungk = ungkapan

2. Sumber:
Feuerstein, Georg. 2011. The Encyclopedia of Yoga and Tantra. Boston: Shambala Publications.

.

.

Advertisements

Sila beri tanggapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s