P – R

PARAMA – GURU

(n) 1 maha guru; 2 gurunya guru
Dalam konteks teologis, parama-guru adalah Yang Ilahi itu sendiri, yang adalah sumber dari semua pengetahuan dan ajaran spiritual.

PARAMPARĀ

(har): ‘dari satu orang untuk orang lain’
adalah rantai suksesi ajaran lisan yang tidak terputus dari guru kepada murid (shishya). Secara tradisional adalah menguntungkan dan penting untuk menjadi anggota suatu kekerabatan perguruan, walau selalu ada orang yang tercerahkan tanpa berguru kepada seorang guru manusia.

PARINĀMA

kb: 1 transformasi; 2 perubahan
Sebuah istilah kunci dalam filsafat Patanjali, menunjukkan perubahan berseri. Menurut Yoga-Sūtra (3.13), ada tiga tipe transformasi dasar: (1) dharma-parināma, perubahan dalam substansi, (2) lakshana-parināma, perubahan implisit pada kenyataan bahwa waktu (kāla) meliputi masa lalu, sekarang, dan masa depan; dan (3) avastha-parināma, perubahan kualitatif karena efek waktu (misalnya, penuaan), seperti ketika bejana tanah liat pecah dan kembali menjadi tanah. Patanjali berusaha menerapkan wawasan ini pada kesadaran dan transmutasinya melalui teknik yoga. Filsafat Patanjali tentang perubahan tidak memberi ruang bagi permanensi fenomena kosmos. Hanya Diri Transendental (purusha) yang dianggap menikmati kekekalan (aparināmitva).

PINGALĀ – NĀDĪ

Kb: saluran halus di sebelah kanan saluran pusat (sushumnā-nādī), salah satu dari tiga saluran utama tempat ebergi vital (prāna) bersirkulasi.
Banyak kitab menyatakan bahwa saluran ini berakhir di lubang hidung kanan, namun Shiva-Samhitā (2,26) menyatakannya berakhir di lubang hidung kiri.

Pingalā-nādī diasosiasikan dengan matahari (sūrya) dan bertanggung jawab untuk memanaskan tubuh. Saluran ini berkesesuaian dengan sistem syaraf. Pingalā-nādī juga kerap disebut dumbhinī, sūrya, yaminā, aksharā, kāla-agni, ridrī, dan candī.

PRAJNĀ

kb: 1 kebijaksanaan; 2 pengetahuan
Sinonim untuk jnāna; wawasan yang membawa kepada pembebasan atau bahkan esensi dari pembebasan itu sendiri.

Mahābhārata menyatakan bahwa kebijaksanaan sebagai kebajikan tertinggi: “Kebijaksanaan adalah dasar dari keberadaan. Kebijaksanaan adalah perolehan tertinggi. Kebijaksanaan adalah kebaikan terbesar di dunia. Kebijaksanaan adalah surga kebajikan” (12.173.2)

Menurut Yoga-Sūtra (1.49), prajnā adalah gnosis yang diperoleh pada tahap ekstase (samādhi) dan sangat berbeda dari pengetahuan yang diperoleh dengan menarik kesimpulan atau dari tradisi. Prajnā adalahpengetahuan berdasarkan persepsi langsung (sākshātkāra). Pada tingkat tertinggi, pengetahuan-super ini adalah ‘wujud kebenaran’ (ritambhara).

PRAKRITI

kb: 1 kreasi; 2 ciptaan
Terminologi Yoga dan Sāmkhya untuk kosmos, dan kerap diterjemahkan sebagai alam semesta. Walau tidak muncul dalam Bhagavad Gītā dan Upanishad, konsep ini sudah dikenal dan kerap dituliskan sebagai avyakta (tidak terwujud).

PRAMANA

har: 1 ukuran; 2 standar
kb: 1 kognisi; 2 pengetahuan sahih
Seperti semua ajaran Hinduisme, yoga tidak memintas wacana penting dalam filsafat, yaitu tentang kemungkinan dan cakupan pengetahuan. Patanjali mengemukakan tiga sumber pengetahuan sahih, yaitu persepsi (pratyaksha), kesimpulan (anumāna), dan kesaksian (āgama). Dalam disiplin ilmu pengetahuan lain, ada yang menambahkan dengan perbandingan (comparison), anggapan (presumption), dan keyakinan (non-apprehension).

PRĀNA

har: 1 bernafas, dari awalan pra + kata dasar an; 2 udara
kb: 1 energi vital; 2 daya kehidupan
Prāna adalah energi yang universal dalam hakikatnya. Prāna adalah energi tidak kentara yang terkandung dalam udara, makanan, air, dan sinar matahari, dan menjiwai segala bentuk materi. Seporsi prāna juga ada dalam tubuh manusia. Prāna mengalir pada tingkat superfisial (dangkal; di dekat permukaan) untuk memelihara tubuh dan organ-organnya.
Ada lima fungsi prāna dalam tubuh manusia yang bertanggung jawab untuk mengatur fungsi-fungsi tubuh yang berbeda, yaitu prāna, apāna, vyāna, udāna, dan samāna. Kelimanya adalah prinsip-prinsip dalam energi tunggal – bukan lima hal yang berbeda. (Lebih jauh tentang lima prinsip prāna, sila baca artikel DIRI # 2: Prana)

Pada awalnya prāna disamakan dengan Yang Mutlak (brahman) sebagai sumber transendental segala kehidupan. Dalam konteks sekuler, prāna merujuk ‘udara’. Dalam kitab suci Hinduisme, prāna hampir selalu menandakan daya kehidupan universal, yang merupakan energi psikofisik yang dinamis, mirip dengan pneuma dalam tradisi Yunani Kuno. Yoga-Vāsishtha mendefinisikan prāna sebagai ‘kekuatan yang bergetar’ (spanda-shakti) yang menjadi landasan segala perwujudan. Penulis generasi yang lebih baru, membedakan antara ‘daya kehidupan utama’ yang universal (mukhya-prāna) dan daya kehidupan sebagaimana menghidupkan makhluk individual.

Dalam Chāndogya-Upanishads (2.13.6) kelima prinsip ini disebut sebagai ‘penjaga gerbang ke dunia surgawi’, menunjukkan pemahaman esoteris tentang hubungan erat antara nafas dan kesadaran, yang menuntun penemuan berbagai teknik pengendalian pernafasan (prānāyama).
Sinonim umum untuk prāna adalah marut, vāta, vāyu, dan pavana.

PRĀNA – SHAKTI

Kb: 1 daya yang dikandung oleh prāna.
Lihat PRĀNA, SHAKTI

PRĀNAMAYA – KOSHA

kb: 1 tubuh vital; 2 selubung yang terbentuk dari daya vital
Adalah salah satu dari lima selubung (kosha) yang menyelimuti luminositas Diri Transendental. Prānamaya-kosha terdiri dari prāna yang punya lima fungsi, dan lima karma indriya.Para okultis modern kerap menyamakannya dengan aura.

PRANAVA

har: berdengung
kb: suara esoteris kata suci om, yang dilafalkan dengan dengungan nasal.
Menurut Yoga-Sūtra (1.28), pranava harus dibunyikan dan makna-dalamnya dikontemplasikan untuk pemberdayaan ‘pikiran dalam’ (pratyakcetana). Shiva-Purāna (1.17.4) memberikan etimologi imajinatif berikut: pra dari prakriti (kosmos) dan nava (perahu), karena pranava adalah perahu bagi para yogi untuk dapat menyeberangi lautan keberadaan dengan aman dan mencapai pantai Sang Mutlak.

PRĀNĀYĀMA

kb: pengendalian pernafasan
Bentukan dari kata prāna (nafas atau daya-kehidupan) dan āyāma (perpanjangan), yang mengisyaratkan esensi utama pengendalian nafas, yaitu fase retensi (kumbhaka) atau menahan nafas.
Tiga fase dalam prānāyāma: 1 pūraka (inhalasi atau menarik nafas); 2 kumbhaka (retensi atau menahan nafas); dan 3 recaka (ekshalasi atau melepaskan nafas)
Beberapa jenis prānāyāma: 1 sūrya-bedha atau sūrya-bedhana (pernafasan matahari); 2 ujjayī (pernafasan penenangan); 3 bhastrikā (pernafasan hembusan); 4 kapāla-bhāti (mencerahkan tengkorak); 5 kumbhaka-prānāyāma (menahan nafas).

Lebih jauh soal prānāyāma lihat artikel Prānāyāma: Pengendalian Nafas

PRATYAKSA

kb: 1 persepsi langsung; 2 intuisi
Persepsi langsung berupa sensasi, persepsi, dan kognisi adalah perangkat untuk mengenali dunia, menilai dan mengambil keputusan atasnya untuk tujuan membangun relasi-relasi. Relasi-relasi inilah yang membentuk kehidupan sosial kita.

PRATYĀHĀRA

kb: kondisi kesadaran saat indera ditarik dari objeknya
Adalah tapak ke-lima dalam yoga delapan tapak (ashta-anga-yoga) karya Patanjali. Dalam Yoga-Sūtra (2.54) pratyāhāra didefinisikan sebagai tiruan alam kesadaran ketika indera terpisah dari objeknya. Pada kondisi ini indera mencapai ‘ketaatan’ tertinggi (vashyatā).

Pratyāhāra adalah kemampuan untuk ‘mematikan’ indera dan membawa pikir masuk ke dalam diri secara ekstrim. Vyāsa, dalam karyanya Yoga-Bhāshya (2.54), memberikan perumpamaan berikut: “Seperti ketika ratu lebah terbang dan kawanan lebah mengikutinya, dan ketika ia mapan, merekapun menetap: begitupun, indera bisa dikendalikan ketika kesadaran (citta) terkendali.”

Maitrāyanīya-Upanishad (6.25) membandingkan pratyāhāra dengan penarikan kesadaran inderawi ketika tidur. Perbandingan ini tidak terlalu tepat, karena pratyāhāra adalah proses yang dilakukan dengan sengaja dan tidak menyebabkan berkurangnya kesadaran, namun justru mengintensifkan kesadaran. Yoga-Cūdāmanī-Upanishad (121) mengibaratkan proses ini bagai matahari menarik kilaunya di senja hari. Shāndilya-Upanishad (1.8.1) memberikan sebuah interpretasi simbolik atas pratyāhāra: segala yang terlihat harus dianggap sebagai Diri.

Sebuah penggambaran menarik tentang penarikan indera ditemukan dalam Goraksha-Paddhati (2.24): “Seperti kura-kura menarik anggota tubuhnya ke tengah-tengah tubuhnya, begitupun yogi harus menarik indera ke dalam dirinya.” Text ini (2.25ff) berlanjut sebagai berikut:

Menyadari bahwa apapun yang didengarnya, [baik itu] menyenangkan atau tidak menyenangkan, adalah Diri: yogi menarik inderanya.

Menyadari bahwa apapun aroma yang terhirup dengan hidung adalah Diri: yogi menarik inderanya.

Menyadari bahwa apapun yang dilihatnya dengan mata, [baik itu] murni atau tidak murni, adalah Diri: yogi menarik inderanya.

Menyadari bahwa apapun yang dirasanya dengan kulit, berwujud atau tidak berwujud, adalah Diri: yogi menarik inderanya.

Menyadari bahwa apapun dicecapnya dengan lidah, [baik itu] asin atau tidak asin, adalah Diri: yogi menarik inderanya.

Menurut Tejo-Bindu-Upanishad (1.34), pratyāhāra adalah ‘tapak’ ke-dua belas dari yoga tapak lima belas (panca-dasha-anga-yoga). Di sini, pratyāhāra didefinisikan sebagai ‘kesadaran yang menyenangkan’ (citta-ranjaka), yang melihat Diri dalam segala hal. Pandangan ini berbeda dengan kebanyakan definisi lain, yang menganggapnya sebagai keadaan batiniah akut. Tri-Shikhi-Brāhmana-Upanishad (2.30) mendefinisikan pratyāhāra sebagai kondisi kesadaran ‘ke dalam diri’ (antar-mukhin). Pada bagian lain (ayat 130) teks yang sama berbicara tentang sebagai penarikan energi kehidupan (prāna) dari tempat-tempat yang berbeda dalam tubuh.

PURUSHA

har ks: 1 (bersifat) laki-laki; 2 jantan
kb: 1 Diri Transendental; 2 Roh Murni; 3 ātman
Istilah Yoga dan Sāmkhya untuk Diri Transendental, atau Roh Murni. Dalam tradisi Vedānta disebut ātman. Brihadāranyaka-Upanishad (1.4.1) menyebutnya ‘Yang mendului (pūrva) segalanya, menelan (aushat) segala kejahatan.’ Go-Patha (Cow Path)-Brāhmana (1.1.39), sebuah karya berusia lebih dari 3000 tahun, mendefinisikan kata purusha sebagai ‘dia yang bersemayam di puri’ (puri-shaya), ‘puri’ itu adalah tubuh.

Purusha, sebagai Kesadaran Transendental, adalah ‘saksi’ (sākshin) dari semua pengalaman psikomental. Dalam Yoga-Sūtra (1.3) Diri disebut ‘yang melihat’ (drashtri). Vivarana (1.3) menamainya sebagai ‘kognisor’ (buddhi). Dalam Yoga Pra-klasik secara luas disebut sebagai ‘yang mengetahui’ (jna) atau ‘ranah yang mengetahui’ (kshetra-jna), yaitu ranah kosmos dalam bentuk tubuh dan pikir individual.

Dalam Yoga Klasik purusha, yang menata ‘kekuatan Kesadaran’ (citi-shakti), dipahami sebagai benar-benar berbeda dari kosmos (prakriti), yang sama sekali tidak memiliki kesadaran. Namun apa yang kita sebut kesadaran ini adalah hasil korelasi (samyoga) misterius antara purusha dan prakriti. Korelasi inilah yang akan ditembus melalui proses yoga, sampai Diri memancar dalam kecemerlangan aslinya.

Katha-Upanishad (5.3) menyebut purusha sebagai ‘kurcaci’ (vāmana) yang bersemayam di bagian tengah tubuh, yaitu di jantung, karena dalam hubungannya dengan pikir-tubuh, ukurannya hanya sebesar ‘ibu jari’ (4.12). Namun, dalam status transendentalnya, purusha tak terbatas. Hakikat ganda Diri ini – dalam bentuk terikat maupun liberal – telah memunculkan pertanyaan apakah ada banyak Diri Transendental atau, seperti pada tradisi Vedānta, hanya ada Diri tunggal (ātman). Mahābhārata (12.338.2) menyatakan bahwa baik Yoga maupun Sāmkhya mengakui keberadaan multi-purusha di dunia, namun semua mengakar dalam Diri tunggal, yang kekal, baka, dan tidak terbandingkan. Diri, dijelaskan dalam bagian yang sama sebagai ‘yang melihat’ (drashtri) sekaligus ‘yang terlihat’ (drashtavya). Pandangan ini adalah karakteristik mazhab Epik Yoga atau Yoga Praklasik. Bagaimanapun, ini bukan pandangan Yoga Klasik.

Yoga-Bhāshya (1.24) dengan jelas menyatakan bahwa ada banyak purushas, atau Roh, yang bebas. Mereka disebut kevalin, seperti dalam Jainisme. Namun demikian, Tattva-Vaishāradī (1.41) menekankan bahwa tidak ada perbedaan di antara Diri yang banyak ini. Dengan logika yang sama, baik Patanjali, penulis buku teks Yoga Klasik, dan Īshvara Krishna, pendiri Sāmkhya Klasik, menyatakan bahwa jika ada satu makhluk yang bisa berada di banyak tempat dan di banyak waktu sekaligus, mereka disebut tak berhingga dan kekal. Dan begitulah purusha.

RĀGA

kb: 1 gairah; 2 pamrih
Salah satu dari lima ‘penyebab penderitaan’ (klesha). Dalam Yoga-Sūtra (2.7) diungkapkan sebagai tempat seseorang berada pada saat senang. Kerap dipasangkan dengan dvesha, yang berarti ‘penolakan’ atau ‘kebencian’. Bhagavad-Gītā (3.34) menyebutnya ‘lapisan dua arah’ (paripanthin).

RĀJA – YOGA atau YOGA RĀJA

Rāja-yoga (Royal Yoga) [atau yoga rāja menurut kaidah bahasa Indonesia], adalah yoga-darshana, atau Yoga Klasik, seperti diuraikan secara ringkas dan tajam oleh Patanjali dalam Yoga-Sūtra. Rāja-yoga sering dikontraskan dengan hatha-yoga (atau yoga hatha); yoga rāja dianggap berisi praktik-praktik spiritual yang leih tinggi, sedangkan yoga hatha adalah disiplin persiapan. Perbedaan ini muncul pada sekitar abad ke-sebelas M., sebagai bagian dari upaya untuk mengintegrasikan pendekatan delapan tapak yang lebih meditatif dengan ajaran baru positif-tubuh Tantra Yoga Hatha.

Hatha-Yoga-Pradīpikā (3:126), yang berupaya menjembatani kedua pendekatan yoga itu menegaskan: “Tanpa rāja-yoga, malam (nishā) [adalah celaka]. Tanpa rāja-yoga, bahkan mudrā [tidak membawa manfaat].” Bait ini menunjukkan penghalusan pada kata rāja, yang menunjukkan kekuasaan tertinggi, bulan (rāja), dan stempel raja (rāja). Jyotsnā, dalam komentar terhadap teks dari abad pertengahan ini memahami kata ‘bumi’ dan ‘malam’ secara simbolis. Dibutuhkan rāja-yoga untuk kualitas stabilitas (sthairya) postur yoga (āsana), dan hatha-yoga ketika tidak ada aliran energi vital pada praktek retensi nafas (kumbhaka).

Yoga-Shikhā-Upanishad (1:137) menjelaskan rāja-yoga sebagai kesatuan (yoga) antara rajas dan retas, atau prinsip kreatif laki-laki dan perempuan. Dengan berlatih penyatuan ini, dikatakan, seorang yogi akan ‘bersinar’ (rājate).

RAJAS

Kb: 1 yang dipengaruhi; 2 ks: senang; 3 terpesona
Sebuah terminologi dengan banyak makna penting. (1) salah satu dari tiga konstituen (guna) kosmos yang utama. Rajas adalah prinsip dinamis, yang aspek-aspeknya tercatat di Maitrāyanīya-Upanishad (3.5) sebagai berikut: rasa haus (trishnā), kasih sayang (sneha), gairah (rāga), keserakahan (lobha), kekerasan (himsā), nafsu (rati), visi palsu (drishti), kontradiksi (vyāvritatva), kecemburuan (īrshyā), hasrat (kāma), ketidakstabilan (asthiratva), keraguan (cāncalatva), posesif (jihīrshā), tamak (artha-uparjana, ditulis arthoparjana), nepotisme (mitra-anugrahana, ditulis mitrānugrahana), ketergantungan pada orang lain (parigraha-avalamba, ditulis parigrahāvalamba), penolakan objek yang tidak diingini (anishteshu indriya-artheshu dvishti), dan hasrat terhadap objek yang diingini (ishteshu abhishu anga).

(2) rajas menunjukkan disposisi mental atau emosional dari ‘gairah’ dan dianggap sebagai cacat (dosha). Bhagavad-Gītā (14.7) menggambarkannya sebagai hakikat ‘daya tarik’ (rāga), yang muncul dari kehausan (trishnā) dan pamrih (sanga). Juga dikatakan bahwa rajas menghasilkan ikatan melalui keinginan untuk bertindak.

(3) merujuk ‘benih’ perempuan, atau sekresi vagina. Dalam Tantra dan beberapa mazhab Hatha-Yoga, cairan rajas ini disedot melalui penis dengan cara vajrolī-mudrā. Lebih jauh, rajas juga merujuk prinsip perempuan, atau shakti, secara umum. Karena itu Yoga-Shikhā-Upanishad (1.136) menyatakan: “Di tengah perineum (yoni), di tempat agung itu, tersembunyi sumur rajas, prinsip Sang Dewi, menyerupai japa dan bandhuka [bunga].”

——————————————————–

Catatan:
1. Singkatan:
     har = makna harfiah
     kb = kata benda
     kk = kata kerja
ks = kata sifat
     ungk = ungkapan

2. Sumber:
Feuerstein, Georg. 2011. The Encyclopedia of Yoga and Tantra. Boston: Shambala Publications.

.

.

Advertisements

Sila beri tanggapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s