S

SAD – GURU

(n) 1 guru sejati; 2 guru [yang mengajarkan] kebenaran

bentukan dari kata sat + guru; seorang guru spiritual sejati yang telah tercerahkan atau telah mencapai realisasi Diri Sejati. Kulārnava-Tantra (13:104 dst) memuat stanza tentang guru seperti berikut:

Ada banyak guru (guru), seperti lampu menerangi seisi rumah, tetapi sulit ditemukan, ya Devī, seorang guru yang menerangi seluruhnya seperti matahari.

Ada banyak guru yang ahli dalam kitab suci dan buku-buku pengetahuan (shāstra); namun sulit ditemukan, ya Devī, guru yang telah mencapai Kebenaran tertinggi.

Ada banyak guru di bumi yang mengajarkan segala selain Diri Sejati, tetapi sulit ditemukan di seluruh alam, ya Devī, guru yang mengungkap Diri Sejati.

Banyak guru yang merampok kekayaan muridnya, tetapi hanya sedikit guru yang mengenyahkan penderitaan muridnya.

Dialah guru [sejati] yang darinya mengalir kebahagiaan tertinggi (ānanda). Mereka yang cerdas seharusnya memilih orang seperti dia untuk menjadi gurunya dan bukan yang lain.

SADHANA (SĀDHANA atau SĀDHANĀ)

kb: praktek menenangkan pikir
Sādhana adalah praktek untuk menenangkan pikir yang mengembara dan mengarahkannya kepada Tuhan. Ini adalah laku spiritual, khususnya dalam Tantra, yang mengarah pada kesempurnaan (siddhi). Meskipun manusia pada dasarnya bebas, namun untuk menyadari kebebasan itu, seseorang harus mengembangkan pengetahuan diri dan melepaskan diri dari kepentingan. Dengan kata lain, seseorang harus hidup dalam kecenderungan yang beranalogi dengan kebebasan melekat, atau pencerahan. Proses imitasi Sang Ilahi (imitatio Dei) ini adalah esensi laku spiritual.

Sādhana dilakukan dengan menahan diri, pemurnian pikir, doa, dhāranā atau konsentrasi, dan meditasi.

SAHAJA

Adj: 1 alamiah; 2 spontan
dari kata saha + ja (‘terlahir’), secara harfiah berarti ‘terlahir bersama-sama’, atau ‘ikut muncul’.

Sahaja adalah gagasan (1) bahwa kebebasan bukan eksternal bagi kita, tetapi kondisi diri yang paling mendasar, (2) bahwa realitas fenomenal (samsāra) muncul secara bersamaan dengan, dan dalam, Realitas transendental (nirvāna), dan (3) bahwa pikiran kondisional dan pencerahan bukanlah prinsip-prinsip yang saling eksklusif.

Menurut ajaran ini, spontanitas sejati atau alamiah adalah ekspresi dari Realitas, dan pencerahan selalu dalam jangkauan. Seorang Buddhis agung, Sarahapāda, menyebutnya sebagai ‘jalan lurus’ (uju-patha) atau ‘jalan agung’ (rāja-patha). Sahaja adalah gagasan kunci Buddhisme Mahāyāna dan gerakan Sahajiyā.

SAHASRĀRA – CAKRA

kb: 1 Cakra Mahkota; 2 Roda Seribu Jari-jari; 3 Teratai Seribu kelopak
Dari kata sahasra (seribu) dan ara.
Adalah pusat psiko-spiritual (cakra) energi tubuh (prāna) teratas yang terletak di mahkota kepala, tempat kundalinī-shakti bersatu dengan Shiva. Disebut juga ‘teratai seribu kelopak ‘ (sahasra-dala-padma), ‘tempat kedudukan besar’ (mahā-pītha), dan ‘roda ether’ (ākāsha-cakra). Kitab Kaula-Jnāna-Nirnaya (5.8) menjelaskannya sebagai bunga teratai putih yang mengapung di tengah ‘lautan susu’ universal yang di pusatnya tinggallah Diri (the Self). Shiva-Samhitā (5,102, 122f) memberikan tiga lokasi yang berbeda untuk cakra ini: di akar langit-langit (tālu), di ‘celah brahma’ (brahma-randhra), dan di luar tubuh (di atas kepala). Hanya dua lokasi terakhir yang berterima umum.

Para penganut Shaiva memvisualisasikan sahasrāra-cakra sebagai Gunung Kailāsa, simbol dari Shiva dan istrinya, Pārvatī (atau Devī). Bagi para Vaishnavas sahasrāra-cakra adalah lokus sang ‘manusia tertinggi’ (parama-purusha), yaitu Vishnu. Ini adalah titik terminal atas dari saluran pusat (sushumnā-nādī) dan tujuan akhir dari ‘kekuatan ular’ terbangkitkan (kundalinīshakti). Ketika kundalinī, sang kekuatan Devī, mencapai sahasrāra-cakra, ini menandakan bersatunya Shiva dan Shakti.

Keseribu jari-jari atau kelopak pusat psiko-spiritual berbentuk lonceng ini tersusun dalam dua puluh lapisan, dengan masing-masing lima puluh kelopak. Setiap kelopak divisualisasikan memiliki satu huruf (mātrikā) dari alfabet Sansekerta tertulis di dalamnya, membentuk sebuah cincin, yang dikenal sebagai ‘karangan bunga lima jambul’ (panca-shikhā-mālā). Kantung benih teratai adalah ‘daerah lunar (candra-mandala), yang memancarkan cahaya nektarin. Kantung ini berisi segitiga bercahaya tempat bersemayamnya kekosongan (shūnya), juga disebut ‘titik benih tertinggi’ (parama-bindu), simbol dari Kesadaran-Kebahagiaan transendental.

SĀKSHI atau SĀKSHIN

kb: saksi
Sebutan umum untuk Diri Transendental. Kesadaran saksi disebut-sebut sebagai penemuan besar spiritualitas India.
Lihat juga: drashtri.

SAMĀDHI

ks: 1 ekstase; 2 kb: kuburan sirkular
Tapak (anga) terakhir dalam Jalan Yoga. Gheranda-Samhitā (7.1) menyatakan samādhi sebagai ‘Yoga besar’, yang diperoleh melalui kasih dan kebaikan guru karena pengabdian murid kepadanya. Tri-Shikhi-Brāhmana-Upanishad (2.31) menjelaskan ekstasi sebagai ‘saat melupakan yang sempurna’ pada saat meditasi, yang menduluinya. Yoga-Sūtra (3.3) menyatakan samādhi sebagai kondisi saat kesadaran (citta) bersinar sebagai objek. Artinya, dalam samādhi ada penggabungan subjek dan objek. Kūrma-Purāna (2.11.41) menjelaskan keadaan ini sebagai salah satu ‘keseragaman’ (eka-akāra). Paingalā-Upanishad (3.4) menjelaskan: “Ekstase adalah [kondisi ketika] kesadaran hanya berkisar pada objek meditasi (dheya) dan, seperti lampu ditempatkan di [tempat] tak berangin, adalah ketidaksadaran meditator (dhyātri) dan meditasi (dhyāna).”

Biasanya, ekstase disertai dengan penghapusan sensasi inderawi lengkap, melalui teknik penarikan indera (pratyāhāra) dan meditasi. Beberapa kitab, seperti Mani-Prabhā (3.12), menjelaskan bahwa samādhi memiliki intensitas dan berdurasi dua belas meditasi, yang mencakup abstraksi lingkungan eksternal. Ekstasi diyakini memiliki daya magis yang dijelaskan dalam Hatha-Yoga-Pradīpika (4.108ff):

Yogi yang diliputi ekstase tidak dimangsa oleh waktu (kāla), tidak terikat oleh tindakan [nya] (karman), dan tidak dapat dikuasai oleh orang lain.

Yogi yang diliputi ekstase tidak mengenal dirinya sendiri maupun orang lain dan tidak [mengalami sensasi] bau, rasa, rupa (rūpa), sentuh, ataupun suara.

Yogi yang diliputi ekstase tidak mengalami dingin atau panas, kesedihan atau sukacita, kehormatan atau penghinaan.

Yogi yang diliputi ekstase kebal terhadap [pengaruh magis] mantra dan yantra, dan kebal terhadap senjata apapun, dan tak bisa diserang oleh siapapun.

Semua tradisi membedakan setidaknya dua jenis ekstase utama: savikalpa-samādhi atau samprajnāta-samādhi, yaitu samādhi yang melibatkan identifikasi objek dan disertai bentuk-bentuk pemikiran yang lebih tinggi (disebut prajnā), dan nirvikalpa-samādhi atau asamprajnāta-samādhi, yang tercakup dalam identifikasi diri dengan Diri Transendental dan tanpa isi kesadaran. Hanya samādhi jenis ke-dua yang dapat mengantar kepada realisasi atau pembebasan Diri, dengan transmutasi lengkap kesadaran. Beberapa mazhab juga mengajarkan ekstase jenis ke-tiga: ‘ekstasi spontan’ (sahaja-samādhi), yang setara dengan pembebasan namun masih pada tahap ketubuhan (embodied) atau jīvan-mukti.

Samādhi mula-mula mengantar kepada ‘kesadaran menakjubkan’ (caitanya-adbhuta) dan selanjutnya menuju pembebasan (moksha). Keajaiban kesadaran memang diakses melalui berbagai kondisi samprajnāta-samādhi. Samādhi adalah kondisi ketika seorang yogi menyadari “Akulah yang Mutlak.” Oleh karena itu samādhi sering didefinisikan dalam Vedānta dan mazhab Vedāntais sebagai ‘penyatuan jiwa (jīva) dengan Diri (ātman). Ada kutipan terkenal dalam Hatha-Yoga-Pradīpika (4.5ff):

Bagai garam bercampur dan larut dalam air, begitupun bersatunya pikir dan Diri adalah ekstase.

Ketika energi kehidupan (prāna) dimampatkan [dalam saluran pusat, atau sushumnā-nādī] dan pikir ditanggalkan, maka muncul esensialitas baru (sama-rasatva), yang disebut sebagai ekstase.

Ekuilibrium (sama) diri individu dan Diri tertinggi [ketika] semua kehendak absen, disebut sebagai ekstase.

Peristiwa realisasi Diri itu sendiri akhirnya luruh. Yoga-Yājnavalkya (10.1) menyebut realisasi Diri sebagai ‘jerat keberadaan’ (bhava-pāsha). Oleh karena itu samādhi kerap disamakan dengan pembebasan atau pencerahan.

Model paling lengkap tentang ekstatie adalah Yoga Klasik. Bentuk-bentuk samādhi berikut adalah dalam urutan terbalik: (1) ekstase supra-sadar (asamprajnāta-samādhi), dan (2) ekstase sadar (amprajnāta-samādhi), dengan bentuk-bentuk turunannya: (a) pencerahan supra-refleksif (nirvicāra-vaishāradya), (b) ekstase supra-refleksif (nirvicāra-samādhi), (c) ekstase refleksif (savicāra-samādhi), (d) ekstase supra-kogitatif (nirvitarka-samādhi), dan (e) ekstase kogitatif (savitarka-samādhi).

Berbagai bentuk ekstase-sadar juga mencakup teknik penyatuan (samāpatti), yang mengacu pada penyatuan subjek dan objek, yang merupakan ciri khas ekstase. Beberapa pihak, seperti Vācaspati Mishra, memasukkan kondisi-kondisi tambahan berikut sebagai subkategori ekstase-sadar: (a) ekstase melampaui ke-aku-an (nirasmitā-samāpatti), (b) ekstase dengan ke-aku-an (sa-asmitā-samāpatti), (c) ekstase melampaui kebahagiaan (nirānanda-samāpatti), dan (d) ekstase dengan kebahagiaan (sa-ānanda-samāpatti). Legitimasi skema ini diragukan dan sudah ditolak oleh Vijnāna Bhikshu.

Terminologi samādhi juga digunakan untuk menunjuk kuburan melingkar para yogi. Di India kaum pertapa dimakamkan dalam posisi bersila, sedangkan orang biasa dikremasi. Kremasi dipandang sebagai ritus perjalanan bagi mereka yang belum dimurnikan oleh api Yoga.

SAMĀNA

kb: salah satu prinsip utama daya kebidupan (prāna)
Berasal dari awalan sam (bersama), dan kata dasar an (bernafas). Samāna bertanggung jawab untuk memberi makan tubuh dengan mendistribusikan makanan sebagai rasa. Menurut Linga-Purāna (1.8.65), samāna menormalkan fungsi tubuh. Banyak naskah Hatha-Yoga menyatakan bahwa samāna terletak di area pusar, tetapi Mahābhārata (12.177.24) menyatakannya terletak di jantung. Menurut Yoga-Sūtra (3.40), samāna mengarahkan kepada ‘kilau’ (jvalana).

SĀMKHYA

kb: Sebuah sistem filsafat yang dikemukakan oleh Kapila.

SAMAPATTI

Secara harfiah berarti ‘kebetulan’. Dalam Yoga Klasik, adalah identifikasi ekstase dengan objek kontemplasi. Dalam pengertian ini, samāpatti sinonim dengan samādhi, atau proses yang mendasari samādhi.

SAMPRAJNĀTA-SAMĀDHI

ks: ekstase sadar

adalah serentang pengalaman ekstatik yang memiliki penyangga objektif (ālambana) yang berasosiasi dengan pengetahuan superior (prajnā), sehingga kesadaran (citta) teridentifikasi. Menurut Yoga-Sūtra (I.17), bentuk-bentuk utama ekstase sadar adalah vitarka-, vicāra-, ānanda-, dan asmitā-samāpatti (atau –samādhi).

Yoga-Bhāshya (I.17) mengajukan skema berikut untuk memahami komposisi masing-masing bentuk:

vitarka (kenangan)      = vitarka + vicāra + ānanda + asmitā
vicāra (refleksi)            =                vicāra + ānanda + asmitā
ānanda (kebahagiaan)  =                             ānanda + asmitā
asmitā (ke-aku-an)      =                                             asmitā

Dengan demikian, aspek yang lebih halus terkandung aspek-aspek yang lebih kasar (sthūla), sementara aspek-aspek yang lebih kasar itu luruh ketika aspek-aspek yang lebih halus mencapai ekstase.

Vācaspati Mishra dalam Tattva-Vaishāradī (I.47) menyatakan bahwa fokus dari dua ekstase pertama adalah objek-kesadaran kasar dan halus, sedangkan fokus ekstase ke-tiga adalah indera, dan fokus ekstase ke-empat adalah prinsip ego (asmitā). Lebih jauh Vācaspati berpendapat bahwa masing-masing jenis ekstase memiliki bentuk yang lebih tinggi, yaitu ketika semua konten sadar terhenti, dan menjadi nirvitarka-, nirvicāra-, nirānanda-, dan nirasmitā-samāpatti. Walau begitu, tipologi delapan bentuk ekstase sadar ini secara eksplisit ditolak oleh Vijnāna Bhikshu, yang hanya mengaku enam bentuk saja. Ia menyatakan bahwa objek ekstase yang ‘berkesesuaian dengan kebahagiaan’ (ānanda-samāpatti) adalah kebahagiaan itu sendiri, dan objek ekstase yang ‘berkesesuaian dengan ke-aku-an’ (asmitā-samāpatti) adalah intuisi (samvid) Diri Absolut (kevala-purusha). Jadi tidak ada bentuk-bentuk nirānanda dan nirasmitā pada terjadinya ekstase.

Keenam (atau kedelapan) bentuk samprajnāta-samādhi ini sesuai dengan savikalpa-samādhi dalam Vedānta. Bentuk ekstase yang lebih unggul dari kesemuanya adalah ekstase supra-sadar (asamprajnāta-samādhi) yang menyingkap Diri Transedental.

SAMSKĀRA

kb: 1 impresi; 2 ritual; 3 kecenderungan sejak lahir; 4 penggerak
Samskāra dalam pengertian umum berarti ‘ritual’, merujuk setiap ritual seperti upacara kelahiran, mencukur rambut, dan pernikahan.
Dalam yoga, kata ini memiliki signifikansi psikologis. Samskāra berkontribusi atas jejak tak terhapuskan di lapisan bawah sadar yang ditinggalkan oleh pengalaman keseharian, baik secara sadar maupun tidak sadar, internal maupun eksternal, diinginkan maupun tidak diinginkan. Samskāra mengisyaratkan bahwa jejak-jejak ini bukan semata sisa-sisa pasif dari tindakan dan kemauan seseorang, tetapi kekuatan yang sangat dinamis dalam kehidupan psikisnya. Samskāra terus-menerus menggerakkan kesadaran menjadi tindakan.
    Yoga-Sūtra membedakan dua jenis penggerak bawah sadar, yaitu yang mengarahkan kepada eksternalisasi (vyutthāna) kesadaran dan yang menyebabkan hambatan (nirodha) pada proses kesadaran. Seorang yogi harus mengembangkan tipe yang terakhir untuk mencapai kondisi ekstase (samādhi), yang mencegah pembaruan penggerak subliminal. Menurut Yoga-Sūtra, pada tingkat tertinggi ekstase-sadar (samprajnāta-samādhi) suatu penggerak subliminal dibangkitkan dan menghambat penggerak yang lain, sehingga mengarah lebih dalam kepada kondisi ekstase supra-sadar (asamprajnāta-samādhi).

SAMYOGA

kb: 1 korelasi; 2 hubungan; 3 koneksi

Dalam yoga klasik merujuk pada korelasi antara Diri Transendental (purusha) dan kosmos (prakriti), yakni antara Kesadaran Transendental dan kesadaran empiris (citta). Korelasi, atau koneksi ini, adalah akar dari semua penderitaan (duhkha). Hal ini disebabkan oleh ketidaktahuan spiritual (avidyā) dan bisa dihilangkan melalui kebijaksanaan (prajnā). Patanjali menyatakan bahwa kontak antara Diri dan objek yang dialami (drishya) hanyalah persimpangan, karena baik Diri maupun pengalaman kosmos pada dasarnya benar-benar berbeda. Ia tidak menganalisis masalah epistemologis ini lebih lanjut, sehingga menimbulkan banyak spekulasi dalam literatur yang mengomentari Yoga-Sūtra. Vācaspati Mishra berbicara tentang hubungan misterius antara Diri dan kesadaran. Seperti yang dipaparkannya dalam Tattva-Vaishāradī (2.17), aspek sattva pikiran mencakup refleksi (bimba) Kesadaran Transendental (caitanya), yang menghasilkan ilusi kesadaran empiris. Vijnāna Bhikshu bahkan berbicara tentang ‘refleksi balik’ (pratibimba) dari keadaan mental dalam Diri. Bhagavad-Gītā juga menggunakan terminologi samyoga untuk merujuk hubungan kausal antara tindakan (karman) dan buahnya (phala).

SANTOSHA (SAMTOSHA)

ks: 1 ikhlas; 2 rasa puas
adalah salah satu konstituen disiplin diri (niyama) dalam Yoga Klasik.

Menurut Yoga-Sūtra (2:42), santosha mengantar kepada sukacita (sukha). Darshana-Upanishad (2:4-5) menjelaskannya sebagai rasa puas akan apapun yang dibawa oleh nasib. Karya abad pertengahan ini juga mengungkapkan tentang kepuasan tertinggi (para-samtosha), yang merupakan kondisi sukacita yang dihasilkan dari proses pengendalian diri yang sempurna (vikarti) dan berakhir pada realisasi Sang Mutlak. Mahābhārata (12.21:2) mengagungkan ‘ikhlas’ sebagai berikut: “Ikhlas adalah sungguh-sungguh surga tertinggi. Ikhlas adalah sukacita tertinggi. Tidak ada yang lebih tinggi daripada ikhlas (tushti). Ikhlas sempurna dalam dirinya. Laghu-Yoga-Vāsishtha (2.1:73) menjelaskannya sebagai “keberimbangan” (samatā) antara kesulitan dan kemudahan, serta antara hal-hal dalam genggaman dan hal-hal yang jauh dari jangkauan.

SAT-CHID-ĀNANDA

kb: 1. keberadaan; 2 kesadaran; 3 kebahagiaan

Gabungan dari sat + cit + ānanda, tiga aspek penting Sang Mutlak, sebagaimana diajarkan dalam Vedānta. Namun, sat-chid-ānanda bukan kualitas, karena Sang Mutlak adalah tidak terbatas (nirguna) dan menyeluruh (akala). Dengan demikian kebahagiaan bukanlah keadaan pikir namun kondisi yang ada ketika semua fenomena psiko-mental, termasuk pengalaman sukacita, telah terlampaui.

SATYA

kb: 1 kebenaran; 2 kejujuran

Dalam pemahamn yoga, ‘kejujuran’ adalah salah satu praktik ketaatan moral (yama). Mandala-Brāhmana-Upanishad (1.4) memasukkannya dalam daftar praktik pengendalian diri (niyama).
Kejujuran menduduki tempat yang tinggi dalam tradisi spiritual. Mahānirvāna-Tantra (4.75ff) menjelaskan kejujuran sebagai:

  • Tidak ada keutamaan (dharma) lebih baik daripada kejujuran, tidak ada dosa lebih besar daripada ketidakbenaran. Oleh karena itu manusia [pemenang] harus berlindung di dalam kejujuran dengan segenap hatinya.
  • Tanpa kejujuran, ibadah (pūjā) adalah sia-sia. Tanpa kejujuran pendarasan [mantra suci] (japa) tidak berguna. Tanpa kejujuran, [laku] asketisme (tapas) bagai biji di tanah tandus.
  • Kejujuran adalah Sang Mutlak yang tertinggi (brahman). Sesungguhnya, kejujuran adalah tapa terbaik. Semua tindakan [seharusnya] berakar pada kejujuran. Tidak ada yang lebih baik dari pada kejujuran.

Kejujuran dalam pemahaman yoga adalah ucapan yang bermanfaat bagi keberadaan (bhūta-hita). Berbicara adalah untuk mengomunikasikan pengetahuan dan untuk melayani sesama, sehingga komunikasi tidak boleh menjadi kebohongan, ironi, atau omong kosong. Definisi ini menggabungkan integritas pribadi dengan kesetiaan pada fakta. Kebenaran adalah segala sesuatu yang berdasarkan bukti inderawi tetapi kebenaran tertinggi adalah keyakinan bahwa segala sesuatu adalah Sang Mutlak (brahman).

SATTVA

ks: 1 keberadaan; 2 murni

Dalam tradisi Yoga dan Sāmkhya, istilah ini juga mewakili salah satu dari tiga konstituen utama (guna) kosmos (prakriti). Bhagavad-Gītā (14.6) mencirikannya sebagai ‘suci, murni, menerangi, tanpa cela’. Sebagai salah salah satu konstituen guna, sattva juga memiliki dampak mengikat dan, sebagaimana dicatat dalam Bhagavad-Gitā, dapat menyebabkan keterikatan pada sukacita dan pengetahuan. Hanya dengan mengatasi rajas (prinsip dinamis) dan tamas (prinsip kelambanan), dan melalui peningkatan sattva, pembebasan atau pencerahan menjadi mungkin.

Sattva adalah prinsip psiko-kosmis kejernihan atau keberadaan belaka tanpa saringan konseptual dan lapisan emosional. Yoga klasik berusaha untuk memurnikan aspek sattva dalam jiwa ke titik ketika kejernihan diri melekat pada kejernihan Diri Transendental (purusha), yang merupakan Kesadaran Murni.

SAUMANASYA

ks: sukacita
Salah satu buah dari kemurnian (shauca), menurut Yoga-Sūtra (2.41).

SAVIKALPA – SAMĀDHI

ks: ekstase sadar

Savikalpa-Samādhi adalah terminologi Vedānta untuk samprajnāta-samādhi dalam yoga. Kata vikalpa dapat berarti ‘bentuk’ maupuan ‘ideasi’ atau proses pembentukan gagasan. Ekstase vilkapa melibatkan proses mental yang lebih tinggi yang disebut ‘berpikir’, meskipun pemikiran yang muncul secara spontan memiliki kejernihan dan kesegaraan yang berbeda dengan pemikiran hasil kerja pikir diskursif biasa.

SHAITHILYA

kb: relaksasi
Yoga-Sūtra Patanjali (2.47) menyatakan bahwa postur (āsana) harus dilakukan sambil menyantaikan semua usaha (yatna), sehingga, sebagaimana Yoga-Bhāshya menjelaskan, tidak ada kegelisahan (ejaya) dalam tubuh.

SHAKTI

(n) 1 kekuatan; 2 personifikasi bentuk feminin Sang Ilahi

adalah prinsip dinamika atau kreatif dari keberadaan, digambarkan sebagai feminin dan dipersonifikasikan sebagai Shakti, pendamping ilahiah Shiva. Konsep ini dimaksudkan untuk menjelaskan Realitas tunggal tak terbedakan dapat menghasilkan kosmos multidimensional dengan bentuk yang tak terbatas. Prinsip statis transedental ini, dipersonifikasikan sebagai Shiva, yang sejatinya tidak berkemampuan dalam penciptaan. Sebuah pepatah doktrinal populer mengatakan: “Shiva tanpa Shakti tidak berdampak apa-apa.” Shiva terpisah dari Shakti sama dengan mayat. Shiva-Purāna (7.2.4:10) mengungkapkan metafora puitis ini: “Bagai bulan (moon) tak bersinar tanpa cahaya bulan (moonlight), begitupun Shiva tak bersinar tanpa Shakti.”

Shiva disebut shaktimān, atau pemilik kekuatan, sedangkan Shakti bagai pengantin yang hidupnya menjadi lengkap dengan kehadiran mempelai pria. Shiva dan Shakti, dewa dan dewi, adalah prinsip-prinsip tak terpisahkan, dan Kaula-Jnanā-Nirnaya (17:8) membandingkan hubungannya dengan api dan asap. Beberapa mazhab menjelaskan bahwa Sang Mutlak meliputi sejumlah shakti tak terbatas; namun kerap dibedakan tiga atau lebih aspek-aspek shakti.

Kaula-Jnanā-Nirnaya (2:6) menegaskan kembali ajaran Shiva populer ketika membahas tiga aspek mendasar shakti: (1) kriyā-shakti (kekuatan tindakan), (2) icchā-shakti (kekuatan niat), yang esensinya kadang mengherankan (camatkāra); dan (3) jnāna-shakti (kekuatan pengetahuan). Masing-masing aspek mewakili sisi konatif, kehendak, dan kognitif dari keberadaan Shiva yang tidak bisa dimengerti. Pada saat kehancuran alam semesta, dua aspek pertama menjelma ke dalam aspek ketiga.

Kerap dua aspek lagi ditambahkan: (4) cit-shakti (kekuatan kesadaran) dan (5) ānanda-shakti (kekuatan kebahagiaan). Pada bagian lain, Kaula-Jnanā-Nirnaya (20:10) menyebutkan sembilan jenis shakti, sementara karya lain menjabarkan model yang lebih rumit.

Siddha-Siddhānta-Paddhati (1:5 dst) menyebutkan lima aspek shakti: (1) nijā-shakti (kekuatan bawaan); (2) para-shakti (kekuatan yang lebih tinggi); (3) sūkshma-shakti (kekuatan halus), dan (5) kundalinī-shakti (kekuatan ular). Pada bagian lain (4:2) kitab ini juga memuat aspek shakti yang lain: para-shakti (kekuatan yang lebih tinggi); sattā-shakti (kekuatan keberadaan); ahantā-shakti (kekuatan ke-aku-an); sphurattā-shakti (kekuatan manifestasi), dan kalā-shakti (kekuatan eksistensi parsial). Semua ini mengacu pada shakti yang berkaitan dengan tingkat tertentu dari proses evolusi psiko-kosmis.

Laghu-Yoga-Vāsishtha (6.2:28) mengajukan pokok penting bahwa semua shakti berada dalam tubuh manusia, yaitu realitas kosmologis sekaligus psikologis. Namun, shakti tidak hanya bertanggung jawab untuk penciptaan, tetapi juga merupakan agen perubahan dan kehancuran. Ini adalah kekuatan di balik eksistensi kosmis serta pembebasan. Secara praktis, bentuk paling signifikan dari shakti adalah kundalinī-shakti.

Dalam tradisi Tantra, shakti merujuk setiap perempuan yang merepresentasikan dewi, baik diakui maupun tidak. Terminologi shakti sudah digunakan sejak Rig-Veda (misalnya, 3.31:14, 5.31:6, 7.20:10, 10.88:10)

SHAUCA (ŚAUCA)

(v1 pemurnian; 2 pembersihan

adalah disiplin diri (niyama), menurut Yoga Klasik. Disiplin ini juga tercantum dalam beberapa kitab yoga pasca-klasik sebagai salah satu dari sepuluh praktik ketaatan moral (yama). Yoga-Sūtra (2.40) menyatakan bahwa ketika pemurnian dilakukan dengan sempurna, akan membawa kepada keengganan (jugupsā) terhadap tubuh sendiri dan keinginan untuk menghindari kontaminasi melalui kontak dengan orang lain. Yoga-Bhāshya (2.32) mencatat dua macam pembersihan: eksternal (bāhya) dan internal (bāhyantara). Yang pertama dipengaruhi oleh penggunaan air, bumi, dan substansi lainnya, serta konsumsi makanan murni. Pembersihan internal adalah mencuci diri dari noda-noda (mala) pikiran. Menurut Bhagavad-Gītā (13.7), shauca adalah manifestasi dari pengetahuan (jnāna) dan (17.14) merupakan bagian dari tapa ketubuhan (tapas).

SHIVA

Personifikasi bentuk maskulin Sang Ilahi yang statis. Terminologi ini secara harfiah berarti ‘baik hati’; paradoks, bahwa Shiva umumnya dipahami sebagai penghancur alam semesta. Dari perspektif spiritual, bagaimanapun, kekuatan destruktif itu adalah proses penting penghancuran (de-conditioning – pengondisian kembali) personalitas ego sehingga bisa ditembus cahaya Ilahi. Dalam banyak mitos, seperti diceritakan dalam Mahābhārata dan Purāna, Shiva muncul sebagai dewa tak tertandingi. Para yogi menggabungkan dalam dirinya kedua kemungkinan, asketisisme (tapas) yang ketat dan ekses orgiastis.

SMRITI

kb: 1 memori/kenangan; 2 kode hukum
Berasal dari kata smri yang berarti ‘mengingat’. Smriti adalah retensi kesadaran dari impresi pengalaman yang dialami di masa lalu. Dalam hubungannya dengan ‘kesadaran’, dalam Yoga-Sūtra (1.20), smriti disebutkan sebagai salah satu faktor yang mendului ekstase supra-sadar (asamprajnāta-samādhi). Dalam komentarnya tentang ayat ini, Vācaspati Mishra menyamakan smriti dengan dhyana (meditasi).

Dalam arti sederhana, dalam yoga Klasik, smriti diartikan sebagai memori atau kenangan, dan merupakan salah satu dari lima gejolak mental (vritti). Dalam beberapa kata mutiaranya Patanjali menggunakan kata smriti dalam arti ‘memori mendalam’ (depth memory), yaitu struktur-dalam kesadaran (citta), yang terdiri dari penggerak subliminal atau bawah sadar (samskāra) yang bertanggung jawab atas kesinambungan karma dalam hidup seseorang, juga antara kehidupan yang sekarang dan perwujudan masa depan.

STHŪLA

har: 1 kotor; 2 kasar
kb: aspek material terluar dan kasat indera dari sesuatu. Oposisinya adalah sūkshma.

STHŪLA – SHARĪRA

kb: 1 raga; 2 tubuh fisik; 3 tubuh kasar
lihat: annamaya-kosha
Kerangka fisik yang fana. Oposisinya adalah sūkshma-sharīra atau tubuh halus.

SUKHA

kb: 1 suka-cita; 2 kesenangan; 3 kemudahan
Ketika diterapkan dalam asosiasi dengan kata duhkha, merujuk pada ‘kesenangan’. Kesenangan, sebagaimana tercatat dalam Yoga-Bhāshya (4.11), menimbulkan keterikatan (rāga). Bhagavad-Gītā (18.36ff) membedakan tiga macam kesenangan, berdasarkan prevalensinya dengan guna: (1) Sāttvika-sukha: pada awalnya seperti menyakitkan, namun kemudian ternyata nektar dan menghasilkan ketenangan (prasāda). (2) rājasa-sukha: pada awalnya seperti madu, tetapi kemudian berubah menjadi racun; muncul dari kontak indera (indriya) dengan objek inderawi (vishaya). (3) Tāmasa-sukha: kesenangan yang timbul dari tidur, kemalasan, dan acuh tak acuh, dan menyebabkan orang silap.

Seperti halnya semua bentuk duhkha, semua bentuk sukha harus diatasi.

Dalam Tantra, kesenangan tidak perlu dihindari, karena di baliknya tersembunyi kebahagiaan tertinggi (ānanda). Bahkan, para pelaku spiritual disarankan untuk menemukan ‘suka-cita’ (mahā-sukha) dalam semua momen kesenangan biasa.

SŪKSHMA

har: halus
kb: dimensi batiniah atau psikis dari keberadaan
Dimensi batiniah ini tidak terlihat oleh mata fisik tetapi dapat dialami dalam meditasi. Dimensi halus ini meluas sampai ke landasan transendental (pradhāna) dari kosmos.

SŪKSHMA – SHARĪRA

kb: tubuh halus
Keseluruhan kompleks psikomental, yang menurut metafisika yoga bisa eksis independen dari tubuh fisik atau kasar. Ini adalah ‘medan’ ketubuhan yang tetap ada setelah kematian dan yang berfungsi sebagai prasyarat untuk perwujudan masa depan. Keberadaan tubuh seperti itu ditolak oleh Vācaspati Mishra dalam bukunya Tattva-Vaishāradī (4.10) dengan alasan bahwa tidak ada dukungan alkitabiah yang tepat untuk itu dan juga karena tidak perlu untuk mendalilkan suatu tubuh halus untuk menjelaskan proses kelahiran kembali (punar-janman).

SUSHUMNĀ – NĀDĪ

har: saluran yang paling ramah
kb: saluran pusat tempat energi kehidupan (prāna) mengalir dari pusat psiko-energi (cakra) di dasar tulang belakang ke mahkota kepala.

Ini adalah saluran yang paling penting dari semua nādī tubuh. Sushumnā-nādī, sebagaimana dinyatakan dalam Hatha-Yoga-Pradīpika (4.17), ‘menelan waktu, yang diciptakan oleh matahari dan bulan.’ Maksudnya, ini adalah jalan rahasia bagi para yogi untuk melampaui kutub dinamis antara arus psiko-energi kiri dan kanan – ida-nādī dan pingalā-nādī – dan memenangkan kondisi realisasi Diri yang abadi. Oleh karena itu Yoga-Yājnavalkya (4,30) menyebutnya sebagai ‘cara untuk pembebasan’ (moksha-mārga).

Seperti semua nādī, sushumnā-nādī berawal dari kanda, tetapi terus menjulur hingga ke ‘celah brahma’ (brahma-randhra) di mahkota kepala. Saluran ini memanjang di sepanjang tulang belakang, yang kerap disebut juga meru dan vīnā-danda (penggesek biola). Menurut Shat-Cakra-Nirūpana (2), saluran sumbu ini terdiri dari beberapa lapisan: vajrā-nādī, di dalamnya ada citrinī-nādī, dan dalamnya lagi ada brahma-nādī.

Sushumnā harus dimurnikan dari semua kotoran batin (mala) sehingga energi potensial (kundalinī-shakti) dapat mengalir naik di dalamnya. Proses ini terkadang disebut sebagai sushumnā-yoga atau mahā-yoga (yoga besar).

SŪTRA

(n) 1 sejenis benang (har); 2 ajaran suci berbentuk lirik

Sūtra secara harfiah adalah sejenis benang untuk kain yang dikenakan oleh kaum laki-laki dari tiga kelas sosial atas masyarakat Hindu. Sūtra juga merujuk juga lirik-lirik ringkas sebagai perangkat ajaran-ajaran suci. Dalam arti yang ke-dua, menurut Kumārila Bhatta dalam Shloka-Vārttika (1.1:22 f), ada enam jenis sūtra, menurut tujuannya, yaitu definisi (samjnā), interpretasi (paribhāshā), aturan umum (vidhi), aturan pembatasan (niyama), pernyataan asli (adhikāra), dan analogi (atidesha). Tulisan jenis ini digunakan dalam buku-sumber enam sistem (darshana) filsafat Hindu, seperti Yoga-Sūtra karya Patanjali. Dalam Buddhisme terminologi sūtra (Pali: sutta) merujuk kepada ucapan-ucapan Sang Buddha dan para bijak lainnya.

———————————————————

Catatan:
1. Singkatan:
     har = makna harfiah
     kb = kata benda
ks = kata sifat
     kk = kata kerja
     ungk = ungkapan

2. Sumber:
Feuerstein, Georg. 2011. The Encyclopedia of Yoga and Tantra. Boston: Shambala Publications.

.

.

Advertisements

Sila beri tanggapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s