T – U – V

TADĀSANA

kb: 1 posisi gunung; 2 mountain pose
Tadāsana berasal dari kata Sansekerta tada (gunung) dan asana(pose atau sikap). Ini adalah sikap berdiri sangat dasar dengan kedua kaki sejajar, tangan tergantung santai di samping tubuh, dan tubuh tegak lurus terhadap lantai.

Lebih jauh tentang tadāsana sila baca artikel Tadāsana

TANMĀTRA

kb: aspek tidak kasat indera

Kemungkinan distorsi dari tanu-mātra (materi halus). Mengacu pada kosmologi dalam tradisi Yoga dan Sāmkhya, terminologi tanmātra menunjuk aspek tak kasat indera (sūkshma) unsur-unsur material (bhūta): potensi suara (shabda), penglihatan (rūpa, har. ‘bentuk’), sentuhan (sparsha), rasa (rasa), dan bau (gandha). Sāmkya-Kārikā (38) menggambarkannya sebagai ‘non-spesifik’ (avishesha). Dalam Yoga Klasik kelima potensi itu, bersama dengan asmitāmātra, berkaitan dengan pencapaian tingkat keberadaan ‘non-partikular’ (avishesha): pikiran (manas), sepuluh indera (indriya), dan lima elemen material (panca-bhūta).

TATTVA

kb: 1 realitas; 2 elemen; 3 kebenaran; 4 esensi; 5 prinsip

UDĀNA

kb: salah satu prinsip utama daya kehidupan (prāna) dalam tubuh.
Udāna bertanggung jawab atas terjadinya sendawa, ucapan, dan kemampuan menelan makanan dari mulut ke kerongkongan dan selanjutnya ke lambung. Udāna bertanggung jawab untuk me-melayang-kan tubuh. Karena itu, adalah tugas udāna untuk menarik kesadaran ke kepala pada tahap ekstase (samādhi) dan, pada saat lain, mengantar kita ke tahap tidur lelap. Pada saat kematian udāna bertugas memisahkan tubuh vital dan tubuh fisik. Penguasaan udāna (udāna-jaya), dinyatakan dalam Yoga-Sūtra (3,39), menumbuhkan kekuatan paranormal (siddhi) berupa ‘non-adhesi (asanga) dan melayang (utkrānti). Menurut Linga-Purāna (1.8.64) dan Purāna lain, udāna merangsang zona sensitif (marman).

UDDĪYANA – BANDHA

kb: 1 kuncian melayang; 2 kuncian perut; 3 kuncian ke atas

Disebut juga uddāna. Sebuah teknik penting Hatha-Yoga yang dilakukan dengan mengontraksikan perut di bagian atas dan bawah pusar ke arah tulang belakang. Dengan begitu ‘burung besar’ atau energi kehidupan (prāna), dipaksa untuk ‘terbang ke atas’ (uddīna), yaitu naik sepanjang saluran pusat (sushumnā-nādī).

Uddīyana-bandha dilakukan sesaat sebelum dan selama melepas nafas. Beberapa manual modern mengajarkan uddīyana-bandha dilakukan hanya setelah melepas nafas. Cara ini tidak membawa manfaat, karena tri-bandha atau bandha-traya tidak terbentuk dan praktek prānāyāma tidak sempurna.

Uddīyana-bandha hendaknya tidak dilakukan ketika sedang lapar atau menderita gangguan kandung kemih atau perut.

UJJAYĪ

/‘oo-jai/
har: pemenang
kb: 1 pernafasan panjang dan dalam; 2 nafas kemenangan
Salah satu jenis pengendalian nafas (prānāyāma). Karakteristik teknis pernafasan ini adalah suara mendesis dari balik tenggorokan saat menarik dan menghembuskan nafas.

UPANISHAD

kb: satu aliran (genre) dalam Sastra Hindu.
Kata upanishad adalah komposisi kata dasar sat (duduk) dengan imbuhan upa dan ni. Secara harfiah upanishad berarti “duduk dekat dengan (guru)”.
Upanishad adalah rujukan moda penularan ilmu pengetahuan lisan dari guru (guru) kepada murid (shishya). Secara tradisional, 108 upanishad sudah dibahas, walau masih ada 200an karya lagi. Upanishad tertua disusun sebelum masa Buddhisme, yaitu pada pertengahan milenium ke dua SM. Upanishad termuda disusun pada abad ke-20.
Semua upanishad dianggap sebagai wahyu suci (shruti) dan berisi ajaran kebijaksanaan (jnana kanda) dan bukan aturan ritual (karma kanda) peninggalan Veda. Upanishad merupakan penyempurnaan ajaran Veda kuno, ditandai dengan internalisasi mistikal gagasan kunci Veda tentang pengorbanan. Upanishad harus dipahami sebagai ajaran rahasia (rahasya), dan pemikiran mistikalnya berada di sekitar empat tema besar; (1) ajaran bahwa inti transendental seseorang –Diri atau the Self (ātman)– dinyatan identik dengan inti transendental semesta (brahman); (2) doktrin tentang perwujudan ulang (punar-janman) manusia, atau, pada upanishad awal, kematian ulang (punar-mrityu); (3) doktrin tentang karma dan pembalasan, yang berusaha menjelaskan dampak metafisikal tindakan seseorang; dan (4) gagasan bahwa produksi karma dan reinkarnasi masa depan bisa dicegah melalui latihan-latihan spiritual, terutama pantang dan meditasi.
Belakangan, latihan pembebasan diri menjadi identik dengan latihan yoga, sebagaimana dibuktikan dalam Yoga Upanishad.

VĀSANĀ

kb: 1 hasrat/kehendak/keinginan/impresi halus; 2 kecenderungan yang tercipta dalam diri seseorang dengan melakukan suatu tindakan atau dengan kenikmatan; 3 impresi tindakan
Vāsanā membujuk orang untuk mengulangi tindakan atau untuk mencari pengulangan kenikmatan. Impresi halus dalam pikir ini mampu mengembangkan dirinya menjadi tindakan dan merupakan penyebab terjadinya pengalaman pada umumnya. Impresi tindakan ini tetap mengendap tidak disadari di dalam benak.

VICĀRA

(n) 1 refleksi; (adj) 2 suatu fenomena mental

Vicāra adalah suatu fenomena mental yang lebih tinggi, atau proses berpikir spontan, terkait dengan tingkat ekstase (samādhi) tertentu, ketika objek atensi terhubung dengan dimensi ‘halus’ (sūkshma) kosmos. Dalam Vedānta dan mazhab yoga berbasis Vedānta, kata vicāra juga berarti perenungan eksistensial. Menurut Laghu-Yoga-Vāsishtha (2.1:69), vicāra mencakup mengajukan pertanyaan pencarian seperti ‘Siapa aku?’ dan “Dari mana alam semesta ini?” Pencarian seperti ini adalah obat mujarab untuk ‘penyakit kronis duniawi’ (samsāra-roga).

VIJNĀNAMAYA – KOSHA

kb: 1 Selubung yang terdiri dari kecerdasan (intellect) utama
Salah satu bentuk selubung ketubuhan (kosha) yang tidak kasat indera, yang terdiri dari pikir (mind) tataran tinggi, atau yang pada beberapa ajaran disebut buddhi.

VIKALPA

har: keraguan (doubt)
kb: 1 konseptualisasi; 2 imajinasi; 3 guncangan pikir; 4 fantasi
Vikalpa adalah satu dari lima kategori gejolak mental (vritti), yang didefinisikan dalam Yoga-Sūtra (1,9) sebagai pengetahuan tanpa pengamatan objek, yang mengikuti perbedaan verbal. Istilah ini sering juga dipahami sebagai ‘imajinasi’ atau ‘fantasi’. Semua vikalpa pada hakekatnya tidak murni dan karenanya mengikat individu pada dunia yang terbatas.

VIPARYAYA

har: kesalahan (error)
kb: 1 pengetahuan yang salah; 2 pengetahuan yang salah; 3 kognisi yang salah; 4 gangguan pikir.
Viparyaya adalah satu dari lima kategori gejolak mental (vritti), yaitu ketika kita menangkap sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataannya. Menurut Yoga Bhāshya, viparyaya sinonim dengan avidyā (ketidaktahuan atau nescience), yaitu kesalahan sebagai akibat dari salah mengartikan keberadaan itu sendiri.

VISHVA

kb: kosmos secara keseluruhan
Dalam kosmologi Hindu digambarkan sebagai keberadaan yang luas, multidimensi, dan dinamis, yang timbul dalam ketidak-terbatasan Ilahi, dan diatur oleh hukum karma.

Jiwa biasa – yang belum tercerahkan (jīva) – terperangkap dalam proses kosmos dan hanya bisa lolos dari belenggu ini melalui kebijaksanaan yang lebih tinggi (jnāna, vidya), yaitu realisasi Realitas transendental. Yoga, yang diuraikan dalam Hinduisme, adalah salah satu jalan spiritual bagi jiwa yang terikat dengan dunia untuk dapat bangkit menuju identitas sejati sebagai Self (ātman, purusha) dan mendapatkan kembali kebebasannya yang esensial. Dalam perjalanan menuju pencerahan, atau pembebasan, seorang yogi bisa mendapatkan wawasan dan penglihatan luar biasa, yang mengungkapkan baginya betapa luas ruang dan waktu dalam kosmos. Pengetahuan istimewa ini, betapapun, terutama dimensi ‘halus’ (sūkshma) dunia, akhirnya harus ditanggalkan juga, sehingga semesta secara keseluruhan bisa dilampaui.

Beberapa mazhab Yoga, walau tidak semua, beranggapan bahwa dunia yang dialami oleh jiwa yang belum tercerahkan adalah musuh besar dari proses spiritual. Bagi mereka transendensi keberadaan kosmis adalah tujuan tertinggi aspirasi manusia. Ini adalah cita-cita pembebasan tanpa tubuh (videha-mukti). Sementara, suatu sudut pandang yang lebih terintegrasi memandang dunia sebagai alat bantu potensial untuk pencerahan. Menurut pandangan ke-dua ini, setelah seseorang terbangun dari mimpi keberadaan terpisah sebagai ego duniawi (subjek menghadapi banyak objek), ia akan menikmati dunia sebagai sebuah manifestasi Sang Ilahi. Itulah cita-cita pembebasan hidup (jīvan-mukti).

VIVEKA

(v) 1 melihat dengan jelas; 2 membedakan ; 3 diskriminasi

Viveka adalah kearifan untuk membedakan antara yang nyata (sat) dan tidak nyata (asat), kebenaran dan fiksi, dan terutama, Diri Transendental (ātman) dan ‘non diri “(anātman); sebuah gagasan penting dalam Yoga Klasik, yang menekankan pemisahan kekal antara Roh (purusha) dan kosmos (prakriti). Yoga-Shikhā-Upanishad (4:22), yang berdasarkan metafisika Vedānta yang non-dualis, mengecam pandangan ini, menyatakan bahwa pemisahan antara Diri Sejati dan non-diri tumbuh dari kebodohan.

VRITTI

har: pusaran
kb: 1 gelombang pikiran; 2 modifikasi mental; 3 pusaran mental; 4 aktivitas; 5 moda kehidupan; 6 mata pencarian; 7 aturan
Dalam konteks yoga, istilah ini secara khusus merujuk kepada ‘gejolak’ kesadaran (citta). Patanjali membedakan lima jenis vritti, yaitu kognisi yang sahih (pramāna), kesalahpahaman (viparyaya), konseptualisasi (vikalpa), tidur (nidra), dan kenangan (smriti). Kategori-kategori ini, meskipun jelas bukan katalog tahapan psikomental yang komprehensif, namun memiliki signifikansi dalam praktek meditasi dan ekstase, sebagaimana dinyatakan dalam Yoga-Sūtra, ” Yoga adalah pengendalian gejolak kesadaran” (yoga citta-vritti-niro-dhah).

Menurut ayat 2.11, gejolak harus dibatasi dengan cara meditasi (dhyāna). Pengendalian (nirodha) mengarah lebih dalam kepada keadaan ekstase sadar (samprajnāta-samādhi). Para yogi berusaha untuk mengamati kegiatan psikomental ini agar mereka bisa mengaburkan hakikat sebagai Diri Transendental (purusha) dan mempertentangkannya dalam keberadaan tidak otentik dan penderitaan (duhkha), karena gejolak menghasilkan penggerak subliminal (samskāra), yang memperbarui aktivitas psikomental.

VYĀNA

kb: salah satu dari lima prinsip utama daya kehidupan (prāna)
Vyāna mendorong sirkulasi darah sehingga kita merasakan sensasi kehidupan di setiap bagian tubuh. Maitrāyanīya-Upanishad (2.6) menyebutkan bahwa vyāna juga mendukung proses pernafasan, baik menarik (prāna) maupun melepaskan (apāna) nafas.

—————————————————-

Catatan:
1. Singkatan:
     har = makna harfiah
     kb = kata benda
     kk = kata kerja
ks = kata sifat
     ungk = ungkapan

2. Sumber:
Feuerstein, Georg. 2011. The Encyclopedia of Yoga and Tantra. Boston: Shambala Publications.

.

.

Advertisements

Sila beri tanggapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s