Kesadaran # 1

Manusia adalah makhluk mikrokosmis dari keseluruhan proses penciptaan kosmos. Lapisan-lapisan pembentuk komposisi semesta ciptaan juga ditemukan pada manusia individual dalam bentuk kosha atau selubung, yaitu tubuh-fisik, tubuh-vital, tubuh-mental, tubuh-intelektual, dan tubuh-kausal. Dalam bahasa Sansekerta lapisan-lapisan semesta kosmis ini disebut annamaya-kosha, prānamaya-kosha, manomaya-kosha, vijnānamaya-kosha, dan ānandamaya-kosha. Kelimanya adalah lapisan objektivitas yang secara gradiasional mengeksternalkan kesadaran.

Selubung yang paling luar dan paling kasar adalah tubuh fisik yang kasat indera. Tubuh fisik (raga) adalah daya eksternalitas, sehingga ketika kesadaran masuk ke tubuh fisik, kita secara total adalah material dalam cara pandang, fisikal dalam pemahaman dan pengajian nilai, sangat sadar tubuh, dan memahami diri hanya sebagai tubuh. Hanya ketika masuk lebih dalam, kita memiliki akses kepada lapisan personalitas yang lebih halus.

Kelima lapisan personalitas itu diklasifikasikan dalam tiga kelompok besar, yaitu, tubuh fisik, tubuh halus, dan tubuh kausal. Pada saat terjaga – tidak sedang tidur – kelima kosha beroperasi, namun paling banyak terkonsentrasi pada tubuh fisik. Pada tahap ini tubuh fisik secara mendalam beroperasi dan kita selalu berpikir dalam kerangka tubuh fisik, objek fisik, sensasi fisik.

Pada tahap bermimpi, tubuh fisik tidak beroperasi, namun tubuh-vital, tubuh-mental, dan tubuh-intelektual tetap aktif. Pada tahap ini prāna (energi vital), pikir (mind), dan akal (intellectual) tetap beroperasi dalam intensitas berkurang. Kita tetap berpikir dan memahami pada tahap bermimpi. Dengan kata lain, pada tahap bermimpi ada prāna, manas, dan buddhi, minus elemen fisik atau kesadaran tubuh.

Pada tahap tidur lelap – tidur tanpa gangguan mimpi – tubuh, pikir, dan akal tidak beroperasi, bahkan tidak ada kesadaran bahwa kita bernafas. Kesadaran ditarik dari tubuh-fisik, tubuh-vital, tubuh-mental, dan tubuh-intelektual. Hanya ada satu selubung yang beroperasi pada saat tidur lelap, yaitu tubuh-kausal atau ānandamaya-kosha.

Kesadaran Saat Terjaga

Pada kondisi terjaga, indera sangat aktif, secara fisik dan meterial. Mandukya Upanishad menjelaskan bahwa kita menikmati, mengalami, dan terhubung dengan objek di luar diri dengan 19 cara. Kesadaran memiliki 19 ‘pintu’ untuk menikmati pengalaman objektif. Apa sajakah kesembilan belas ‘pintu’ itu?

1. Jnāna-indriya

Ada lima sensasi pengetahuan, yaitu melihat, mendengar, membau, mencecap, dan meraba. Dengan lima sensasi ini kita terhubung dengan dunia luar, dan menikmatinya dengan aksi dan reaksi yang dihasilkan dari kontak sensorik ini. Kelima sensasi ini disebut Indera Pengetahuan atau jnānaindriya – kita mengenalnya sebagai Panca Indera. Disebut indera pengetahuan karena kelimanya memberi semacam pengetahuan berupa pemandangan, suara, rasa, bau, dan sentuhan.

2. Karma-indriya

Selain lima indera pengetahuan, ada lima Organ Tindakan (karma-indriya) yang tidak memberi pengetahuan tapi bertindak. Ke-lima organ tindakan itu adalah:

1. Tangan yang menggenggam
2. Organ wicara, yang mengartikulasikan kata-kata
3. Kaki yang menyebabkan gerak
4. Organ-organ reproduksi
5. Organ-organ pelepasan, baik pelepasan air-besar dan urin, maupun sperma dan telur

Organ tindakan bertindak tetapi tidak memberi pengetahuan baru apapun. Gagasan, pengetahuan, pengalaman hasil operasi organ kerja, muncul melalui sensasi inderawi dari jnāna-indriya. Bahkan, kesadaran bahwa organ tindakan beroperasi, tersedia hanya melalui jnāna-indriya. Sensasi atau pengalaman kerja karma-indriya muncul karena kerja simultan jnāna-indriya atau indera pengetahuan.

Sejauh ini, kita sudah punya sepuluh ‘pintu’ kesadaran, yaitu lima indera pengetahuan dan lima organ tindakan.

3. Prāna

Selanjutnya, ada prāna yang punya lima fungsi. Prāna adalah sebutan yang umum digunakan untuk energi vital atau energi kehidupan atau life-force. Prāna adalah total kapasitas dalam diri manusia.

  1. Prāna
    Kemampuan kita untuk menghembuskan nafas adalah hasil kerja prāna. Fungsi prāna ketika kita menghembuskan nafas disebut dengan nama yang sama, yaitu prāna. Prāna bekerja di tubuh bagian atas – dari Cakra Jantung (anāhata-cakra) hingga Cakra Mahkota (sahasrāra-cakra) di kepala.
  2. Apāna
    Apāna adalah fungsi prāna yang memungkinkan kita menarik nafas. Apāna bekerja di tubuh bagian bawah dan bertanggung jawab atas fungsi pelepasan, baik pelepasan air besar, air kecil, maupun pelepasan sperma dan telur.
  3. Vyāna
    Fungsi prāna yang ke-tiga adalah vyāna yang bertanggung jawab atas sirkulasi darah. Vyāna memberi daya dorong sehingga darah mengalir dan membuat kita merasakan sensasi kehidupan di setiap bagian tubuh sebagai dampak aliran darah yang bergerak secara sirkular ke seluruh tubuh secara merata.
  4. Udāna
    Kerja prāna yang lain adalah udāna, yang bertanggung jawab untuk menelan makanan. Udāna memberi daya dorong sehingga makanan dapat bergerak dari mulut ke kerongkongan dan selanjutnya ke lambung untuk dicerna. Tanpa udāna makanan akan tertinggal di kerongkongan. Udāna juga punya fungsi lain, yaitu membawa kita ke tahap tidur lelap. Udāna mendorong kesadaran ego atau kesadaran individualitas ke tahap somnambulismatau tidur lelap tanpa gangguan mimpi.Pada saat kematian, udāna bertugas memisahkan tubuh vital dan tubuh fisik. Dengan demikian, ada tiga perinsip yang dijalankan oleh udāna.
  5. Samāna
    Prinsip ke-lima energi vital prāna adalah samāna yang beroperasi di area pusar dan bertanggung jawab atas proses pencernaan makanan. Samāna menciptakan panas di perut dan area pusar sehingga tercipta rasa lapar dan nafsu makan. Selanjutnya, samāna akan mencerna makanan yang masuk ke lambung.

Masih ada fungsi-fungsi minor prāna lainnya, namun uraian di atas cukuplah untuk memahami bahwa prāna, apāna, vyāna, udāna, dan samāna adalah lima prinsip dalam energi tunggal – bukan lima hal yang berbeda. Semua struktur ini ada di Tubuh Halus. (Sila baca artikel DIRI # 2: PRANA)

Lima indera pengetahuan, lima organ kerja, dan lima kerja Prana, kita sudah mengulas 15 ‘pintu’ kesadaran. Kita masih punya empat ‘pintu’ lagi, yaitu fungsi-fungsi jiwa.

4. Jīva

Jīva (jiwa atau psyche) internal, yang biasa disebut pikir (mind), memiliki empat fungsi. Dalam bahasa Sansekerta keempat fungsi ini disebut Manas, Buddhi, Ahamkara, dan Chitta.

  1. Manas
    Manas adalah kerja pikir (mind) untuk berpikir biasa; tidak menentukan apapun; sekadar menyadari bahwa sesuatu ada.
  2. Buddhi
    Buddi adalah kerja pikir (mind) untuk menentukan, memutuskan, dan secara logis membuat kesimpulan. Buddhi kerap disebut juga intelektualitas.
  3. Ahamkāra
    Prinsip jīva yang ke-tiga adalah ahamkāra, yaitu ego, afirmasi, asersi, atau ‘ke-aku-tahu-an’. Ke-aku-tahu-an’ bisa berupa ‘aku tahu bahwa ada suatu objek di depanku‘, ‘aku tahu bahwa aku begini dan begitu‘, hingga ‘aku tahu bahwa aku tahu‘. Afirmasi yang terkait dengan individualitas dan dikenal sebagai egoisme ini adalah kerja ahamkāra.
  4. Chitta
    Fungsi jīva yang ke-empat adalah chitta, yang hasil kerjanya mewujud dalam rupa tindakan bawah sadar (subconscious), memori, dll.

Manas, buddhi, ahamkāra, dan chitta adalah fungsi dasar organ internal, yaitu organ psikologikal.

Dengan demikian, kita punya lima indera pengetahuan, lima organ kerja, lima prinsip prāna, dan empat prinsip jiwa – seluruhnya sembilan belas ‘pintu’ kesadaran. Semua itu adalah kesadaran untuk ‘menggenggam’ objek-objek di luar diri, dan kita boleh merasa aman dan bahagia karena kesembilan belas prinsip itu bekerja bersamaan, dan dalam berbagai bentuk dan penekanan yang diperlukan. Siapapun bisa bertindak kapanpun dalam kondisi apapun. Karena setiap orang bisa bertindak kapanpun, maka praktis semua orang bertindak bersamaan.

Secara objektif kita sadar melalui kesembilan belas media operatif kesadaran individual yang bekerja pada tahap terjaga ini. Kita menyadari persepsi sensorik yang luas ini, dan terus terhubung dengan objek-objek dunia melalui media ini. Seluruh semesta adalah objek kesadaran, dalam caranya sendiri. Begitu pun dengan dunia individual yang terbatas adalah objek kesadaran individual pada kondisi bangun atau terjaga (waking condition).

Semesta yang sangat terjaga ini terbentang dalam ruang dan waktu, dan dihidupkan oleh kesadaran universal, yaitu kesadaran yang merasuki semua hal. Karena kesadaran yang universal dan tersembunyi di balik semua hal inilah maka kita menyadari keseluruhan kosmos yang kita rasakan pada saat terjaga. Karenanya, kesadaran kosmis akan keseluruhan semesta ini bisa dianggap sebagai kesadaran kosmik akan seluruh dunia fisik atau seluruh kosmos fisik. Kosmos fisik bukan hanya bumi fisik atau tubuh fisik, melainkan semua lapisan eksternal. Seluruh kosmos, dalam semua manifestasinya, secara bersama-sama adalah objek kesadaran makhluk kosmis. Secara individual, aspek mikrokosmis kesadaran kosmis saat terjaga adalah pengalaman-pengalaman saat terjaga.

Melalui 19 cara kita mengalami objek-objek dunia saat terjaga, demi kepuasan intelektual kita. Kesadaran Illahi, yang dibayangkan beroperasi di mana saja dalam kondisi terjaga adalah bentuk perluasan kesadaran individual kita. Ketika kita, pada saat terjaga, hanya tahu hal-hal tertentu, Allah sebagai kesadaran universal tahu segala hal pada saat yang sama.

Ini uraian singkat tentang kesadaran yang terlibat pada tahap terjaga. Total persepsi fisik, yang di dalamnya ada keterlibatan kesadaran, adalah dunia objektif kesadaran pada tahap terjaga. Kesadaran pada saat terjaga disebut vishva(ret)

bersambung

Selanjutnya: KESADARAN #2: Kesadaran Saat Bermimpi

.

.

Advertisements

Sila beri tanggapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s