Realitas Spiritual # 2

Tujuan yoga adalah untuk mengatasi keterbatasan – baik subjektif maupun objektif – dan menyatukan yang terdalam dalam diri dengan yang terdalam dalam kosmos. Apa itu yang terdalam?

II. REALITAS SPIRITUAL

PRĀNA

Tubuh, sebagai bagian dari semesta fisik, sebagaimana objek lain di dunia, terbangun dari lima elemen (panca-bhūta), yaitu bumi (prithivī), air (ap), api (agni), udara (vāta), dan ether (ākāsha). Tapi tubuh hanyalah objek mati ketika tidak ada daya yang menggerakkan dan membuatnya berfungsi. Tubuh adalah kendaraan bagi daya yang bekerja dari dalamnya. Aksi kita, sejatinya, adalah gerak daya-daya ini. Daya dalam tubuh ini berbentuk energi yang strukturnya berbeda dari elemen-elemen lain. Energi ini disebut prāna atau energi vital atau energi kehidupan. Prāna punya banyak fungsi yang bertanggung jawab atas kerja tubuh. Organ-organ tindakan, seperti wicara (vak), tangan (pani), genital (upastha), dan anus (payu) bergerak dengan daya prāna. Namun prāna adalah energi buta yang harus diarahkan dengan benar.

Kita tahu bahwa kita tidak begitu saja melakukan suatu tindakan pada suatu waktu. Kita bertindak dengan suatu metode dan kecerdasan tertentu. Kita berpikir sebelum bertindak. Begitupun prāna. Ada prinsip pengatur di balik prāna. Pikir (mind) adalah juga bagian integral dari prāna. Tapi pemikiran, sekali lagi, tidak terpisahkan dari prinsip ego. (Lebih lanjut tentang prāna, sila baca artikel DIRI # 2: PRĀNĀ)

Betapapun, semua fungsi aparatus psikologis terbatas pada keadaan sadar, padahal manusia juga bergerak ke tahap-tahap lain, seperti mimpi dan tidur lelap. Kita masih memiliki semacam kesadaran di tahap mimpi, dan kehilangan seluruh kesadaran saat tidur lelap. Namun, kita tahu bahwa kita tetap ada pada tahap tidur. Mungkin terasa aneh bahwa ketika tidur kita sama sekali tidak tahu akan diri kita, namun kita tahu bahwa kita ada. Ini berarti, kita pun bisa ada (exist) walau tanpa melakukan apa-apa, bahkan tanpa berpikir.

Kondisi tidur lelap adalah paradoks dan merupakan inti dalam analisis yoga. Kesadaran – suatu pengalaman yang murni dan sederhana – adalah unsur pokok dari tidur lelap, yang tidak kita sadari, yang karena keterbatasan kita tidak bisa terlibat di dalamnya. Dalam tidur lelap, kita memiliki kesadaran yang tidak berasosiasi dengan objek, dan karenanya kita tetap tidak menyadari apapun di luar diri. Namun, pada saat yang sama, ada ketidaksadaran (unconsciousness), bahkan terhadap eksistensi diri karena ada potensialitas persepsi objektif. Dengan demikian, kembali kepada pertanyaan awal, yang terdalam pada individu adalah KESADARAN, yang juga disebut ātman atau purusha. Inilah Diri yang sejati.

TANMĀTRA

Sekarang, apa yang terdalam pada kosmos?
Kita sudah tahu ada lima elemen pembentuk objek material. Namun, itu bukan keseluruhan semesta ciptaan. Ada realitas lain dalam semesta fisik sebagaimana yang ada di dalam tubuh individu. Jika prāna, pikir, intelektualitas, ego, dan akhirnya kesadaran adalah bagian internal struktur tubuh, maka ada pula kebenaran luar biasa di internal semesta fisik.

Di dalam kelima elemen ada daya yang mewujud menjadi elemen-elemen itu. Daya-daya itu adalah kausa universal segala hal fisik, dan disebut tanmātra, suatu terminologi yang merujuk esensi objek. Ada daya di balik elemen ether, udara, api, air, dan tanah. Sabda atau suara adalah daya di balik ether. Tapi suara ini berbeda dengan suara yang biasa kita dengar melalui telinga. Ini adalah suatu prinsip tidak kasat indera di balik keseluruhan ether, di luar kemampuan telinga untuk menangkapnya. Ini adalah suara sebagai tanmātra. Demikian pula ada tanmātra udara, api, air, dan tanah, masing-masing adalah sparsa (sentuhan atau touch), rupa (bentuk), rasa (rasa), dan gandha (bau). Daya-daya ini adalah energi tidak kasat indera yang imanen dalam unsur-unsur pembentuk semesta fisik.

Ilmu pengetahuan modern (baca: Barat) tampaknya juga mulai mengakui adanya esensi di balik tubuh. Dulu dunia dikatakan terbangun dari molekul atau substansi kimiawi. Penelitian lebih lanjut mengungkapkan bahwa molekul bukanlah kata akhir dan bahwa molekul pun terbangun dari atom. Penelitian, sekali lagi, membuktikan bahwa atom pun terbangun dari substansi tertentu, yang memiliki karakter gelombang energi dan daya partikel. Substansi ini mengalir seperti gelombang dan suatu ketika melompat seperti partikel. Seorang fisikawan besar menyebutnya ‘wavicles‘. Substansi ini dinamai elektron, proton, neutron, dll, tergantung struktur dan fungsinya. Esensi mereka adalah daya. Tidak ada hal lain selain daya di semesta ini. Hanya ada kontinum energi di mana-mana. Tanmātra, betapapun, lebih halus daripada energinya para fisikawan ini, bahkan prāna lebih halus daripada listrik.

Sebagaimana di balik prāna ada pikir (mind), maka di balik tanmātra ada pikiran kosmis (cosmic mind). Melampaui pikiran kosmis ada ego kosmis dan akal kosmis. Akal kosmis (cosmic intellect) punya sebutan tersendiri, yaitu mahat. Melampaui mahat adalah prakriti, tempat seluruh semesta ada (exist), seperti pohon tumbuh di tanah, atau akibat pada/di sebab. Melampaui prakriti adalah kesadaran absolut (absolute-consciousness) yang disebut Brahman atau parama-ātman.

Jadi, ketika masuk ke dalam, di sini ataupun di sana, ke dalam diri ataupun ke dalam kosmos, kita akan menemukan hal yang sama – KESADARAN. Dan tahap-tahap manifestasi dalam individu berkait dengan kesadaran semesta.

Tujuan yoga adalah untuk menyatukan struktur individu dan struktur kosmis, dan untuk mewujudkan realitas tertinggi. Yoga menempatkan di hadapan kita penyatuan yang tak-berhingga (infinity) dan yang kekal (eternity). Tujuan yoga adalah untuk meningkatkan status individual ke tingkat kosmis.

Kosmos mencakup diri kita dan hal-hal lain. Individual adalah bagian dari kosmos. Kalau begitu, mengapa kita selama ini membuat pemisahan untuk sifat-sifat individual? Ini adalah kesalahan yang dikoreksi secara efektif oleh yoga. Dengan menempatkan kosmos sebagai objek di luar diri justru menentang makna kosmos yang paling mendasar. Dengan membayangkan diri sebagai subjek di hadapan objek yang disebut kosmos, justru akan membuntungi kosmos dan menggannggu harmoni dan kerjanya.

Yoga meralat kesalahan ini, maka yang fana menjadi imortal. Menempatkan individu menjadi bagian dari kosmos bukanlah pencapaian yang sulit. Individual tidak terpisah dari kosmos, namun sepertinya ada kebingungan dalam benak kita, yang justru membuat kita terisolasi dari bagian-bagian lain semesta raya ini. Kebingungan ini disebut ajnānaatau avidyā, yang berarti negasi atau ketiadaan pengetahuan sejati. 

AVIDYĀ

Avidyā, sinonim dari ajnāna, secara umum diartikan sebagai kebodohan spiritual. Avidyā adalah kondisi ketika orang lupa akan sifat alamiah diri, yaitu universalitas diri sejati. Kondisi ini adalah fungsi utama kebodohan dan membawa akibat yang lebih serius. Dalam kondisi ini, orang rancu antara yang baka (nityā) dan yang fana (anityā), yang murni (suchi) dan yang tidak murni (asuchi), duka (duhkha) dan suka (sukha), dan diri atau Self (ātman) dan yang bukan diri (anātman).

Jelas bahwa dunia dan segala isinya bersifat sementara, namun kerap dianggap sebagai entitas nyata, walau ilmu pengetahuan modern pun sudah meralatnya. Teori Relativitas, misalnya, telah menantang gagasan soliditas atau stabilitas benda, termasuk hukum-hukum yang berlaku atasnya, namun tetap saja dunia dianggap sebagai realitas. Begitupun dengan tubuh yang tidak murni. Rasa gatal, misalnya, dianggap sebagai insentif kesenangan, dan kita cenderung untuk menggaruknya demi kepuasan imajinatif.

Kesalahan seperti ini adalah dampak kontak sensorik inderawi dalam kehidupan, dalam berbagai sifat dan bentuknya. Inilah salah satu wujud avidyā. Meningkatnya kehendak (parināma) setelah setiap kesenangan inderawi, juga kecemasan (tapa) – konsekuensi dari setiap upaya pemenuhan kehendak, yaitu dampak tidak menyenangkan berupa impresi psikis (samskāraduhkha) yang mengikuti semua kenikmatan inderawi dan merintangi berlakunya hukum relativitas objek (sattva, raja, dan tama), yang berputar seperti roda tanpa henti. Kesenangan duniawi adalah nama yang diberikan untuk rasa sakit akibat kebodohan. Objek kerap dianggap sebagai diri. Kondisi ini adalah karakteristik avidyā atau ajnāna, yaitu distorsi total terhadap realitas, dan menjadi penampilan semesta ruang, waktu dan objek.

Dampak dari avidyāadalah asmitā atau sensasi diri. Sensasi ini adalah kesadaran individualitas dan personalitas, atau ego (ahamkāra), atau afirmasi diri. Kealpaan terhadap universalitas akan berbuntut asersi individualitas. Gagasan yang salah bahwa individual secara organik terpisah dari semesta, konsekuensi dari asersi diri (asmitā), dualisme sikap suka dan tidak suka terhadap sesuatu (rāgadvesha), dan keinginan untuk melestarikan tubuh dengan segala cara (abhinivesa) adalah perwujudan avidyāyang mengikuti dalam urutan logis.

Kita tidak tahu makhluk universal. Kita hanya kenal makhluk partikular dan individual. Kita suka atau benci objek. Kita melekat pada hidup dan takut mati. Apa yang salah?

Kesalahan pertama adalah mengira bahwa, “Aku bukan makhluk universal.” Kesalahan ke-dua adalah menegaskan bahwa, “Aku makhluk partikular.” Ke-tiga, menyukai sesuatu dan membenci yang lain; Ke-empat, naluri untuk mengejar individualitas demi pelestarian dan reproduksi diri.

Kealpaan terhadap universalitas menghasilkan afirmasi individualitas yang menyebabkan cinta dan benci, suka dan tidak suka, yang semuanya, pada akhirnya, mengantar kepada kehendak untuk hidup dan takut mati. Ini adalah kondisi kita hari ini. Sekarang kita harus bangun dari keadaaan yang kacau ini, dan kembali kepada gagasan universal. Bersatunya yang individual dengan yang Universal adalah Yoga.

BERSAMBUNG

Selanjutnya: Sistematika Yoga # 3: YAMA

.

.

Advertisements

Sila beri tanggapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s