Yama # 1: Ahimsā

1. AHIMSĀ 

Yogāṅgānuṣṭhānāt aśuddhikṣaye jñānadīpṭiḥ āviveka-khyāteḥ (Yoga-Sūtra II.28)
Menjalani tahapan-tahapan yoga mengarahkan kepada pemurnian diri dan pengungkapan pengetahuan hingga tercapainya kesempurnaan

Pikir (mind) harus dirujuk sampai ke akarnya. Sayangnya, kita tidak tahu di mana pikir berada sampai ia mulai bekerja; seperi pencuri yang kehadirannya hanya bisa diketahui dari aktivitasnya. Permasalahan di luar diri adalah perwujudan kompleksitas di dalam diri. Ketidaktahuan (avidyā) adalah sebab pertama. Sebenarnya, ini hanyalah sebab negatif, karena seseorang semata-mata tidak tahu atau bodoh. Namun, manusia tidak berhenti dengan penerimaan ini. Ia justru terus saja mempertontonkan ketidaktahuannya, dan inilah akar semua masalah. Afirmasi ego (ahamkāra) adalah tontonan pertama. Ketika seseorang menuntut orang lain untuk tunduk pada kemauan egonya yang bertabrakan dengan ego orang lain, timbul pertentangan antara personalitas dan kepentingan, dan situasi ini menimbulkan gejolak di keluarga, di masyarakat, bahkan di dunia.

Ketika avidyā menegaskan diri sebagai ahamkāra dan bertabrakan dengan orang lain, akan timbul himsā (cedera). Himsā adalah kejahatan yang melahirkan kesedihan sosial dalam berbagai bentuk. Ahimsā adalah upaya untuk menghilangkan himsā.

Dari semua prinsip yama, ahimsā adalah yang paling sulit, karena dalam diri setiap orang ada kecenderungan untuk membenci. Dorongan kuat dari dalam diri untuk tidak menyukai orang lain, meskipun tidak terwujudkan, adalah esensi dari himsā. Tidak seorangpun terlahir bebas dari himsā. Ahimsā mirip dengan etika Kristen yang mengajarkan untuk ‘tidak melawan orang yang berbuat jahat kapada kita’. Jika satu saja ego mau menarik diri, gesekan dalam masyarakat akan berkurang dalam intensitas sampai sebatas itu.

Ahimsā kerap diterjemahkan sebagai perilaku tanpa kekerasan, walau sesungguhnya ada yang lebih mendasar terkandung di dalamnya. Ahimsā bukan semata-mata kode tindakan, tetapi juga kode pikir dan perasaan. Orang seharusnya bahkan tidak berpikir untuk menyakiti siapapun. Memikirkan kejahatan sama buruknya dengan melakukannya. Memikirkan bukan saja persiapan untuk suatu tindakan, tetapi benih untuk tindakan itu. ‘Semoga ada keramahan, dan bukan permusuhan, cinta dan bukan benci,’ adalah semboyan yoga. Dengan cinta kita menarik dan dengan kebencian kita mengusir. Cinta menarik cinta, dan kebencian menarik kebencian. Kaidah etika yoga yang agung ini membentang mulai dari sekadar menghindari melakukan kejahatan hingga cinta yang tulus kepada semua, dengan visi yang netral, cinta tanpa pamrih (rāga) atau kebencian (dvesha). Ahimsā dianggap sebagai raja keutamaan – semua kanon moralitas dinilai dengan mengacu kepada norma karakter dan perilaku tertinggi ini.

Ahimsā adalah abolisi atas kecenderungan untuk membenci yang mengakar kuat. Tidak ada yang bisa sepenuhnya menguasai diri, atau menguasai apapun di dunia ini, kecuali dunia ini total bersih dari egosentrisme. Yoga-Sūtra menyatakan bahwa absennya kecenderungan untuk membenci dalam diri seseorang akan membuka pintu gerbang sistem kesatuan dengan segala hal; dan daya yang dihasilkan oleh perwujudan kesatuan ini secara otomatis memancar dari dalam diri ke kehidupan. Dengan demikian, praktek ahimsā untuk menekan ego individual akan berdampak pada orang lain juga. Permusuhan, kebencian, niat buruk, dan perpecahan di sekitar orang yang mampu menguasai diri, akan berkurang, bahkan terhapus sama sekali, dengan penghapusan dominasi ego melalui praktek ahimsā.

Daya yang dibangkitkan dari praktek ahimsā adalah energi spontan yang ‘berbicara’ dalam bahasanya sendiri. Bahasa itu adalah bahasanya segala sesuatu, yang dapat ‘didengar’ dan dipahami oleh semua orang dan semua hal, termasuk benda-benda mati. Bahasa ini adalah bahasa alam; sesuatu yang lain sama sekali. Bahasa ini adalah ‘rasa’ akan segala hal, yang berbeda dengan fungsi psikologis. ‘Rasa’ ini tidak lain adalah getaran yang dihasilkan dari harmoni sistem alamiah.

Sebenarnya, yang terjadi bukan hanya absennya ketidaksukaan dan kebencian dalam sosok seseorang yang mampu mengendalikan egonya, tetapi ada sesuatu yang lebih dari itu. Ada cinta positif terpancar dari dalam dirinya, dan cinta itu bersumber dari orang lain. Upanishad Chāndogya mengatakan, “Seperti rakyat memberikan upeti untuk kaisar, begitupun dari segala penjuru datang penghormatan kepada kaisar dunia ini.” Semua mengalir kepadanya, karena orang yang mampu mengendalikan egonya bukan lagi ‘seseorang’. Dia telah menjelma menjadi pusat gravitasi universal, dan karena itu, ada daya tarik dari dalam dirinya. Inilah tujuan praktek ahimsā, sebuah prestasi yang diperoleh hanya dengan pemberantasan dominasi ego yang merupakan akar dari individualitas dan penyebab kesukaan dan ketidaksukaan kita.

Ketika kita tidak suka pada orang lain, maka orang lain pun tidak suka kepada kita. Keadaan ini bisa dihilangkan dengan menggosok personalitas untuk membersihkan perasaan pribadi dan hasrat yang melekat pada kompleks tubuh dan pikir. (ret)

BERSAMBUNG

Selanjutnya: Yama # 2: Satya

.

.

Advertisements

Sila beri tanggapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s