Ashtāngayoga

Yama niyama āsana prāṇāyāma pratyāhāra dhāraṇā dhyāna samādhayaḥ aṣṭau añgāni (Yoga-Sūtra II.29)
Yama niyama āsana prāṇāyāma pratyāhāra dhāraṇā dhyāna samādhi adalah delapan cara mencapai Yoga

Ashtāngayoga – juga dikenal sebagai Raja Yoga – adalah tapak-tapak atau tahapan dalam Jalan Yoga (Yoga-Sūtra) karya Maharshi Patanjali.

Ada delapan tapak yang harus dijalani, yaitu yama – niyama – āsana – prānāyāma – pratyāhāra – dhāranā – dhyāna – samādhi. Anga atau tapak atau tahapan yoga, adalah alam keberadaan yang akan kita tembus dalam konsentrasi. Alam keberadaan ini adalah alam kosmis dengan berbagai tingkat kepadatan atmosfer kosmis, yang masing-masing memiliki medan gravitasi yang berbeda satu dari yang lain, yang harus kita lewati dengan kehendak adamantin dan kekuatan pikiran. Tapi sistem yoga juga memberikan petunjuk agar kita bisa menyelaraskan diri terhadap medan-medan gravitasi dari kepadatan yang berbeda-beda itu, sehingga tidak terjadi sentakan, tarikan, atau tendangan di simpul-simpul atau titik-titik yang berbeda, atau titik-titik koordinasi di satu tingkat kepadatan dengan titik koordinasi di tingkat kepadatan lain.

Tahapan-tahapan yoga ini adalah jenjang yang saling terkoneksi secara organis – seperti tahapan kehidupan dari masa kanak-kanak, remaja, muda, usia tua, dll, adalah tahapan pada pertumbuhan personalitas diri. Setiap tahap terkoneksi sedemikian sehingga kita bahkan tidak tahu kapan satu tahap berakhir dan yang lain dimulai. Satu tahap memudar ke tahap yang lain secara gradual, dan ada hubungan hidup dari setiap tahap dengan setiap tahap lainnya. Seluruh praktek yoga adalah SATU proses yang, seperti aliran sungai, mungkin ada palung dan jeram, tetapi bagian-bagian itu hanya konseptual; bukan organik – tidak nyata, dan tidak benar-benar ada.

Sampai batas tertentu ada kehadiran unsur tiap tahap di setiap tahap lainnya. Tahap-tahap itu tidak sepenuhnya berbeda – seperti kompartemen kedap air – meskipun dominasi elemen tertentu membuatnya berlaku dengan nama dan penandaan tertentu. Nama yang diberikan untuk setiap tahap merujuk kepada karakter dominan, dan sama sekali tidak menyiratkan bahwa karakter lain sama sekali tidak ada. Setiap tahap yoga adalah setiap tahap lainnya. Kedelapan tahapan yoga ini adalah delapan segmen konseptual dari satu tindakan meditasi atau konsentrasi pikir pada tujuan hidup, yang dengan sangat penuh arti dinyatakan pada bagian awal sutra karya Patanjali, terutama di bagian Samādhi Pada.

Yogāṅgānuṣṭhānāt aśuddhikṣaye jñānadīpṭiḥ āviveka-khyāteḥ (Yoga-Sūtra II.28)
Menjalani tapak-tapak yoga mengarahkan kepada pemurnian diri dan pengungkapan pengetahuan hingga tercapainya kesempurnaan

Tapak-tapak yoga adalah proses menuju pemurnian diri dan perluasan dimensi personalitas – suatu penyempurnaan pemahaman tentang keberadaan diri – yang menuntut sikap menahan diri secara mutlak di setiap langkah. Yoga semata-mata adalah menahan diri.

Menahan diri adalah esensi paling mendasar – intisari yoga. Menahan diri, atau pengendalian diri, bukanlah menarik diri dari segala sesuatu yang ada. Menahan diri tidak sama dengan memotong (cut-off) diri dari dunia. Menahan diri adalah sikap kesadaran berupa penyesuaian diri terhadap realitas. Karena itu, ada keharusan untuk reorientasi terhadap konsep tujuan hidup dan, sebagai konsekuensinya, juga terhadap metode yang digunakan dalam pemenuhan tujuan itu.

Untuk itu dibutuhkan persiapan yang luar biasa dalam segala hal. Pikir (mind) yang tidak siap, tidak bisa ‘diajak’ beryoga, karena yoga bukan semata kegiatan yang dilakukan, tetapi adalah ‘kelahiran kembali’. Dengan beryoga seseorang memasuki pemikiran dan perasaan baru, sehingga semua praduga harus disingkirkan. Segala hal yang biasanya kita anggap sebagai makna kehidupan, bukan lagi makna. Ada pemaknaan baru yang akan muncul ke permukaan benak ketika seseorang benar-benar menyiapkan diri untuk latihan ini.

Persiapan yang diperlukan bukanlah persiapan intelektual, akademis, ataupun ilmiah, melainkan penyesuaian kembali (readjustment) diri menuju ke suatu tatanan realitas baru – suatu hal yang sulit untuk dilakukan tanpa bimbingan seorang guru yang kompeten. Proses persiapan ini, sejak awal sampai akhir, adalah suatu proses kehidupan, bukan sekadar mengumpulkan informasi atau pemahaman dari luar. Proses ini melulu proses kehidupan, dan bukan semata pemahaman eksternal. Yoga tidak ada artinya ketika tidak hidup. Yoga bukan proses belajar untuk mengejar ketrampilan atau keahlian tertentu, seperti gagasan pendidikan formal yang selama ini tertanam dalam benak kita. Gagasan pendidikan formal yang kita kenal umumnya tidak berkaitan dengan kehidupan 🙂 Pendidikan formal sekadar sebagai alat bantu untuk hidup. Dalam Yoga kita tidak akan masuk ke dalam alat bantu apapun, tetapi langsung ke jantung kehidupan itu sendiri.

Untuk itu diperlukan persiapan yang menyeluruh – moral, fisikal, intelektual, sosial, dan spiritual. Semua itu, secara sekaligus, terfokus pada satu titik persiapan. Ketika proses pemurnian dimulai, secara spontan akan terjadi pemurnian personalitas. Semua ‘kotoran’ berupa rajas dan tamas – yaitu kecenderungan pikir untuk menuju kepada kenikmatan objektif ketimbang kebijaksanaan di dalamnya – akan lenyap, digantikan oleh cahaya kebijaksanaan (jnāna-dipti). Jnāna-dipti, atau iluminasi, bukan semata cahaya kosong yang berkedip seperti lampu indikator, melainkan suatu pencerahan diri – pengetahuan kebenaran dan wawasan realitas. Memang sulit untuk membayangkan pengetahuan macam apakah itu.

YAMA

Tapak pertama adalah yama (ketaatan moral). Yama, juga tapak ke-dua niyama, bukanlah langkah-langkah yang biasa dan sederhana, yang dapat dijalani dengan sekadarnya. Yama dan niyama adalah tahap-tahap sangat penting yang berkontribusi pada penguatan diri – keseluruhan personalitas – sehingga layak untuk melangkah ke tahap yang lebih tinggi. Betapapun, sebagian besar kesulitan yang dihadapi para yogi, terkait dengan esensi yama dan niyama, yang kerap bahkan tidak dianggap esensial dibandingkan dengan tahap-tahap yang lebih tinggi, yaitu dhāranā, dhyāna, dan samādhi.

Menjalani prinsip dan disiplin yama – juga niyama – haruslah mutlak dan tanpa pamrih, berhubung dengan kesulitan yang mungkin harus dihadapi. Mutlak, yang dimaksud dalam Yoga-Sūtra, berarti tidak boleh ada syarat apapun, tidak ada batasan keadaan, waktu, lokasi, atau batasan lainnya. Apapun.

Meskipun demikian, dalam menjalani disiplin ini disarankan untuk santai, walau hanya sedikit. Relaksasi dalam persiapan, seringan apapun, akan memberi dampak besar. Jadi, untuk menghindari kemungkinan rasa nyeri sebagai hasilnya, misalnya.

Yama adalah simbolisasi keseluruhan pandangan hidup. Jika kita tahu pandangan hidup kita secara menyeluruh, maka kita juga akan tahu sejauh mana kita akan sukses dalam menjalani yama. Jika pandangan hidup adalah satu hal, maka yama bukanlah hal lain – yang bertentangan dengan itu. Apa yang kita rasakan, di relung hati terdalam, tentang hal-hal di sekitar? Apakah kita menyukainya, atau tidak menyukainya? Apa yang kita rasakan? Apakah kita menginginkan sesuatu darinya, atau tidak menginginkan apapun darinya? Apakah kita muak dengannya? Apakah kita bahagia dengannya? Apakah kita merasa berada di luar, atau mereka berada di luar kita? Apa yang kita pikirkan tentang semua hal ini?

Hal-hal inilah yang akan menentukan tingkat keberhasilan dalam menjalani yama, karena yama adalah ‘serangan balik’ atas prasangka alamiah di dalam benak. Tentu, kita semua punya kecenderungan untuk suka atau tidak suka, untuk memiliki, menyakiti, melukai, menegaskan, dan sebagainya. Kecenderungan alamiah untuk menegaskan diri, untuk merasa senang akan sakit dan penderitaan orang lain, untuk menikmati kesenangan fisik dan psikologis, untuk memiliki hal-hal yang bukan milik diri sendiri, dan kecenderungan-kecenderungan lain, adalah indikasi bahwa seseorang tenggelam dalam tatanan banyak hal. Yama adalah evaluasi terhadap dunia yang bertentangan dengan struktur Realitas.

Mengapa ada begitu banyak penegasan dalam menjalani prinsip-prinsip yama? Apa gunanya?

Sikap-sikap manusia – yang berkebalikan dengan yama – adalah ekspresi dari penegasan keras pikiran atas fitur-fitur yang menentang hakikat Realitas. Hari ini, kita hidup dalam dunia yang tidak terkoordinasi dengan fitur Kebenaran Tertinggi. Yama adalah proses untuk mengenalkan fitur dasar dari tujuan yang dicita-citakan, karena segala hal yang berlawanan dengan yama tidak lain adalah eksternalisasi dorongan hasrat manusia. Para psikoanalis menyebutnya libido – prinsip keinginan, kekuatan motif dalam individu yang selalu menekan ke luar, dan terus-menerus, menuju kepada hal-hal di luar diri, padahal kita tahu bahwa tidak ada apa-apa di luar Kebenaran Sejati. Dorongan yang dahsyat inilah yang harus disublimasikan dan dimanfaatkan untuk tujuan konsentrasi yang lebih tinggi. Eksternalisasi dorongan, yang merupakan fitur dari praktek-praktek yang berbalikan dengan yama, bertentangan dengan upaya praktek konsentrasi dan meditasi dalam yoga, karena konsentrasi dan meditasi berarti berdialog dengan kekuatan motif, yaitu energi di dalam diri, dan bukan eksternalisasinya. Meditasi adalah universalisasi energi, sedangkan dorongan personal adalah tekanan menuju kepada eksternalisasi energi.

Sementara penolakan terhadap yama mendesak eksternal kepada penghamburan energi, yoga justru menuntut untuk bergerak ke arah yang berlawan untuk tujuan universalisasi energi. Maka, kita tahu betul mengapa yama diperlukan. Yama menekankan kebutuhan mengembangkan suatu pandangan atau sikap hidup yang bersahabat dengan fitur-fitur Realitas yang akan menjadi objek meditasi. Kecenderungan untuk universalisasi adalah tuntutan yoga; sementara kecenderungan untuk eksternalisasi adalah permintaan indera dan ego yang mencari kesenangan. Oleh karena itu, sangatlah jelas dan sederhana untuk dipahami mengapa ada begitu banyak penekanan diletakkan atas praktek prinsip-prinsip yama, yang jauh lebih dari prinsip moral atau mandat etis.

Yama bukan semata-mata mandat moral. Yama adalah proses pendisiplinan seluruh personalitas – individual lengkap – yang meliputi tidak hanya hakikat moral, tetapi juga faktor-faktor lain, sedemikian rupa. Yama berarti penyesuaian diri kembali secara total, sehingga konsisten dengan karakter Objek Sejati yang akan menjadi tujuan meditasi dalam yoga.

Selamat beryoga. (ret)

BERSAMBUNG

Selanjutnya: Yama # 1: Ahimsā 

.

.

Advertisements

Sila beri tanggapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s