Yama # 3: Asteya

3. ASTEYA

Asteyapratiṣṭhāyāṁ sarvaratnopasthānam (Yoga-Sūtra II.37)
Semuanya akan datang ketika (kita) tidak mengingini yang bukan milik diri.

Orang yang tidak mengingini apa-apa justru akan mendapatkan segalanya. Keinginan adalah musuh utama kehidupan, karena mengingini sesuatu akan membatasi kebutuhan pada hal-hal tertentu saja – yang belum tentu bermanfaat – dan menghapuskan kebutuhan-kebutuhan lain. Semua hal di dunia ini sama berharganya.

Yang dirujuk dalam asteya bukan semata-mata mencuri, sebagaimana secara salah banyak dipahami, tetapi termasuk juga kecenderungan pikir untuk mengambil bagi diri sendiri. Yang terakhir ini siluman, karena kita tidak benar-benar melakukannya secara fisik. ‘Mencuri’ dalam pikir bisa berupa tendensi, perasaan, rasa suka, mendambakan. Siluman mental adalah siluman nyata. Mungkin karena tidak secara fisik mengambilnya, kita tidak bisa dihukum karenanya, tetapi hukum-hukum lain akan bekerja.

Pikir lebih kuat daripada tindakan fisik. Pikir adalah tindakan nyata. Kita akan dihargai atau direndahkan bukan semata karena perbuatan tangan atau kaki, tetapi juga perbuatan pikir. Perasaan, kehendak, dan pikiran adalah hal-hal yang menentukan personalitas dan masa depan. Tidak mencuri, bahkan dalam pikiran, dan tidak mengharapkan apapun dari siapapun, adalah kekuatan yang justru akan memicu sumber kekayaan di mana-mana. Asteya adalah penghapusan dominasi ego, karena karakter tidak mencuri, tidak bisa hadir dalam diri yang egosentris.

Selalu ada hasrat dalam diri untuk memiliki dan mendapatkan sesuatu. Tidak ada orang yang terlahir bebas dari hasrat ini. Tetapi ketika asteya bisa tercapai, berarti kita telah mengosongkan diri sedemikian rupa sehingga kita punya cukup ‘ruang’ untuk menerima segala sesuatu, yang secara otomatis mengalir kepada diri. “Kosongkan dirimu dan Aku akan mengisinya,” begitu kata salah seorang yogi terbesar yang pernah hidup di dunia, Kristus.

Semua kekayaan dan harta di dunia akan menjadi milik diri justru ketika kita tidak meminta apa-apa. Jangan minta apa pun, bahkan dalam pikiran, bahkan oleh perasaan. Walau kita tidak mengatakan apa-apa, tetapi membayangkan memiliki sesuatu, berarti telah memintanya. Akibatnya, pikir akan terbatasi pada hal-hal tertentu saja, dan hal lain yang tidak termasuk dalam bayangan, akan hilang. Lahirlah cinta dan kebencian. Sekali lagi, sangat disarankan untuk berhati-hati dalam memahami prinsip ini. Sekilas asteya tampak sangat sederhana untuk dipahami dan dipraktekkan. Segala sesuatu akan datang kepada kita, asalkan kita justru tidak mengharapkan apapun dari siapapun. (ret)

BERSAMBUNG

Selanjutnya: Yama # 4: Brahmacarya 

.

.

Advertisements

Sila beri tanggapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s