Yama # 4: Brahmacarya

4. BRAHMACARYA

Brahmacaryapratiṣṭhāyām vīryalābhaḥ (Yoga-Sūtra II.38)
Vīrya akan datang kepada orang yang mengendalikan diri

Brahmacarya, atau berpantang, sama sulitnya dengan satya dan ahimsā untuk dipahami. Banyak orang mengira brahmacarya adalah hidup selibat, tidak menikah, tidak melakukan hubungan seksual. Selibat memang salah satu definisi brahmacarya, dalam makna yang lebih jauh. Moralitas yoga menyerukan brahmacarya untuk hal-hal yang paling murni; yang memiliki makna yang lebih dalam.

Dalam setiap kasus pertimbangan moral, dibutuhkan akal sehat dan pandangan yang komprehensif. Yoga menimbang brahmacarya dari segala sudut pandang – tidak melulu pada implikasi sosiologisnya. Brahmacarya adalah pemurnian semua indera. Tidur berlebihan dan rakus, misalnya, adalah pantang dalam brahmacarya. Pantang bukan hanya dalam hubungan seksual. Berlebihan dalam bentuk apapun, seperti makan berlebihan, banyak bicara, dan, yang terpenting, adalah mendambakan objek-objek inderawi.

Tidur berlebihan adalah trik yang dimainkan oleh pikir (mind) ketika kita menolak untuk memberinya kepuasan. Makan dan bicara secara berlebihan adalah ledakan energi yang terhambur. Kontemplasi pada objek inderawi dapat berlanjut bahkan ketika objek itu secara fisik jauh dari diri. Brahmacarya bertujuan untuk konservasi kekuatan untuk tujuan meditasi.

Brahmacharya diuji dengan kekuatan untuk mengenali Diri Sejati. Kebajikan bukan untuk dipamerkan, tetapi untuk pemanfaatan kekuatan lestari menuju tujuan yang lebih tinggi. Aktivitas inderawi yang tidak perlu adalah penghamburan energi. Upanishad Chandogya mengatakan bahwa dalam kemurnian asupan ada kemurnian makhluk. Dalam tindakan melihat, mendengar, mencecap, membau, dan menyentuh, seharusnya kita hanya berhubungan dengan yang murni. Satu saja indera tidak terkendalikan bisa membatalkan efek kendali atas indera yang lain. Dengan memikirkannya terus-menerus, kita menjadi sesuatu yang kita asosiasikan sebagai diri, yang kita layani sejak lama, dan yang kita ingin untuk menjadi. Brahmacarya adalah tindakan pengendalian diri secara keseluruhan.

Vīrya yang disebut dalam sutra ini adalah energi adamantin atau energi puncak, yang muncul bukan dengan diet, olahraga, atau cara-cara konyol lainnya. Vīryalābhah adalah arus masuk (inflow) energi abadi yang berasal dari segala hal, yang adalah objek akal.

Brahmacarya bukan selibat atau pantang biasa. Brahmacarya adalah konservasi energi dengan membendung saluran indera yang merupakan kanal penghubung dengan objek luar. Sekilas, brahmacarya tampak seperti tidak mungkin untuk dilakukan, namun, setelah tercapai, kita akan menjadi adamantin dalam energi; tidak kenal lelah dalam bekerja dan dalam segala upaya. Pikir dan tubuh menjadi kuat, dan kita akan merasakan sensasi ringan dan mengapung di dalam jiwa.

Praktek brahmacarya sebagai sumpah pantang dari semua kesenangan inderawi, terutama dalam aspek psikologisnya, dan ketetapan dalam kemurnian personal, membangkitkan fungsi getaran tubuh, syaraf, dan pikir secara serempak. Penarikan indera dari objek bukan semata-mata tindakan negatif, sebagaimana banyak disalahpahami. Brahmacarya bukan semata-mata berhenti memikirkan objek, lalu selesai, dan tidak ada lagi yang terjadi. Bukan itu masalahnya. Ketika kita berhenti memikirkan objek namun tetap menjaga kesadaran, maka energi yang dialihkan ke objek akan terdorong kembali ke dalam diri, bahkan energi dari objek pun mengalir ke dalam diri. Karena itulah kita jadi kuat.

Kekuatan personalitas yang terjadi adalah konsekuensi akumulasi daya-daya objektif pada diri setelah menarik indera dari fungsinya, yang jika tidak, justru akan mengalihkan energi dari tubuh kepada objek dan menguras kekuatan dengan mengumbar kesenangan. Sungguh bodoh orang yang mengejar objek, dan mengira bahwa mereka akan mendapatkan sesuatu. Cara untuk mendapatkan sesuatu bukanlah dengan mencuri, meminta, atau mendatangi, tetapi justru dengan menarik diri darinya. Maka, kekuatan alam akan mengalir kepadanya, dan energi secara otomatis akan mekar. Itulah inti brahmacarya(ret)

BERSAMBUNG

Selanjutnya: Yama # 5: Aparigraha 

.

.

Advertisements

Sila beri tanggapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s