Yama # 5: Aparigraha

5. APARIGRAHA

Aparigrahasthairye janmakathaṁtā saṁbodhaḥ (Yoga-Sūtra II.39)
Ketika tidak menimbun hal-hal yang tidak memberi kontribusi bagi kehidupan, hidup menjadi sederhana

Menjalani prinsip aparigraha berarti tidak menerima apapun yang tidak diperlukan dalam kehidupan, atau dengan kata lain, tidak serakah. Prinsip ini menuntut kita untuk tidak menimbun banyak barang dalam pondok atau kamar. Pada tahap lanjut, praktek aparigraha melarang kita menyimpan apapun bahkan untuk esok hari. Menyimpan lebih dari yang diperlukan untuk diri sendiri adalah sama dengan mencuri.

Hidup sederhana dan berpikir tinggi. Hidup sederhana tidak memungkinkan gagasan tentang hal-hal yang tidak perlu menyusup ke dalam benak, dan dengan demikian akan mengendurkan sistem pikir.

Kita kerap merasa seolah memori kita kekurangan kapasitas untuk menyimpan kehidupan masa lalu, dan kita juga tidak tahu kehidupan masa datang. Semua itu karena kita menarik pikir (mind) kepada tubuh sedemikian, sehingga tidak memungkinkan adanya impresi lain apapun di dalam diri selain tubuh. Cinta pikir kepada tubuh begitu besar sehingga tidak memungkinkan apa pun untuk masuk kecuali kompleks ketubuhan. Yoga-Sūtra mengatakan bahwa ketika pikir bebas dari keterikatan pada tubuh dengan menghilangkan gagasan mengambil, mengumpulkan, menimbun barang atau objek lain, maka pamrih perlahan akan luntur. Lunturnya keterikatan pada tubuh, secara bersamaan akan diikuti oleh munculnya refleksi hal-hal lain, yang dengannya pikir benar-benar tehubung.

Pikir benar-benar terhubung dengan segala hal di dunia; tidak hanya terkoneksi dengan tubuh. Gagasan semu bahwa pikir hanya terkoneksi dengan tubuh semata, menyebabkan ketidaklengkapan pengetahuan tentang hubungan diri dengan hal lain dan setiap hal lain. Kita seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa tentang masa lalu dan masa datang. Tetapi ketika keterikatan pada tubuh kendur, hal-hal lain mulai merefleksikan diri di dalam benak – pikir benar-benar terkoneksi dengan segala hal, termasuk masa lalu dan masa depan. Kehidupan masa lalu yang telah dilewati pun menjadi objek kesadaran.

EPILOG

Yoga adalah pencarian Kebenaran dalam jangkauan tertinggi dan di atas kegunaan relatifnya. Persiapan yang cukup harus dilakukan untuk petualangan ini. Kita harus jujur di hadapan Kebenaran, bukan hanya di mata teman-teman. Keterbukaan di hadapan Yang Mutlak adalah makna di balik ketaatan terhadap yama.

Yama adalah latihan disiplin diri; berpantang terhadap hal-hal yang sejatinya ada di dalam diri. Dengan begitu, diri akan mencapai hakikat moral yang konsisten dengan tuntutan Kebenaran.

Moralitas yoga lebih dalam daripada moralitas sosial ataupun moralitas masyarakat religius sekalipun. Hakikat diri, dalam yoga, harus sesuai dengan hakikat Kebenaran. Karena Kebenaran bersifat universal, maka karakter-karakter yang tidak layak dengan esensi ini harus ditinggalkan. Segala perilaku yang tidak selaras dengan semesta, pada akhirnya tidak bisa menjadi moral, setidaknya dalam pengertian yoga.

Apakah semesta berperang dengan orang lain? Tidak. Tidak ada pertempuran dan tidak ada konflik, itulah ahimsā. Mencederai orang lain berarti menentang moralitas.

Apakah semesta memiliki hasrat terhadap sesuatu? Apakah semesta akan mencuri kekayaan orang lain? Apakah semesta menyembunyikan fakta? Tidak, adalah jawabannya. Sensualitas, siluman, kepalsuan, semuanya tidak bermoral. Dengan menerapkan standar yang universal, kita bisa memastikan moralitas sejati. Terapkan tindakanmu menuju yang universal. Itulah moral.

Semesta akan menolak segala yang bertentangan dengan Kebenaran. Ahimsā, Satya, Brahmacarya, Asteya, dan Aparigraha adalah yama untuk pembebasan dari kekejaman, kebohongan, keserakahan, sensualitas, dan dorongan nafsu akan segala hal. Nafsu dan keserakahan adalah rintangan terbesar dalam berlatih yoga. Kecenderungan ini akan menjadi amarah ketika ditentang. Maka lima kanon yoga ini bisa dianggap sebagai rangkuman seluruh ajaran moral.

Pengendalian diri perlu kewaspadaan tinggi, karena indera punya jurus-jurusnya sendiri. Ketika seseorang bertahan dalam kendali indera, ia akan sulit untuk memahami. Indera bergerak dengan cepat dan kuat. Setiap langkah ekstrim yang diambil akan menimbulkan reaksi. Reaksi akan timbul untuk melawan pantang yang berkepanjangan atas kenikmatan inderawi. Kelaparan dan nafsu, terutama, bangkit untuk melakukan pembalasan.

Sangat tidak disarankan untuk menaklukan indera dengan cara ekstrim, karena sesungguhnya indera tidak untuk ditundukkan tetapi diperhalus. Ini bukan berarti bahwa orang selalu dengan sengaja masuk ke dalam penindasan hasratnya, tapi ia sekadar tidak menyadarinya. Yoga bukan untuk orang yang tidak makan sama sekali atau yang makan terlalu banyak, bukan pula untuk orang yang tidur terlalu banyak atau tidak tidur sama sekali, juga bukan untuk orang yang selalu aktif atau yang tidak melakukan apa-apa. Indera harus dikendalikan sedikit demi sedikit, seperti menjinakkan hewan liar. Beri kebutuhannya sedikit saja. Hari berikutnya, beri sedikit kurang. Selanjutnya, jangan beri apa-apa. Pada kesempatan berikutnya perlakukan indera dengan baik. Akhirnya, biarkan indera sepenuhnya terkendali dan manfaatkanlah untuk meditasi langsung kepada Realitas.

Indera punya kecenderungan untuk secara revolusioner melompat kembali ke titik yang sama setelah lama diam. Karena itu, godaan akan sangat besar. Indera juga memicu kondisi stagnasi. Orang akan berada dalam kondisi netral – tanpa kemajuan apapun. Indera juga punya kecenderungan ‘menipu.’ Kerap kita berusaha melakukan sesuatu padahal sebenarnya kita melakukan sesuatu yang lain karena salah paham. Indera menipu, membuat orang silap, dan mungkin baru menyadarinya ketika sudah terlambat. Jurus indera yang lain adalah perlawanan frontal, berupa kelaparan, misalnya.

Godaan, stagnasi, silap, dan perlawanan adalah empat bahaya utama yang harus diwaspadai. Sang Buddha mengalami keempatnya dalam meditasinya. Sang Kristus mengalami tiga dari empat. Apramatta atau ‘jangan lengah’ adalah saran dari Upanishad. Berhati-hatilah dalam setiap langkah, seolah berjalan di atas kawat tipis. Keseimbangan yang luar biasa wajib dipertahankan dalam mengoperasikan pikiran. Tidak ada tindakan yang boleh diambil kecuali telah ditimbang dengan hati-hati. Arah gerakan harus dipastikan dengan seksama sebelum memulai perjalanan yang sulit.

Yama adalah pengekangan moral. Jika hakikat moral kita tidak selaras dengan usahanya, tidak mungkin ada kemajuan dalam yoga, karena moralitas merupakan emblem sifat dasar seseorang. Jika kita tetap berlawanan dengan tujuan yang kita cari, tidak akan ada pencapaian. Menjadi moral adalah untuk membangun harmoni antara hakikat kita sendiri dan hakikat tujuan hidup kita. Yoga adalah wawancara kita dengan Yang Mahatinggi, dan inilah yang dimaksud dengan ‘hakikat kita terhubung dengan jangkauan tertinggi’. Moralitas bukanlah ketidakmampuan, melainkan kewaspadaan dan kesepihakan pandangan. Ini bukan gerakan lamban namun kemajuan aktif. Hakikat moral juga menyiratkan memori halus dan daya apung semangat.

Selamat berpantang dan menemukan Hakikat Sejati. (ret)

SELESAI

.

.

Advertisements

Sila beri tanggapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s