Niyama # 1: Shauca

Kita telah membahas prinsip-prinsip disiplin yang disebut yama menurut sistematika yoga Patanjali. Selain yama, ada prinsip-prinsip disiplin lain yang penerapannya bisa berbeda untuk satu keadaan dan keadaan lain, serta untuk satu individu dan individu lain. Prinsip ini disebut niyama atau prinsip ketaatan. Disiplin niyama sebaiknya dilakukan dengan bimbingan personal dari seorang guru.

Yama dalam bahasa Sansekerta berarti kendali, pengendalian diri, disiplin; sementara niyama berarti ketaatan terhadap prinsip-prinsip tertentu. Sejauh prinsip-prinsip ini berupa latihan-latihan teratur, niyama mirip dengan yama. Perbedaanya, jika yama adalah pranata yang mengatur perilaku individual dalam relasinya dengan individu lain dan masyarakat, maka niyama adalah disiplin individual dalam relasinya dengan diri pribadi, dengan cara tertentu. Yama adalah disiplin diri ke luar, sementara niyama adalah disiplin diri ke dalam.

1. SAUCA

Śaucāt svāṅgajugupsā paraiḥ asaṁsargaḥ (YS II.40)
Pemurnian menuntun kepada pemisahan pikir dari tubuh

Sauca (atau śauca) adalah pemurnian perilaku, secara eksternal maupun internal, tubuh maupun pikir. Pemisahan tubuh dari pikir akan membawa kepada kesadaran akan hakikat tubuh sejati.

Pemahaman yang keliru tentang hakikat tubuhlah yang menyebabkan keterikatan pikir pada tubuh, dan karenanya kita mencintai tubuh habis-habisan. Kita melakukan banyak hal – mandi, scrubbing, lulur, spa, diet, tidur, istirahat, olahraga – seolah tubuh adalah diri. Jika salah satu dari hal itu ditarik dari tubuh, kita akan mendapati bahwa tubuh berangsur kehilangan pegangan terhadap dirinya sendiri; seperti rumah yang tidak dipelihara dengan baik, akan berangsur kusam dan akhirnya runtuh. Kita mulai panik ketika lingkar pinggang membesar, perut membuncit, berat badan meningkat. Tubuh tidak bisa menyangga dirinya sendiri – tubuh bersandar pada sesuatu yang lain, dan ‘sesuatu yang lain’ itulah yang membuat tubuh seolah baik-baik saja. Itulah hakikat tubuh – setiap tubuh di dunia ini.

Kalau begitu, apakah kita harus hidup jorok? Tidak! Adalah salah jika mengira bahwa yoga melarang orang untuk mandi! Memang pada saat meditasi – ketika diri meningkat melebihi kesadaran tubuh – orang tidak akan ingat untuk mandi atau apapun, tetapi itu adalah persoalan yang berbeda. Hilangnya kesadaran tubuh adalah konsekuensi dari pengembangan rohani. Semata-mata tidak mandi ibarat menempatkan kereta di depan kuda.

Śauca berarti tidak berhubungan dengan segala hal yang berasosiasi dengan kotoran atau yang memberi pengaruh buruk. Misalnya, tubuh tidak dibawa ke tempat pelacuran; menghindari pertemanan yang tidak sehat – berkawanlah dengan orang-orang baik, atau, jika tidak mungkin, lebih baik tidak berkawan.

Ketika tidak lagi terikat pada tubuh, pikir memiliki kesadaran atas apapun yang masuk ke dalam tubuh dan menjaganya tetap bersih – dalam dan luar – dengan motif menghormati diri sendiri, bukan untuk menyenangkan orang lain. Menghormati tubuh berarti tidak membiarkannya menjadi pelarian dari kehidupan dunia. Kesehatan sama pentingnya dengan daya konsentrasi, karena sakit adalah gangguan terhadap konsentrasi mental. Itulah kemurnian eksternal.

Kemurnian internal tidak kalah penting. Disiplin ini bisa digambarkan dengan tiga ekor monyet. Monyet pertama menutup matanya, yang ke-dua menutup telinganya, dan yang ke-tiga menutup mulutnya. Masing-masing bertujuan untuk tidak melihat kejahatan, tidak mendengar kejahatan, dan tidak berbicara jahat. Kita seharusnya bahkan tidak menyampaikan berita jahat, karena itu akan menjadi kendaraan penyebaran kejahatan dari satu tempat ke tempat lain. Kita tidak perlu berbuat jahat bahkan dengan ekspresi ketika berbicara, dengan melihatnya, ataupun memikirkannya. Semua itu adalah kemurnian internal.

Sattvaśuddhi saumanasya aikāgrye indriyajaya ātmadarśana yogyatvāni ca (YS II.41)
(Kemudian datanglah) kejernihan pikir, sukacita, ketajaman pikir, kendali atas indera, sehingga layak mengalami Diri Sejati 

Sedih, melankolis, muram, tidak bahagia, dan galau yang kita rasakan disebabkan oleh keberadaan rajas (debu) dan tamas (kegelapan) di dalam pikir (mind). Rajas dan tamas adalah hasrat atas tubuh (sendiri), juga atas tubuh lain yang terhubung dengan tubuh (sendiri). Setelah kemurnian tercapai, pikir menjadi jernih karena realisasi peralihan hakikat keberadaan dan lunturnya karakter objek inderawi, termasuk tubuh fisik. Kejernihan pikir disebut sattvaśuddhi. Ketenangan adalah manivestasi dari sattva (keberadaan atau beingness) dalam pikir. Kemudian, sattva akan memancarkan pendar-pendar cahaya yang disebut saumanasya, yaitu suka-cita rasa, ketenagan, atau kedamaian hati.

Ketika kepuasan dan ketenangan tercapai, maka konsentrasi pikir terbentuk. Dengan kata lain, kemampuan berkonsentrasi terbentuk secara otomatis karena munculnya sattva dalam diri. Sattva dan konsentrasi akan melengkapi penguasaan atas indera, berupa penarikan energi sentrifugal atau energi yang cenderung menjauh dari pusat.

Pikir adalah impresi indera. Apapun yang indera sampaikan, begitu pulalah pikir. Pesan yang disampaikan melalui indera adalah karakter yang tertanam dalam pikir. Oleh karena itu, ketika indera menerima ‘makanan’ murni, pesan yang mereka sampaikan pun menjadi murni, dan membuat pikiran juga menjadi murni, karena pikir tidak akan mengatakan atau melakukan apapun kecuali yang diarahkan oleh indera. Asupan indera adalah persepsi indera – objek yang terhubung dengan indera, cara indera mengevaluasi sesuatu, dan reaksi yang terbangun sehubungan dengan persepsi itu. Semua ini adalah ahara (āhāra), atau ‘pola makan’ indera.

Pola makan indera ini harus murni; artinya, perasaan yang muncul dalam pikiran segera setelah persepsi rasa harus selaras dengan sifat Kebenaran – tidak sumbang. Itu berarti seharusnya kita tidak digiring ke dalam kecemasan, ketidakbahagiaan, ketidakpuasan, ataupun takut, sebagai konsekuensi dari persepsi indera. Dengan demikian, persepsi indera akan selaras dengan hakikat Kebenaran, karena persepsi Kebenaran tidak akan menimbulkan rasa takut.

Ketika mencerna berbagai hal melalui indera, persepsi kita masuk jauh kepada ‘yang universal’, yang hadir di balik ‘yang khusus’, yang merupakan objek inderawi. Karena itulah pola makan indera hendaknya murni, sehingga persepsi tidak membuat sensasi – persepsi tidak membawa impresi apapun. Kita melihat objek ataupun tidak, tidak ada bedanya – netral. Dengan demikian persepsi suatu objek, akan sama dengan harmoni diri dengan objek, dan kecenderungan untuk universalitas memanifestasikan dirinya secara otomatis. Akhirnya simpul nurani akan terbuka – merupakan kondisi yang layak untuk realisasi diri, atmadarsana (ātma-darshana) yogyatvani.

Uraian di atas menjabarkan bahwa kebahagiaan tidak muncul dari sembarang gerakan-penyebab dari luar. Kebahagiaan muncul karena suatu kondisi yang mewujud di dalam diri. Jika kondisi ini diabadikan – bangkitnya kondisi ini tidak perlu dirangsang oleh sebab-sebab eksternal – maka kepuasan akan menjadi permanen. Saumanasya atau ketenangan, yang timbul karena sattvaśuddhi adalah karakter abadi, permanen, dan tanpa henti, dari total keberadaan seseorang. Kedamaian akan terpancar di wajah, kepuasan terpancar dalam ekspresi – semua itu akan menjadi bagian tak terpisahkan dari tindakan dan perilaku permanen seseorang. Tindakan atau perilaku adalah ekspresi suasana hati yang permanen yang telah tumbuh di dalam. Oleh karena itu, ekspresi pun akan permanen.

BERSAMBUNG

Selanjutnya: Niyama # 2: Santosha

Advertisements

Sila beri tanggapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s