Niyama # 2: Santosha

2. SANTHOSA

saṃtoṣādḥ anuttamaḥ sukhalābhaḥ (YS 2:42)
Ikhlas membawa kebahagiaan tertinggi

Alkisah, Batara Narada sedang melakukan perjalanan menuju surga. Ketika melewati sebuah perkebunan ia bertemu tukang kebun yang sehari-harinya menanam dan merawat pohon buah-buahan di situ.

Wahai Sang Bijak, kemanakah Tuan hendak pergi?” tukang kebun menyapanya.

“Aku hendak ke surga, tempat tinggal Tuhan. Aku hendak meminta berkatNya,” Narada menjawab.

Tukang kebun sangat gembira, katanya, “Oh, Tuan hendak meminta berkat Tuhan? Sudilah kiranya Tuan tanyakan kepada Tuhan, kapan saya akan menerima pembebasan.”

Narada berkata,” Baiklah, aku pasti akan menanyakannya, dan ketika aku kembali kelak, aku akan memberitahumu jawabanNya.”

Narada melanjutkan perjalanannya. Ketika melewati lahan pertanian, ia bertemu seorang petani. Petani itu mengajukan pertanyaan yang sama, dan Narada pun menjawab bahwa ia hendak ke surga. Petani juga mengajukan permintaan yang sama dengan tukang kebun.

“Wahai Sang Bijak, tolong tanyakan kepada Tuhan, kapan aku akan beroleh pembebasan.”

Narada memberi janji yang sama, dan melanjutkan perjalanannya.

Selang beberapa waktu, Narada kembali dari surga dan menemui si petani yang dengan tidak sabar bertanya,

Apakah kau bertemu dengan Tuhan?”

Ya, aku bertemu dengan Tuhan,” jawab Narada.

Apakah kau menanyakan tentang pembebasanku?” si petani penasaran.

Ya, aku menanyakannya” jawab Narada lagi.

Apakah Dia memberikan jawabanNya?” tanya si petani lagi.

Ya, Dia memberikan jawabanNya.” “Apa jawabanNya?” si petani semakin tidak sabar.

Narada menjawab, “Kau harus menunggu lima puluh tahun lagi untuk mencapai pembebasan.”

Petani sangat kecewa mendengar jawaban Narada.

Setiap hari aku melantunkan nama Tuhan. Aku tidak pernah lupa berdoa. Aku juga bermeditasi. Siang dan malam aku tenggelam dalam pikiran Tuhan. Namun aku harus menunggu lima puluh tahun lagi. Sungguh sangat menyedihkan.” Petani mengutuki dirinya sendiri.

Narada meneruskan perjalanannya dan menemui tukang kebun.

Apa jawaban Tuhan?” tukang kebun bertanya.

Kau harus menunggu ribuan tahun untuk mencapai Tuhan, hingga tanggalnya daun-daun di pohon ini” jawab Narada sambil menunjuk pohon di dekatnya.

Tukang kebun melonjak gembira. Suka citanya tidak terkira. “Jadi, setelah semua ini, aku pantas!”

Cerita di atas sekadar sebagai ilustrasi untuk menjelaskan situasi manusia secara umum. Cara berpikir si tukang kebun berbeda dengan si petani. Petani menangis karena harus menunggu selama lima puluh tahun, sementara tukang kebun tenggelam dalam sukacita karena mendapat jawaban dari Sang Guru Agung, Yang Maha Tinggi, bahwa pada akhirnya nanti ia akan pantas beroleh keselamatan.

Ketika kemurnian pikir, perkataan, dan raga telah tercapai, sikap ikhlas (santosha) akan terbentuk. Santosha membawa bahagia, dan sangat penting untuk merasa bahagia dalam situasi apapun. Bagaimana bisa bahagia jika harga BBM naik, TDL naik, tarif angkutan umum pun ikut-ikutan naik? Gaji pegawai memang juga naik, tetapi harga kebutuhan hidup naik lebih tinggi! Bagaimana bisa tersenyum jika terjebak di dalam penggilingan raksasa bernama kehidupan dunia yang selalu siap melumat habis-habisan?

Santosha berarti sikap ikhlas dan sukacita. Rahasia sukacita adalah ikhlas. Ikhlas sendiri adalah kondisi lanjutan setelah ‘cukup’. Cukup –> ikhlas –> puas –> bahagia.

Mungkin sulit untuk memahami ‘cukup’, tapi yakinlah apapun yang Tuhan berikan adalah benar-benar cukup bagimu. Terimalah apapun yang telah Tuhan berikan padamu. Seorang yang mengenakan pakaian berbahan goni, jika ia ikhlas menerima dan merasa puas, ia akan bahagia. Apapun kemampuanmu, apapun bakatmu, berapapun kekayaanmu, berapapun yang bisa kau belanjakan untuk hidup sehari-hari, merasa puaslah dengan itu. Berbahagialah atas apapun yang kau miliki. Dengan demikian, kau sudah menemukan kunci menuju kepada semua kebahagiaan dan kedamaian.

Kerap kita mengeluh atas sesuatu yang kita tidak punya sementara orang lain punya. Ini adalah tipuan pikir terbesar untuk membuat kita selalu dalam kesedihan. Orang yang merasa miskin tidak akan pernah merasa puas. Ada cemburu di sana. Namun, ketika ada ikhlas, sirna semua rivalitas; ketika ada rasa puas, kita akan merasa bahagia. Ikhlas dan puas memberi dampak yang indah untuk pemurnian pikir. Pikir terbebas dari permusuhan dan kepicikan. Ketenteraman adalah prasyarat penting untuk bisa menjadi ikhlas.

Keadaan psikologis santosha didukung oleh kesadaran metafisik menjadi sākshi atas indera, dan bukan menyatu dengan indera. Menjadi sākshi berarti berdiri terpisah, dan tidak terpengaruh. Kita tidak menyerah pada tuntutan nafsu indera, karena kita bukan indera. Indera milik prakriti; sementara kita adalah purusha. Itu hanya mungkin jika kita mengembangkan kesadaran bahwa kita berbeda dari indera. Ketika kita masih mengidentifikasi diri dengan tubuh dan dengan cheshta (gerakan) setiap indriya, kita masih terjebak dalam keterikatan. Ini adalah akar penyebab penderitaan.

Seorang yogi hendaknya selalu senang, tidak khawatir, ataupun jengkel. Yoga menghendaki santosha atau ikhlas atas kondisi apapun. Banyak penyakit disebabkan oleh sikap tidak menerima ataupun tidak puas. Ikhlas adalah hasil dari sikap menerima atas hikmat Tuhan. Jika Tuhan adalah bijaksana, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena dalam kebijaksanaan-Nya Ia membuat kita tetap dalam situasi yang terbaik. Banyak perubahan telah terjadi dalam hidup, dan mungkin masih banyak lagi yang akan terjadi di masa depan. Kita harus siap. Kemahatahuan Tuhan tidak perlu dikeluhkan. Manusia harus ikhlas dengan semua yang dimilikinya, meskipun mungkin tidak memuaskan. Kebutuhan akan tersedia ketika ikhlas dan upaya berjalan bersama-sama. Dengan demikian, kita punya alasan untuk bahagia.

Catatan:
Rasa puas ini sebaiknya tidak diterapkan dalam sādhana; karena dalam sādhana, sebaliknya, kita justru harus merasa, “Aku masih belum sempurna. Di mana devosiku?” Dalam sādhana kita boleh membandingkan diri dengan orang-orang besar yang telah melampaui penderitaan karena Tuhan. Penderitaan membuat Tuhan mustahil untuk menyangkal mereka sebagai darshan-Nya. Maka, dalam konteks spiritual, kita harus memiliki rasa tidak puas atas pencapaian diri hari ini.

Selamat berbahagia! (ret)

BERSAMBUNG

Selanjutnya: Niyama # 3: Tapas

Advertisements

Sila beri tanggapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s