Hakikat Pikir

Meskipun objek pikir serupa, pola pikir berbeda sesuai dengan perbedaan gagasan dalam benak.” (YS 4:15)

Bentuk Ãtman yang diasumsikan melalui kekuatan imajinasi disebut ‘pikir’. Yoga Rāja (dalam tata bahasa Inggris disebut Rāja Yogared) adalah ilmu pengetahuan tentang pikir dan semua modifikasinya. Karena pikir adalah sebab atas keberadaan dunia fenomenal, maka penihilannya akan mengantar kepada tujuan tertinggi, asamprajnāta-samādhi, yaitu ketika kita masuk ke ketenangan dalam penyatuan dengan Sang Jiwa Agung.

Latihan Yoga Rāja akan menuntun kepada pencapaian pikiran yang kuat, daya kemauan yang kuat, serta kekuatan konsentrasi dan pengendalian diri yang indah.

Setiap manusia memiliki dalam dirinya berbagai potensi dan kapasitas. Manusia adalah gudang kekuatan dan pengetahuan. Dengan itu manusia bisa menjadi tuan atas semesta internal dan eksternal. Ia bisa mengungkap kekuatan baru, kemampuan baru, kualitas baru; bisa mengubah lingkungan dan mempengaruhi orang lain; bisa menundukkan pikiran orang lain, dan masuk ke tataran supra-sadar. Ia bisa mengatur semua fenomena alam – bisa mengendalikan elemen-elemen. Seluruh misteri alam semesta akan terurai olehnya.

Yoga Rāja terkait erat dengan proses pengekangan vritti (gelombang pikir) dan mencapai nirvikalpa-samādhi atau kondisi supra-sadar, tempat samskāra (benih-benih kelahiran kembali) dimatangkan. Ketika itu, kesempurnaan atau kaivalya tercapai.

Dengan sungguh-sungguh mendalami Yoga Rāja, kita akan menemukan banyak pengetahuan tersembunyi dalam kitab yang ditulis oleh Maharishi Patanjali ini. Kitab ini berisi frasa lirik singkat atau sūtra, yang tanpa bantuan komentar penjelasan dan bimbingan seorang guru yang telah benar-benar menguasai semua laku yoga, agak sulit untuk memahaminya.

HAKIKAT PIKIR

Pikir adalah kekuatan yang lahir dari Ãtman. Melalui pikir, Allah memanifestasikan diriNya sebagai semesta yang terbedakan dalam nama dan bentuk. Tanpa Ãtman, pikir semata-mata seonggok gagasan dan kebiasaan. Saat gagasan G menjadi akar dari semua gagasan, maka pikir hanyalah gagasan ‘G’.

Pikir adalah kekuatan terbesar di atas muka bumi ini. Dia yang telah menguasai pikirnya, menguasai kekuatan penuh; dia bisa membawa semua pikir ke bawah pengaruhnya. Ia dihujani kekaguman dan ketakjuban akan keajaiban dan kekuatan misterius pikir manusia. Sumber atau asal atau pendukung pikir yang misterius ini adalah Tuhan atau Ãtman. Pikir lahir dari kekuatan ilusif Allah.

Pikiran hanyalah kumpulan samskāra atau impresi, ketika tanpa Ãtman. Pikir tidak lain hanyalah kumpulan hasrat yang timbul dari kontak dengan objek-objek yang berbeda. Pikir adalah kumpulan perasaan yang dibangkitkan oleh rangsang duniawi. Pikir adalah koleksi gagasan yang dikumpulkan dari objek yang berbeda. Hasrat, gagasan, dan perasaan ini terus-menerus berubah. Hasrat-hasrat lama pergi meninggalkan tempat persemayamannya dalam pikir, dan hasrat baru menggantikannya.

Pikiran adalah sesuatu yang misterius, yang melakukan segala sesuatu. Pikir adalah produk dari kebodohan. Pikir adalah senyawa hasrat, gagasan, dan imajinasi, campuran kekhawatiran dan ketakutan.

Jika kita terengah-engah atau kelelahan ketika berjalan bahkan untuk jarak dekat, itu pertanda bahwa secara fisik kita lemah. Jika kita merasa lelah ketika mempelajari sebuah buku selama beberapa saat saja, itu pertanda ada sesuatu dalam tubuh lemah. ‘Sesuatu’ dalam tubuh itu, yang melemah ketika kita belajar, adalah ‘pikir’ atau ‘prinsip berpikir’. Ini semua membuktikan bahwa pikir itu ada.

Pikir akan kelelahan setelah bekerja keras dan berlarut-larut. Karena itu, pikir bukan Ãtman, karena Ãtman adalah sumber segala kekuatan.

Pikir hanyalah instrumen dari Ãtman. Pikir harus didisiplinkan dengan benar. Seperti tubuh fisik dikembangkan melalui senam dan berbagai latihan fisik, pikir juga harus dilatih melalui latihan mental, budidaya mental atau penggemblengan mental – misalnya dengan latihan memori, pengembangan refleksi, pembedaan, dan pencarian ‘Siapa aku?’. Latihan meditasi adalah cara ampuh untuk menjernihkan memori. Latihan budidaya memori sangat ampuh untuk mencapai meditasi.

Pikir adalah instrumen atau indera penyebab rasa senang dan sakit. Pikir tidak terterakan ketika tinggal bersama jiwa. Pikir ada dalam bentuk sebuah atom dan kekal.

Pikir selayaknya lempengan sensitif dalam kamera. Sebagaimana bayangan seseorang di depan kamera tergambar pada lempengan sensitif di dalamnya, begitupun gambar semua objek di dunia terpatri dalam pikir. Buku yang kau lihat di hadapanmu adalah gambar mental plus sesuatu yang eksternal. Bahkan seluruh dunia eksternal ada dalam pikir. Pikir telah memproyeksikan dunia ini dari dirinya sendiri, seperti laba-laba memproyeksikan jaring-jaring sarangnya dari tubuhnya sendiri. Pikir mewujudkan diri sebagai dunia eksternal. Hal-hal yang kita rasakan di sekitar kita hanyalah pikir dalam bentuk dan substansi. Pikir secara subjektif adalah kesadaran dan secara objektif adalah semesta.

Sebagaimana tubuh fisik terbangun dari materi padat, cair, dan gas, begitupun pikir terbangun dari materi-materi halus dari berbagai tingkat kepadatan dengan berbagai tingkat getaran. Dengan latihan intensif, kita bisa menembus lapisan-lapisan pikir yang berbeda.

Pikir punya bentuk-bentuk keberadaan. Pikir bisa dibandingkan dengan air yang juga punya empat keberadaan, yaitu kausal dalam bentuk H20, halus dalam bentuk air, kasar dalam bentuk es, dan gas dalam bentuk uap. Begitupun, pikir ada pada tataran kasar ketika terjaga dan menikmati objek-objek inderawi; pada tataran halus ketika berfungsi saat sedang bermimpi; pada tataran kausal ketika terlibat sebagai penyebab selama tidur lelap, dan menguap sebagai gas saat meleleh atau larut dalam Brahman selama nirvikalpa-samādhi.

Pikir juga bisa bisa dibanding dengan beras atau materi padat lainnya. Ketika memiliki individualitasnya, beras bisa dibedakan dari biji-bijian lain. Ketika ditumbuk halus dan dijadikan pasta, beras kehilangan individualitasnya, dan menjadi seonggok massa pasta yang homogen. Begitupun, pada tahap tidur lelap, pikir jadi semacam pasta beras itu. Tidak ada perbedaan. Pikir hanya seonggok massa homogen.

Seperti keju yang punya dua keberadaan, yaitu padat dan cair, begitupun pikir. Saat terjaga, pikir ada pada tataran padat, dan saat tidur lelap pikir ada pada tataran cair. Pada tataran padat, pikir terbatas dan kasar, sehingga hanya memiliki pengalaman yang terbatas pula. Pada tataran cair, pikir tidak terbatas, sehingga jiwa mampu menyerap pengalaman kebahagiaan tertinggi yang homogen dan tidak terbatas. Saat tidur lelap tidak ada ego atau individualitas. Tidak ada hasrat. Oleh karena itu, pikir mampu menyerap pengalaman kebahagiaan Ãtman yang tidak terbatas.

Pikir terbentuk dari porsi terhalus makanan yang kita asup. Materi halus ini tidak punya berat, seperti halnya pancaran gas atau uap atau asap. Seperti saat dupa atau obat nyamuk bakar atau batang terapi aroma dibakar, seketika asap mengisi setiap celah dalam ruangan. Begitupun, pikir meresapi seluruh otak segera setelah muncul dari tubuh kausal yang terjaga dari tidur lelap.

Alam semesta yang luas ini berpendar sebagaimana pikir atau imajinasi Diri (ātma-sankalpa). Hanya karena ada pikir maka semesta ini ada. Tidak ada pikir sepanjang durasi tidur lelap – begitupun tidak ada dunia ketika itu. Semakin kita memikirkan objek, semakin dunia ini tampak nyata. Konsepsi realitas semesta akan meningkat ketika kita sering dan semakin sering memikirkan objek-objek sensual. Jika semua gagasan itu dieliminasi maka tidak ada yang disebut pikir. Jadi, gagasan adalah pikir. Sekali lagi, tidak ada sesuatu yang bernama dunia ketika independen dan terpisah dari pikir.

Semua dualitas – baik/buruk, benar/salah, ya/tidak – bersumber dari pikir. Semua dualitas disebabkan oleh imajinasi pikir. Jika semua imajinasi ditarik ke dalam pikir itu sendiri melalui latihan pembedaan (mengasah kearifan), pengendalian nafsu, ikhlas, pengendalian diri, dan konsentrasi, kita tidak akan mengalami dulitas semesta. Pikir (mind) menjadi nir-pikir (no-mind), karena tidak ada objek kognisi. Pikir akan tetap pada sumbernya, Ãtman.

Pikir adalah tunggal, namun karena kekuatan ilusi tampak menjadi ganda pada tahap bermimpi, yaitu sebagai ‘yang menyadari’ sekaligus sebagai ‘objek yang dialami’. Pada tahap ini pikir bisa mewujud dalam bentuk bunga, gunung, gajah, sungai, laut, musuh, pacar, dan objek-objek lain yang diimpikan.

Pikir bergejolak.Sama seperti panas tidak terpisah dari api, begitupun gejolak atau fluktuasi tidak terpisah dari pikir. Gejolak membuat pikir selalu gelisah. Gejolak disebabkan oleh kekuatan rajas. Para bhakta (orang yang menjalani Yoga Bhakti) menghilangkan gejolak pikir dengan mendaraskan mantra dan melakukan meditasi.

Gejolak atau fluktuasi memperoleh kekuatan dari pikir itu sendiri. Gejolak pikir inilah dunia. Pikir menjadi nir-pikir ketika tidak ada gejolak. Pikir kehilangan keberadaannya dan menjadi ‘tidak ada’ ketika tanpa gejolak. Yang disebut kekuatan ilusif Tuhan (māyā) adalah gejolak potensial pikir. Hancurkan gejolak melalui kearifan atau pembedaan (viveka) yang kuat, meditasi yang konstan, dan Brahma vicāra (pencarian) yang terus-menerus.

Begitu gejolak mewujud, berbagai imajinasi tumbuh. Imajinasi adalah keberadaan ikutan – imajinasi ‘ikut ada’ ketika gejolak ada. Imajinasi sama berbahayanya dengan gejolak. Gejolak menggerakkan pikir, imajinasi menggemukkan pikir. Tanpa gejolak dan imajinasi, pikir adalah nol belaka. Gejolak dan imajinasi adalah dua sayap pada burung-pikir. Potong sayap kanan melalui pencarian Ãtman, dan sayap kiri melalui latihan pengosongan pikir. Sang burung besar – pikir – seketika akan jatuh dan mati.

Pikir adalah dinding pemisah jiwa dan tubuh. Dinding ini akan runtuh dengan pencarian Ãtman; ketika jiwa individual bertemu dan menyatu dengan Maha Jiwa, seperti sungai bertemu dan menyatu dengan laut.

Di sebuah ruang gelap, ketika rumah-lampu yang yang membatasi pancaran cahaya pecah, maka cahaya akan langsung menyebar ke seluruh ruangan. Begitupun, ketika rumah-tubuh pecah melalui meditasi konstan, yaitu ketika kita menghancurkan kebodohan dan dampaknya (seperti identifikasi dengan tubuh) dan melampaui kesadaran tubuh, kita akan mengalami maha cahaya Ãtman di mana-mana.

Pejamkan mata. Masuklah ke dalam meditasi. Bukalah hati untuk masuknya kekuatan tak terlihat. Dalam Kitab Suci tertera wahyu: “Kosongkan dirimu, dan AKU akan mengisinya.” Kau akan merasakan berlimpah pengetahuan supra-intuitif yang berada di luar jangkauan akal. Seperti air yang mengalir bebas ketika keran dibuka, begitupun kebijaksanaan ilahi akan mengalir bebas ketika hambatan kebodohan yang menghalanginya dihapuskan. Kau akan mendapatkan kilatan inspirasi, wahyu, dan intuisi ilahi. Kau akan menemukan dirimu berada dalam ketenangan dengan membungkam kelebat-kelabat pikiran dan emosi, dan menghubungkan pikir dengan Sang Sumber dengan cara menarik pikir dari objek-objek inderawi, sebagaimana yang kau alami ketika menekan nomor telepon dan terhubung dengan orang di seberang sana.

Sukacita adalah makanan pikir. Tatkala urusan kita berantakan atau kita berada dalam kegalauan, segera berat badan turun dengan drastis, walaupun kita menyantap makanan bergizi dalam jumlah besar. Kita merasakan sesuatu dalam diri luar biasa lemah. Pada pengalaman lain, ketika seorang ibu terlibat sangat dalam pada urusan pernikahan puterinya, sampai lupa makan, namun tubuhnya tetap sehat dan terasa bugar. Itu terjadi karena ia dipenuhi sukacita. Kegembiraan dan keceriaan adalah tonik berkhasiat untuk pikirannya; ia beroleh kekuatan mental walau tidak makan sesuap pun. Sukacita adalah asupan mental yang bagus.

Perubahan pikiran, relaksasi pikir dengan menikmati gagasan-gagasan tentang objek yang menyenangkan, sukacita, makanan murni, dan rekreasi mental alam murni diperlukan untuk kesehatan mental.

Pikir mencipta dan menghancurkan. Pikir adalah segalanya. Pikir bisa membuat neraka jadi surga dan surga jadi neraka. Jagalah pikir agar tetap dalam kendali, maka kita akan benar-benar merasa bahagia. Pikir mencipta dan menghancurkan. Pikir mencipta seluruh semesta dengan daya imajinasinya. Karakteristik utama pikir adalah imajinasi. Pikir adalah pencipta dan penikmat segala kebahagiaan dan kesengsaraan. Pikir adalah penyebab keterikatan dan kebebasan. Pikir adalah semua. Pikir adalah segalanya. Pikir adalah sahabat sejati dan musuh terbesar. Pikir yang tidak murni adalah musuhmu. Pikir menyebabkan berbagai ikatan. Pikir penuh dengan hasrat dan selera. Pikir yang tertinggi adalah teman langka dan sangat dermawan, karena memberikan nasihat benar untuk mencapai tujuan tertinggi kehidupan. Pikir yang lebih tinggi adalah guru pembimbingmu. Dengarkanlah suaranya yang lembut dan manis, lalu ikutilah petunjuknya. Suara pikiran murni adalah suara Tuhan. Suara yang sempurna. Dalam Bhagavad-Gītā tertera: “Angkatlah dirimu sendiri, dan jangan kau lemahkan dirimu. Karena, diri adalah temanmu dan diri adalah musuhmu sendiri. Diri adalah teman bagi mereka yang telah menaklukkan dirinya; diri adalah penentang (dan berperilaku) bagai musuh (eksternal) bagi mereka yang belum menaklukkan dirinya sendiri” (4:5-6)

Tidak ada perahu di atas muka bumi ini yang bisa menyeberangi lautan keberadaan duniawi (samsāra) selain penguasaan pikiran naluriah yang rendah.

Pikir selalu melekatkan diri pada sesuatu yang objektif. Pikir tidak bisa berdiri sendiri. Pikir meraba-raba dalam gelap. Pikir bisa lupa dan berubah setiap saat. Jika tidak terasupi makanan selama beberapa hari saja, pikir tidak bisa bekerja dengan baik. Tidak ada fungsi pikir saat tidur lelap. Pikir penuh dengan hasrat, nafsu, dan keinginan-keinginan yang tidak murni. Pikir bingung ketika marah; gemetar ketika takut; tenggelam ketika terkejut. Bagaimana mungkin kau bisa menganggapnya Diri yang murni?

Seorang penulis menulis banyak buku dengan bantuan pena. Pena hanyalah instrumen untuk menulis. Pena tidak layak berkata, “Aku telah menulis semua buku-buku ini, semua pujian seharusnya hanya milikku.” Pikir, indera dan tubuh hanyalah instrumen tangan Tuhan. Tuhanlah yang melakukan segalanya. Resapilah ini dan tanggalkan segala ke-pelaku-an.

Seorang anak hanya mewarisi karakteristik fisik dari orangtuanya, bukan ciri-ciri mental. Si anak memiliki gagasan, temperamen, kecenderungan, bakat, dan sifat mentalnya sendiri. Seseorang dengan kecenderungan musik dan lahir dari keluarga musisi terkenal sehingga sangat menguntungkan bagi pertumbuhannya lebih lanjut dalam seni musik, tidak berarti bahwa ia telah mewarisi kecenderungan musik ayahnya.

Pikir punya banyak prasangka. Ketika seorang seniman mulai menggambar di atas kanvas, ia menarik gambar yang sebelumnya telah dikerjakannya dalam pikirnya, dan memindahkannya ke atas kanvas. Setiap tindakan yang dilakukan oleh tubuh fisik adalah hasil dari gagasan yang telah terbentuk sebelumnya. Mula-mula pikir menggagas dan membuat rencana dan skema. Kemudian aksi mewujudkannya. Misalnya, sang penemu jam tangan, pada awalnya menggagas segala hal tentang konstruksi tuas, berbagai jenis roda gigi, jarum penunjuk, dan hal-hal lainnya. Gagasan-gagasan ini kelak termaterialisasikan dalam tindakan.

Pikir hanya bisa melakukan satu hal pada satu waktu. Gagasan tidak bisa benar-benar hadir untuk lebih dari satu hal pada suatu waktu. Dua gagasan, seerat apapun keterkaitannya satu sama lain, tidak bisa ada pada saat yang sama. Kita tidak bisa hadir untuk dua objek yang berbeda pada suatu waktu. Pikir hanya dapat melakukan satu hal pada satu waktu. Karena bergerak dengan kecepatan luar biasa, maju dan mundur, kita menyangka pikir bisa hadir untuk beberapa objek atau hal pada suatu waktu. Kita hanya bisa melihat atau mendengar pada suatu waktu. Kita tidak bisa melihat dan mendengar pada saat yang sama. Tetapi hukum ini tidak berlaku untuk seorang yogi. Seorang yogi tingkat lanjut bisa melakukan beberapa hal pada suatu waktu secara bersamaan karena kehendaknya tidak lagi terpisah dari kehendak kosmik yang maha kuasa.

Secercah cahaya akan tampak sebagai lingkaran cahaya konstan ketika berputar cepat. Meskipun pikir hanya dapat menghadirkan satu hal pada satu waktu (mendengar atau melihat atau mencium), dan hanya bisa menangkap satu sensai pada satu waktu, namun karena bergerak dari satu objek ke objek lain dengan kecepatan luar biasa, maka aktivitas pikir tampak simultan.

Kita harus melatih pikir dengan benar dan memberinya asupan makanan murni yang tepat untuk proses asimilasinya. Milikilah latar belakang pemikiran atau gambaran mental yang ilahiah.

Pikir akan menjadi seperti gagasan di dalamnya. Ini adalah hukum abadi psikologis. Ketika kita mulai memikirkan keburukan orang lain, pikir akan berhenti pada kualitas-kualitas buruk itu dan terisi dengan kualitas-kualitas itu juga, terlepas bahwa kita sendiri memiliki kualitas buruk itu atau tidak. Bisa jadi, ini adalah imajinasi kosong belaka, karena dilandasi pemikiran yang salah, kecenderungan yang salah, ataupun kebiasaan yang salah. Mungkin, sesungguhnya, pikirmu tidak sedikitpun memiliki sifat-sifat buruk seperti yang telah kau isikan kepadanya melalui sakit hati, cemburu, kepicikan, dan buruk sangka. Oleh karena itu hentikanlah kebiasaan berbahaya, seperti mencela dan mencari-cari kesalahan orang lain. Berikan pujian kepada orang lain. Kembangkan kekuatan atau visi untuk menemukan hal-hal baik pada orang lain. Jangan menggonggong seperti anjing liar tentang keburukan orang lain. Muliakan sesamamu. Kau akan bertumbuh secara spiritual. Kau akan disukai, dihargai, dan dihormati oleh orang lain.

Pikir selalu penuh harapan, percaya diri, berani, teguh terhadap tujuan dan kukuh membawa diri menuju tujuan, dan menarik hal-hal dan daya yang menguntungkan untuk tujuan itu.

Keragaman atau heterogenitas yang kita temukan di dunia ini adalah ciptaan mental. Ketika pikir dinihilkan dari prasangka, nafsu, dan egoisme, semua keragaman itu lenyap. Yang tinggal hanya kebijaksanaan.

Seperti tubuh ada untuk kenikmatan indera, seperti indera ada untuk kenikmatan pikir, begitupun pikir ada untuk kenikmatan Diri (purusha). Seperti rumah beroleh bentuknya dari berbagai materi pembangunnya untuk suatu kenikmatan lain, begitupun pikir dengan segala unsur pembentuknya ada untuk kenikmatan purusha.

Pikir adalah pintu menuju kehidupan kekal. Seperti halnya ada pintu di sebuah rumah yang membatasi bagian dalam dan luar kamar, begitupun ada pintu antara pikir tataran rendah dan tataran yang lebih tinggi. Ketika pikir dimurnikan dengan latihan yoga karma, tapas, perilaku benar atau praktik yama, niyama, japa, meditasi, dan lain-lain, pintu di antara pikiran rendah dan pikiran yang lebih tinggi terbuka. Kita akan menerima inspirasi, wahyu dan pengetahuan ilahiah yang lebih tinggi.

Hidup dalam tataran fisik hanyalah persiapan untuk kehidupan kekal yang penuh sukacita yang akan datang ketika kita mendapatkan pengetahuan tentang Diri melalui meditasi mendalam dan konstan setelah pemurnian pikir. Kehidupan maha-sukacita yang kekal ini digambarkan dalam Kitab Suci sebagai ‘Kerajaan Surga’ yang sejatinya ada di dalam dirimu, di dalam hatimu. Realisasikan kehidupan kekal ini dengan pengendalian pikir.

Bersiaplah karena Kerajaan Allah sudah dekat! (ret)

sumber:
1. Muktasambhava, Rama, dalam berbagai diskusi verbal.
2. Sivananda, Swami. 1983. Raja Yoga: The Yoga System of Patanjali.    Rishikesh:The Divine Life Society.
3. Alkitab Perjanjian Baru, Bhagavad-Gītā, dan sumber-sumber lain di perpustakaan Padepokan Suwekaprabha.

.

.

Advertisements

Sila beri tanggapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s