Guru

Anda yang pernah mencicipi berlatih yoga di Padepokan Suwekaprabha, mungkin menemukan ‘sesuatu’ yang berbeda dengan suasana latihan yoga di tempat lain, terutama di tempat-tempat yang mengajarkan bentuk-bentuk yoga hibrida yang umumnya dibawa dari negara-negara Barat lengkap dengan instruktur ‘bule’ bersertifikat.

Selain pola dan ‘kurikulum’ latihan yang cenderung ‘tradisional’, perbedaan paling mendasar di Padepokan Suwekaprabha adalah tidak adanya instruktur. Padepokan Suwekaprabha memang tidak punya instruktur; yang ada adalah seorang guru.

Kata ‘guru‘ di sini tertulis dengan huruf miring, yang seturut kaidah Bahasa Indonesia diterapkan untuk kata-kata bahasa asing. Memang, kata guru di sini bukanlah ‘guru’ dalam bahasa Indonesia, melainkan bahasa Sansekerta yang secara harfiah, berarti ‘orang yang berbobot’.

Yoga tradisional dicirikan dengan hubungan guru-murid yang mendalam, yang diyakini akan terus berlanjut bahkan melampaui kehidupan fisik ini. Situasi ini serupa dengan perguruan spiritual tradisional di negeri kita, terutama di Jawa (mungkin karena saya hanya tahu perguruan di Jawa 🙂 – red). Guru, yang nasihat ataupun penilaiannya ‘berbobot’, merupakan poros seluruh struktur inisiasi dalam laku spiritual termasuk yoga. Kitab Shiva-Samhitā (3:11-13) menggambarkan pentingnya peran guru di sebuah perguruan dalam stansa berikut:

[Hanya] pengetahuan yang diberikan melalui mulut guru adalah pengetahuan yang membawa pembebasan, selain itu adalah sia-sia, lemah, dan menyebabkan banyak penderitaan.

Tidak ada keraguan bahwa guru adalah ayah bagi seorang murid; guru adalah ibu bagi seorang murid; guru adalah [perwujudan]Tuhan. Oleh karena itu guru harus dihormati dalam segala pikiran, perkataan, perbuatannya. Dengan bantuan guru (prasāda) murid akan memperoleh semua keutamaan.

Secara tradisional, perguruan yoga menganut sistem guru-kula, yaitu murid adalah anggota keluarga dan bagian dari rumah tangga (kula) gurunya. Sistem ini juga dianut perguruan spiritual di Jawa di masa lalu. Oleh karena itu, pada masa itu di Jawa, bahkan berbesanan antar saudara seperguruan pun ‘haram hukumnya’.

Guru bagaikan juru mudi yang mengantar murid-muridnya menyeberangi lautan keberadaan fenomebal dengan perahu yang dibangun dari pengetahuannya (Yoga-Kundalī-Upanishad 3:17). Jika guru hanya ‘nominal’, maka begitu pula pembebasan yang diberikannya kepada muridnya Shiva-Purāna 7.2.15:38). Tanpa kasih (karunā) seorang guru sejati (sad-guru), pengalaman sahaja sulit untuk dicapai (Hatha-Yoga-Pradīpika 4:9).

Kata guru terbentuk dari suku kata gu yang berarti ‘kegelapan’, dan suku kata ru yang berarti ‘penghancur’. Karena ‘kekuatan’ untuk menghancurkan kegelapan itulah seseorang disebut guru (Advaya-Tāraka-Upanishad 14). Filosofi Tantra membedakan empat tingkat guru: (1) guru, (2) parama-guru, (3) parāpara-guru, dan (4) parameshthi-guru. Menurut Nīla-Tantra (5:73), Shakti adalah ‘lebih tinggi’ dari ‘guru tinggi’ (parāpara-guru), sedangkan Shiva adalah guru tertinggi (parameshthi-guru).

Jalan spiritual penuh onak, kasar, dan terjal. Laku spiritual diselimuti kegelapan. Ini sama sekali berbeda dengan menulis tesis untuk meraih gelar MA. Bantuan guru diperlukan setiap saat. Mereka yang hidup di bawah bimbingan seorang guru, yang melakukan perintah guru secara mutlak, yang berbakti kepada guru dengan tulus dan menempatkannya sebagai perwujudan Tuhan di dunia, benar-benar akan bertumbuh dalam jalan spiritual. Tidak ada cara lain untuk mencapai kemajuan spiritual.

Kualitas seorang guru bersumber dari realisasi diri, yang tampak pada keberadaannya yang paling mendasar, dan secara spontan terkomunikasikan kepada orang lain, bahkan kepada lingkungan alam. Kualitas Diri Sejati selalu menularkan sifat pembebasannya, yang merupakan sifat sejati semua keberadaan dan hal. Maka, seorang guru sejati akan selalu mengajak orang lain kepada realisasi yang sama, walau mungkin mereka lambat dalam menjalaninya.

Ketika seorang cantrik (sebutan untuk ‘aspiran’ di Padepokan Suwekaprabha) di manapun ia berada, bermeditasi pada guru atau pembimbing spiritualnya di tempat yang berbeda, koneksi pasti terjalin antara dia dan gurunya. Guru memancarkan kekuatan, kedamaian, sukacita, dan kebahagiaan kepada cantrik sebagai tanggapan atas pikirannya. Dia bermandikan arus magnetis yang kuat. Arus listrik spiritual mengalir terus dari guru kepada muridnya. Murid dapat menyerap atau menarik dari gurunya sebanding dengan tingkat keyakinannya. Setiap kali seorang murid dengan tulus bermeditasi pada gurunya, sang guru juga benar-benar merasakan aliran doa atau pikiran luhur muridnya dan menyentuh hatinya. Dia yang memiliki penglihatan astral dapat memvisualisasikan dengan jelas aliran tipis cahaya terang antara murid dan guru, yang disebabkan oleh pergerakan getaran pikiran murni dalam lautan kesadaran.

Karena identifikasinya yang sempurna atas Realitas Transendental, seorang guru yang tercerahkan, secara tradisional, dihujani penghormatan yang sangat tinggi. Mereka bahkan dianggap sebagai perwujudan (vigraha) Sang Ilahi.

Sepanjang masa hingga hari ini, hanya ada sedikit guru yang benar-benar sudah mengalami pencerahan penuh dan mampu mengungkap Diri Sejati; sebaliknya ada banyak guru yang tidak hanya menuntut ketaatan penuh, tetapi juga pelayanan, bahkan imbalan untuk inisiasi (dīkshā) ini dan itu. Sebuah kitab klasik, Kulārnava-Tantra, bahkan sudah meramalkannya sejak ratusan tahun yang lalu:

O Devī, ada banyak guru di Bumi yang memberikan selain Diri Sejati, tapi sulit ditemukan di seluruh alam semesta guru yang mengungkap Diri Sejati.

Banyak guru yang merampok kekayaan murid, tetapi jarang ada guru yang menghilangkan kesengsaraan muridnya.

Dia adalah guru [sejati] yang darinya mengalir kebahagiaan utama (ānanda). Orang cerdas harus memilih orang seperti ini sebagai gurunya dan bukan yang lain. (13.106ff)

Di sisi lain, juga ada peringatan bagi orang yang meninggalkan gurunya, yang berkonsekuensi karma. Sebagai contoh, Saura-Purāna (68:11), sebuah kompilasi ensiklopedis abad pertengahan, memuat ancaman kutukan seperti:

Semoga dia yang meninggalkan gurunya akan bertemu dengan kematian. Semoga dia yang berhenti [membaca] mantra [yang diberikan kepadanya oleh gurunya] akan menjadi miskin. Semoga dia yang meninggalkan keduanya [guru dan mantra] menjadi bagian dalam neraka bahkan jika [kepandaiannya] sempurna.

Bergurulah kepada orang yang tepat. Jika tidak menemukan seorang guru yang ideal, Anda bisa berguru pada seorang aspiran senior, yang telah menapaki jalan realisasi selama beberapa tahun. Pilihlah guru yang memiliki pribadi tulus dan jujur, tidak mementingkan diri sendiri, bebas dari kesombongan dan egoisme, yang memiliki karakter baik dan pengetahuan suci. Setelah menemukan guru yang tepat, ikuti petunjuknya dengan ketat. Sekali Anda menerima seseorang sebagai guru, jangan sekali-kali berprasangka buruk terhadapnya dan jangan pernah berdebat dengannya.

Jangan sering berganti guru. Anda akan bingung dan mengalami konflik gagasan. Setiap orang punya metode latihan spiritualnya sendiri. Anda tidak akan mengalami kemajuan jika terlalu sering berganti metode. Berteguhlah pada satu guru dan bertekunlah dengan petunjuk-petunjuknya.

Teguh pada satu metode. Anda akan berkembang dengan cepat. Ikhlas mengabdi pada satu guru, satu ideal, satu jenis sādhana, dan aplikasi sepenuh hati, adalah syarat mutlak bagi realisasi Allah.

Praktek yoga-guru sebagai dasar untuk transmisi spiritual masih hidup sampai hari ini; salah satunya adalah Padepokan Suwekaprabha. Masuknya yoga dan tradisi esoterik lain ke negara-negara Barat telah memang menimbulkan sejumlah pertanyaan, tidak kurang dari kesesuaian ajaran spiritual dan legitimasi otoritas spiritual.

Epilogue

Alkisah ada orang yang mencari guru sejati. Pada akhirnya ia menemukannya. Ia pun langsung bertanya kepada guru barunya

Si murid: “Oh Tuan yang mulia, beri aku petunjuk.”

Sang guru bertanya: “Petunjuk macam apa yang kau inginkan?”

Si murid bertanya: “Oh Guru tercinta, siapakah yang lebih unggul, murid atau guru?”

Sang guru berkata: “Guru lebih unggul murid.”

Murid itu pun berkata: “Guru tercinta, jadikan aku seorang guru. Aku sangat menginginkannya”

Murid semacam itu banyak di hari ini.

Selamat berguru dan berbahagia dalam Realisasi Diri. 

** Penghormatan bagi Guru kami
pada peringatan GURU PURNIMA Juli 2012.

.

.

Advertisements

4 thoughts on “Guru

    1. Dear Anta,
      Guru Purnima adalah satu hari saat purnama di bulan Ashadha (Juli-Agustus) yang didedikasikan untuk menghormati para guru. Pada hari itu murid-murid dari seluruh pelosok India melakukan perjalanan pulang ke perguruan (guru-sthana). Mereka duduk di hadapan guru untuk memberi penghormatan (sungkem :)) dan menerima berkat sebagai bekal dalam mengarungi kehidupan selanjutnya, melampaui segala penderitaan menuju ke alam kebahagiaan abadi; alam Cahaya yang mengatasi semua kegelapan.

      Pada awalnya, purnama di bulan Ashadha dirayakan sebagai Vyasa Purnima untuk menghormati Maharishi Vyasa. Pada purnama bulan Ashadha, Maharishi Vyasa merampungkan karya agungnya, Brahma Sūtra, yang menjadi panduan utama laku spiritual hingga hari ini. Karena karya itu, Maharishi Vyasa dianggap gurunya para guru. Dalam perkembangannya, Vyasa Purnima menjadi Guru Purnima, untuk menghormati Vyasa dan semua guru.

      Saat perayaan Guru Purnima, para murid juga mempersembahkan kurban guru-dakshina sebagai simbol rasa terima kasih mereka kepada gurunya. Tulus dan khusuk dalam sādhana, mengabdikan diri kembali kepada cita-cita besar spiritualitas – penyangkalan, pengendalian nafsu, diskriminasi, abhyasa, sādhana spiritual – adalah guru-dakshina yang dipersembahkan kepada para guru. Dakshina yang diharapkan oleh guru adalah setiap murid bersinar sebagai pusat aspirasi bagi lingkungannya; dedikasi total terhadap cita-cita spiritual; tekad yang bulat untuk mengikuti jalan ajaran – apapun yang terjadi – untuk mematuhi petunjuk guru dan, untuk hidup seturut cita-cita luhur yang diajarkan oleh para guru.

      Bulan bersinar dengan memantulkan cahaya matahari. Bulan purnama di hari Purnima memantulkan dengan cemerlang keagungan cahaya matahari. Memuliakan matahari. Perayaan di saat purnama penuh, membawa harapan atas para murid agar menjadi seperti bulan purnama yang memancarkan keagungan cahaya Ātman; menjadi cermin yang memantulkan kemegahan Brahma, cahaya dari segala cahaya; menjadi saksi atas karya ilahi, matahari dari segala matahari yang cemerlang.

Sila beri tanggapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s