Niyama # 3: Tapas

Kāya indriya siddhiḥ aśuddhikṣayāt tapasaḥ (YS 2:43)
Tapas membersihkan diri dan menyempurnakan (pengendalian) raga, indera, dan pikir

Kesempurnaan (siddhi) raga dan indera diperoleh dengan melakukan tapas. Setiap upaya untuk menundukkan indera adalah tapas – yang tentunya melibatkan pula pengendalian pikir. Setiap tindakan pengendalian diri – seringan apapun, bahkan sekadar mencatat latihan sekalipun – akan menghasilkan kekuatan baru dalam sistem; seperti setetes madu yang akan memberi rasa manis meskipun hanya setetes.

Tapas – kesederhanaan dalam pikir dan tubuh – berarti kita harus mampu menanggung ketidaknyamanan fisik dan kelelahan, juga penghinaan, luka, penganiayaan, dan segala macam pelecehan. Kita harus dapat menjaga pikir dan indera selalu murni dan terkendali. Tapasadalah juga merasa puas dengan kebutuhan minimum untuk hidup sehat. Tidak seharusnya kita meminta lebih. Sederhana adalah disiplin ketika seseorang merasa puas secara internal dengan sarana paling minimal dalam hidup.

Tapas adalah moderat dalam hidup. Berbicara dengan manis dan tidak menyakitkan adalah tapas. Makan dan tidur secukupnya adalah tapas. Tidak menunjukkan nafsu binatang adalah tapas. Menjadi manusiawi adalah tapas. Menjadi orang baik dan berbuat baik adalah tapas.

Tapas adalah mental, verbal, dan fisikal. Ketenangan pikir dan emosi membentuk tapas mental. Berbicara manis tapi jujur adalah tapas verbal. Ikhlas melayani sesama adalah tapas fisik. Ketenangan, pengendalian mental, kemurnian hakikat, pikiran tajam, kebahagiaan mental, keceriaan dan kesucian hidup, semuanya adalah tapas pikir.

Esensi tapas yang paling mendasar adalah pengendalian nafsu rendah. Tapas adalah konfrontasi langsung terhadap perilaku indera. Segala sesuatu yang dilakukan untuk memurnikan hakikat diri dan memenuhkan diri dengan Roh adalah tapas.

Secara etimologis, tapas berarti menyala atau terbakar. Tapas adalah panas yang hebat, yang menggugah energi atau kekuatan-dalam diri. Api adalah agen pemurni sekaligus menerangi objek. Ada dua implikasi api, yaitu membakar (kotoran) dan memurnikan. Api juga sumber cahaya. Jadi tapas adalah setiap proses mendalam yang membakar kotoran dalam hakikat manusia dan memenuhinya dengan cahaya dan kemurnian kesadaran spiritual. Tujuan utama tapas adalah pemurnian dan iluminasi personalitas diri. Dan apapun yang dilakukan untuk tujuan ini dapat disebut tapas.

Secara filosofis, meditasi adalah bentuk tertinggi tapas. Memfokuskan pikir yang mengembara kepada Tuhan atau Brahman adalah tapas besar. Pencarian dan meditasi adalah tapas tertinggi. Pengendalian indera, prānāyāma, konsentrasi, samādhi, berkawan dengan para bijak, serta yama dan niyama adalah tapas besar.

Tapas yang dilakukan dengan iman sepenuhnya, tanpa pamrih apapun, adalah sattvis atau murni. Jika dilakukan dengan maksud untuk mendapatkan hormat, penghargaan, pujian, dan untuk kesombongan menjadi rajasis, gamang, dan tidak bertahan lama. Jika dilakukan dengan pemahaman yang keliru, dengan menyiksa diri, atau dengan tujuan menghancurkan yang lain, adalah tamasis atau kegelapan.

Dengan tapas, pikir, ucapan, dan indera dimurnikan. Puasa dan semua ajaran agama yang tertulis dalam kitab suci, termasuk dalam tapas.

Dalam proses pengendalian, raga dan indera akan saling menyesuaikan. Raga tidak lagi menjadi hamba indera. Akan ada kesepakatan di antara keduanya sehingga mereka menjadi satu kesatuan yang kompak. Kemudian, tidak ada lagi pemborosan energi karena indera yang ‘terburu nafsu’, atau karena raga yang tunduk terhadap indera. Juga, secara bertahap, nafsu indera akan berhenti dengan sendirinya. Selanjutnya, kepuasan yang mengikuti pengekangan indera, pikir, dan disiplin raga, akan memberikan keyakinan dan membawa sukacita baru dalam diri. Rasa tidak puas di dalam dirilah yang membuat kita lari ke hal-hal duniawi – semacam ada kekosongan dalam diri; kekosongan dalam indra dan pikir. Kita merasa seolah ‘bangkrut’ dalam segala hal dan, karenanya, ada ‘kebutuhan’ untuk pergi ke objek luar.

Kesejatian manusia – dan objek apapun di dunia – ada di dalam dirinya. Segala kekuatan dan kesempurnaan adalah potensi dan, karena itu, yang dibutuhkan bukan upaya eksternalisasi berupa kontak dengan objek inderawi, tetapi suatu telaah batin untuk melepaskan energi yang terkandung di dalamnya. Yoga adalah upaya internalisasi untuk tujuan pembebasan potensi-potensi yang berada di dalam diri, dan realisasi keberadaan dan kapasitasnya, yang akan mengakhiri semua nafsu indera, pikir, dan ego. Penghapusan sampah, atau kotoran pikir inilah yang disebut sebagai asuddhi ksayat. Ketika ini terjadi, ketika kotoran pikir dikeluarkan, akan ada kesempurnaan tubuh, indra dan pikir – yang semuanya adalah efek dari tapas: Kaya indriya siddhiḥ aśuddhikṣayāt tapasaḥ (2:43). (ret)

BERSAMBUNG

Selanjutnya: Niyama # 4: Svadhyaya

Advertisements

Sila beri tanggapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s