Viveka

Viveka adalah distingsi antara yang nyata dan tidak nyata, yang kekal dan tidak kekal, Diri dan bukan Diri. Viveka tumbuh dalam diri seseorang karena kasih karunia Tuhan. Karunia Tuhan datang hanya ketika seseorang dalam kelahirannya telah melakukan pelayanan tanpa pamrih yang tak terhitung jumlahnya semata-mata dengan dasar īsvararpana atau persembahan kepada Tuhan. Pintu pikir tataran yang lebih tinggi terbuka lebar ketika kebangkitan distingsi dalam diri. Ada prinsip kekekalan di tengah fenomena semesta yang selalu berubah, juga dalam gerak dan getaran pikir yang berkelendan.
Kelima selubung diri (sila baca: Diri #1) mengapung dalam kesadaran universal seperti jerami di atas air. Kelima kosha yang selalu berubah bercampur dengan ātman (Diri Sejati) yang kekal. Untuk tubuh fisik ada masa kanak-kanak, masa remaja, dewasa, dan tua, namun ada latar belakang yang tidak berubah pada tubuh dan pikir yang selalu berubah ini, seperti papan tulis atau layar bioskop yang tidak berubah namun selalu menampilkan bermacam bentuk dan gambar yang berubah-ubah. Saksi atau penonton tidak kentara yang menyaksikan perubahan tubuh dan pikir ini kekal dan tidak berubah. Ini adalah ruang yang meresapi; yang menyebar, menembus, dan menekan semua bentuk perubahan. Esensi kekal ātman ini hadir di mana-mana dan dalam segala sesuatu. Esensi kekal ātman ini berdiam di bilik hati kita. Inilah jiwa dari pohon, batu, bunga, kambing, anjing, kucing, manusia kebanyakan maupun orang-orang suci. Esensi kekal ini adalah kelengkapan umum semua mahluk, baik orang suci maupun pendosa, raja maupun rakyat jelata, pengemis maupun buronan, pemulung, atau tukang sepatu. Kekalan adalah esensi paling mendasar bagi kehidupan dan pemikiran.
Sebagai seorang aspiran, kita harus belajar untuk membedakan substratum yang kekal dan tetap pada semua objek dan bentuk yang selalu berubah. Kita harus mengikatkan diri setiap saat dengan Diri yang kekal dan tidak berubah. Kita harus berusaha untuk memisahkan diri dari kelima selubung diri (kosha) yang selalu berubah dan tidak tetap; dari nafsu, emosi, perasaan, pikiran, kepentingan, bahkan dari getaran pikir itu sendiri. Kita harus bisa membedakan antara pikir dan esensi yang bergerak dan menerangi benak; antara sensasi dan kesadaran murni yang tetap, tidak terpengaruh, dan tidak terikat; antara personalitas dan individualitas. Kita juga harus memisahkan diri dari aspek ketubuhan yang berkelebat, yaitu posisi, pangkat, kegemaran, kelahiran, kasta, dan tatanan kehidupan. Semua itu adalah kelengkapan personalitas palsu.

Advertisements

Sila beri tanggapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s