Niyama # 5: Ishvara Pranidhana

Niyama yang terakhir adalah īshvara-pranidhana atau berserah kepada Tuhan. Apapun perintah komandan, tentara ikut. Setiap tentara tidak mulai bergerak sendirian – semua mengikuti komando. Para Pencari Kebenaran menempatkan Ishvara sebagai Panglima Tertinggi, dan sekali mereka memutuskan untuk mematuhi kehendak-Nya, hidup mereka menjadi pola kebenaran. Berserah kepada Tuhan berarti menerima tatanan Tuhan dan menghapus inisiatif personal; tidak berpikir secara individual, menarik diri kepada situasi yang terjadi di sekitarnya tanpa mempengaruhi terjadinya. Pada tahap lanjut, kita akan terbiasa dengan semua keadaan, dan tidak berkehendak mengubah tatanan seperti maunya. Dia tidak melakukan apapun dengan gagasan personal, tetapi menanggung konsekuensinya. Dia tidak ingin mengubah keadaan, tetapi mentoleransi semuanya. Ia membiarkan hal-hal terjadi, dan tidak ingin untuk memodifikasi adanya. Baginya hanya Tuhan saja. Ini adalah inti berserah diri dalam yoga.
Disiplin yoga mengharuskan setidaknya skor minimal dalam uji yama dan niyama. Namun para aspiran yoga sering keliru dengan mengabaikan disiplin ketaatan dasar ini dan langsung masuk ke asana dan meditasi. Banyak pula yang mengira sudah mantap dengan yama dan niyama padahal tidak menguasai satu pun diantaranya. Meditasi sendiri adalah tapak ke-tujuh dalam yoga. Seperti menyalakan korek untuk menghasilkan api. Api akan muncul jika gesekan dilakukan dengan benar, dan batang korek api benar-benar kering. Tapi pembuatan korek api adalah proses yang panjang, dan butuh waktu, meskipun menyalakannya hanyalah pekerjaan sedetik saja. Begitupun dengan meditasi. Ketika upaya meditasi tidak membawa kepuasan dalam banyak kasus berarti ada persiapan yang tidak cukup. Meditasi adalah aliran kesadaran, bukan lompatan, tarikan, atau dorongan. Sebuah sungai akan mengalir tenang di kontur tanah miring, tanpa usaha. Begitu pula meditasi ketika langkah-langkah sebelumnya tertata dengan baik. Fondasi tidak pernah terlihat ketika bangunan di atasnya terlihat. Tapi kita tahu betapa pentingnya pondasi untuk bangunan. Kekuatan tak terlihat, yaitu yama dan niyama adalah fondasi dari yoga, dan seharusnya tidak ada seorangpun yang berani berpikir bahwa ia sepenuhnya sudah mantap dengan keduanya. Waspada adalah semboyan dalam yoga.

EPILOG

Yama dan niyama adalah awalan, yang benar-benar berlangsung sampai akhir yoga. Seperti pendidikan tingkat sekolah dasar adalah penting sebagai pembuka jalan lebih lanjut untuk pembangunan mental seseorang, yama dan niyama adalah bati fondasi yoga. Murid memasuki medan praktis meditasi setelah dibangun oleh yama dan niyama, yang memberikan kekuatan dan keberanian yang diperlukan untuk menghadapi semua rintangan. Meditasi tidak sulit dicapai jika sebelumnya dilakukan persiapan yang diperlukan. Proses yama-niyama merupakan petunjuk di psikologi yoga, yang memberi kita peringatan yang cukup di jalan dan menjadikan kita peziarah yang waspada dalam perjalanan rohani. Maka, kita pun siap menapaki langkah pertama dalam yoga praktis, yaitu asana. (ret)

SELESAI

Advertisements

Sila beri tanggapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s