Karma

Manusia adalah tiga dimensi dalam hakikatnya. Ia terdiri dari pikir, rasa, dan hasrat. Ketiga dimensi itu membentuk karmanya. Manusia memahami suatu benda sebagai kursi, pohon, dll. Manusia merasa suka atau tidak suka. Manusia juga berkehendak untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.

Di balik perbuatannya, ada hasrat dan pikir. Hasrat atau nafsu akan suatu objek muncul dalam benak atau pikir, dan manusiapun menggagas cara dan mengerahkan segala upaya untuk mendapatkannya. Hasrat, pikir, dan tindakan selalu bekerja bersama-sama dalam proses ini. Ketiganya adalah benang-benang yang melilit karma.

Hasrat atau nafsu menghasilkan karma. Manusia berbuat dan mengerahkan segala upaya untuk memperoleh objek hasrat. Karma menghasilkan buah berupa rasa sakit atau senang. Manusia harus terlahir lagi setelah kelahiran fisiknya untuk menuai buah karmanya. Ini adalah hukum karma.

Ada tiga macam karma, yaitu karma atas akumulasi perbuatan, karma atas perbuatan-perbuatan yang membuahkan, dan karma perbuatan-perbuatan saat ini. Karma akumulasi perbuatan diterima manusia dari perbuatan-perbuatannya di masa lalu. Ini terlihat berupa bakat, kecenderungan, dan keinginan.

Karma yang membuahkan adalah karma atas perbuatan di masa lampau yang menjadi tanggung jawab tubuh saat ini. Karma ini matang untuk dituai, tidak bisa dihindari atau diubah, dan hanya bisa tuntas dengan dialami. Dengan karma ini manusia membayar utang masa lalunya.

Karma perbuatan saat ini adalah karma yang saat ini sedang dibuat untuk dituai kelak.

Ada analogi indah dalam literatur Vedānta. Seorang pemanah telah menembakkan sebuah anak panah. Anak panah itu telah terlepas dari tangannya, melesat, dan tidak bisa ditariknya kembali. Sekarang sang pemanah bersiap-siap untuk melepaskan anak panah berikutnya.

Seperangkat anak panah dalam kantung yang tergantung di punggung sang pemanah ibarat akumulasi perbuatan. Anak panah pertama yang telah ditembakkannya adalah perbuatan yang membuahkan. Anak panah ke-dua dalam genggamannya, yang hendak dilepaskan dari busurnya, adalah perbuatan saat ini. Dari cerita itu, sang pemanah memiliki kendali sempurna atas akumulasi perbuatan dan perbuatan saat ini. Anak panah yang telah terlepas dari busurnya tidak bisa ditariknya kembali.

Perbuatan di masa lalu telah terjadi dan menghasilkan buah. Manusia hanya bisa menerima dan mengalaminya. Karma perbuatan yang membuahkan, tidak dapat dicegah bahkan oleh Tuhan. (ret)

Sila baca juga Hukum Karma

Advertisements

Sila beri tanggapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s