Karma

(kg) 1 membuat

Karma adalah kata ganti nominatif dan akusatif dari kata dasar bahasa Sansekerta kri yang berarti ‘membuat’ yang membentuk kata benda karman. Karma umumnya diterapkan dalam pengertian ‘takdir’.

Karman adalah kata benda yang berarti tindakan, perbuatan. Umumnya kata benda karman kerap disebut juga karma.

Bhagavad Gītā (18:23ff) membedakan secara fundamental tiga jenis perbuatan, tergantung pada fitrah batin pelakunya: 

  1. sāttvika karman, perbuatan yang dituntutkan oleh tradisi dan dilakukan tanpa ikatan dan pamrih imbalan (phala);
  2. rājasa karman, perbuatan yang digerakkan oleh ego (ahamkāra) demi kesenangan; dan
  3. tāmasa karman, perbuatan yang dilakukan oleh individu yang tidak peduli terhadap konsekuensi moral dan spiritual perbuatannya.

Makna karman lebih lanjut adalah ‘tindakan ritual’. Tapi secara lebih spesifik, karman mengacu pada dorongan akhlak atas niat, gagasan, dan perilaku seseorang. Dalam hal ini, karma sering dikaitkan dengan takdir, yang ditentukan oleh kualitas keberadaan seseorang di kehidupan yang lalu dan sekarang. Gagasan dasarnya adalah bahwa bahkan dimensi moral keberadaan juga ditentukan secara kausal. Sebagai dinyatakan dalam Shiva Samhita: “Apapun yang dialami di dunia – semua bersemi dari karma. Semua makhluk memiliki pengalaman seturut karmanya” (2:39).

Gheranda Samhita (1:6ff) memiliki dua stanza ini:

  • Melalui perbuatan baik dan buruk pot (ghata) [yaitu, tubuh] makhluk hidup diproduksi; dari tubuh, muncullah karma. Maka [daur] berputar seperti kincir air (ghati yantra).
  • Bagai kincir yang naik dan turun digerakkan oleh sapi jantan, begitupun jiwa (jīva) melewati kehidupan dan kematian [berulang-ulang], digerakkan oleh karma.

Doktrin karma erat terhubung dengan gagasan kelahiran kembali (punar janman). Keduanya mengajarkan hal yang pertama kali diungkapkan dalam Upanishad awal, walau masih diperdebatkan keberadaannya sebagai bagian integral Veda kuno.

Secara umum ada tiga jenis karma:

  1. sancita karma, akumulasi ‘tabungan’ karma (āshaya) yang menantikan saat berbuah;
  2. prārabhda karma, karma yang telah membuahkan hasil dalam hidup ini (misalnya, komponen pembentuk tubuh kita); dan
  3. vartamāna atau āgāmi karma, karma yang diperoleh selama kehidupan sekarang dan yang akan membuahkan hasil di masa mendatang. Ini adalah satu-satunya karma yang bisa kita kendalikan.

Yoga Sūtra (3:22) membedakan antara retribusi akhlak yang genting (saupa krama, tertulis sopakrama) dan yang ditangguhkan (nirupakrama). Vyāsa, dalam Yoga Bhāshya (3:22), secara imajinatif mengibaratkan saupa krama sebagai kain basah yang dibentangkan sehingga kering dengan cepat, dan nirupakrama sebagai kain basah yang digulung bagai bola sehingga kering dengan perlahan.

Semua karma, baik atau buruk, adalah mengikat. Karma merupakan mekanisme yang memungkinkan keberadaan kondisional (samsāra) berlangsung. Pengaruh karma, oleh para bijak dan filsuf India, dengan beberapa pengecualian, tidak diserahkan kepada fatalisme. Sebaliknya, pemikiran mereka berkisar pada pertanyaan bagaimana bisa melepaskan diri dari jejaring kausal moral ini. Semua laku spiritual berangkat dari asumsi bahwa hukum retribusi moral, yang sebanding dengan yang disebut para fisikawan modern sebagai hukum alam, dapat ditransendensikan.

Dalam Yoga Sūtra (4:7), Patañjali menyatakan bahwa karma memiliki empat dimensi. Pernyataan ini dijelaskan dalam Yoga Bhāshya sebagai “Karma bisa ‘hitam’, ‘hitam dan putih’, ‘putih’, dan ‘tidak putih ataupun hitam’”.

Untuk mengtasi hukum karma yang perkasa, manusia harus melampaui kesadaran nurani paling dasar yang menghasilkan tindakan mental dan fisik beserta konsekuensinya. Dengan kata lain, kita harus melampaui kepribadian ego – keadaan ilusif dengan manusia sebagai agennya (kartri). Filosofi ini dengan indah dicontohkan dalam ajaran Karma Yoga dalam Bhagavad Gītā. Menyadari bahwa hidup adalah identik dengan perbuatan, Krishna mengajarkan bahwa hanya abstainsi dari perbuatanlah yang membawa kepada pembebasan, atau pencerahan. Oleh karena itu Ia mengajarkan jalan ‘transendensi perbuatan’ (naishkarmya karman). Hanya perbuatan yang dilakukan tanpa kendali dari pusat subjektif – ego – yang tidak mengikat. Dengan terus-menerus menyemai fitrah transendensi diri, lingkaran setan keberadaan karma dapat diputus. Karma masa lalu memang hanya bisa diterima sebagaimana adanya, namun karma masa depan bisa dicegah. (ret)

Sumber:
1. Feuerstein, Georg. 2011. The Encyclopedia of Yoga and Tantra. Boston: Shambala Publications.
2. Sivananda, Sri Swami, 2000, Bhagavad Gītā by Sri Swami Sivananda, Himalayas: The Divine Life Society, ch. 3 & 18.

Advertisements

Sila beri tanggapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s