Prakriti

kb: 1 ciptaan; 2 penciptaan

Prakriti atau Prakṛti adalah terminologi Yoga dan Sāmkhya untuk kosmos, dan sering diterjemahkan sebagai alam semesta. Meskipun kata itu tidak muncul sebelum Bhagavad Gītā dan Shvetāshvatara Upanishad, konsep mendasar ini sudah dikenal pada masa sebelumnya dan sering disebut avyakta (yang tidak berwujud).

Prakṛti pada awalnya juga digunakan untuk menyebut delapan dimensi utama evolusi kosmos, yaitu dimensi tidak berwujud (avyakta), yang oleh Patañjali disebut alinga; pikir tataran lebih tinggi (buddhi); ‘pembentuk Aku’ (ahamkāra); dan lima elemen material ( bhūta). Dalam Bhagavad Gītā (7:4) Krishna menyebut delapan dimensi atau prinsip (tattva) ini sebagai ‘alam bawah’, sementara ‘alam yang lebih tinggi’ disebutnya ‘prinsip kehidupan’ (Jīva bhūta), yaitu Sang Diri (puruṣa).

Hinduisme memandang kosmos sebagai organisasi hirarkis berjenjang, yang membentang dari tataran terlihat yang terdiri dari lima elemen, hingga landasan transendental (pradhāna) atau ‘alam sumber’ (mūla prakṛti). Dimensi-dimensi terlihat disebut ‘kasar’ (sthūla), dan semua dimensi lain yang tersembunyi disebut ‘halus’ (sūkshma).

Tradisi Sāmkhya telah mengembangkan model yang paling canggih untuk menjelaskan evolusi bertahap (parināma) inti transendental kosmos ke alam berwujud yang bisa diakses oleh kelima indera (indriya). Model ini telah diadopsi dan diadaptasi oleh kebanyakan sekolah Yoga dan Vedānta. Dalam berbagai bentuknya model ini berfungsi sebagai peta bagi para yogi yang tengah berupaya bergerak dari kesadaran eksternal ke kesadaran internal, lalu ke dimensi transendental kosmos, dan terakhir melampaui orbit kosmos menuju ke Diri kesadaran-supra.

Menurut metafisika Yoga Klasik dan Sāmkhya, kosmos dalam segala aspeknya adalah benar-benar mengindera. Hanya Diri transendental (puruṣa) yang menikmati Kesadaran. Diri, secara sempurna dan kekal, tidak bergerak. Sementara kosmos, dalam segala sifatnya, bergerak.

Dinamika kosmos diperoleh dari interaksi tiga jenis pembentuk utamanya (guṇa), yaitu sattva, rajas, dan tamas. Dalam kombinasinya, ketiganya menenun seluruh pola keberadaan kosmis, dari tinggi ke rendah. Guṇa mendasari semua realitas material dan mental. Pikir (mind) dan ego termasuk dalam fenomena material, yang diterangi oleh Kesadaran transendental yang tidak berubah, atau cit.

Relasi antara kosmos yang mengindera dan Diri yang eksklusif telah menjadi batu sandungan filosofis. Dalam Mahābhārata (12.303.14ff) relasi ini dibandingkan dengan relasi antara ikan dan air, api dan tungku. Kemudian para pemikir bergumul dengan pertanyaan epistemologis, yaitu bagaimana Diri, makhluk tunggal yang transenden secara radikal itu bisa mengalami (ecperiencing) segala sesuatu.

Dalam Yoga Klasik, kosmos disebut sebagai ‘yang terlihat’ (drishya), sedangkan Diri disebut sebagai ‘yang melihat’ (drashtri) ‘kekuatan melihat’ (drik-shakti). Relasi antara kedua prinsip utama ini dikatakan sebagai salah satu ‘harmoni yang tidak terpungkiri’ (yogyata). Dalam literatur komentar atas Yoga Sūtra, harmoni antara prakṛti dan puruṣa dijelaskan oleh doktrin refleksi (pratibimba): ‘cahaya’ Diri transendental tercermin dalam aspek tertinggi, atau terhalus, kosmos, yaitu sattva. Ketika sattva kesadaran semurni Diri transendental, maka kondisi ‘kesendirian’ (kaivalya) atau kelepasan, tercapai. (ret)

Sumber:
1. Muktasambhava, Rama, 2015, pemaparan lisan,
2. Feuerstein, Georg. 2011. The Encyclopedia of Yoga and Tantra. Boston: Shambala Publications.
3. Krishnananda, Sri Swami, 2014, Commentary on the Bhagavad Gītā, Himalayas: The Divine Life Society, Discourse 40, ebook
3. Sivananda, Sri Swami, 2000, Bhagavad Gītā by Sri Swami Sivananda, Himalayas: The Divine Life Society.

Advertisements

Sila beri tanggapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s