Ātman dan Brahman dalam Satu Tubuh

– Sebuah Diskursus tentang Kristus –

Tulisan ini diangkat kembali sebagai persembahan Paskah bagi Guru, Rama Muktasambhava, yang telah dengan sabar membimbing 40 hari laku sādhana (Maret-April 2013) untuk memahami makna sejati di balik misteri Paskah

Crown of Thorn_2Malam merambat pagi, beberapa jam saja sebelum perang besar itu terjadi, sampailah Sang Kristus di sebuah tempat bernama Getsemani. KegelisahanNya membuncah. Keringat membasahi sekujur tubuh wadakNya. Tidak ada sesiapapun. Hanya Dia dan Sang Agung.

Ia maju sedkit. Seluruh tubuh dan jiwaNya bertekuk di hadapan Sang Agung, kataNya, “Ya BapaKu, jikalau mungkin, biarlah cawan ini lalu daripadaKu, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”

Yesus, Sang Kristus, Terang Dunia, Logos Tertinggi, mewujud kasat mata manusia, berdiri sebagai contoh yang tidak tertandingi untuk pola kurban, cinta, pengetahuan, dan realisasi Kebenaran. Di dalam Kristus kita menemukan manusia Roh. HidupNya adalah sebuah drama indah adhyātmika sādhana1. Mulai dari manifestasiNya hingga ke penyerapanNya kembali, Ia mempertontonkan kemegahan Allah dan mengukuhkan kemuliaanNya di bumi.

Kristus mistikus, Anak Allah, terlahir ke dunia seturut perintah Bapa alam semesta untuk mengangkat manusia dari kebodohan, kesalahan, dan dosa, menuju kehidupan benar dan penuh kebahagiaan. PribadiNya adalah cermin seni kehidupan batiniah; kehidupan roh. Manusia batin adalah Roh Allah yang dimuliakan tidak hanya dalam ajaran dan perilaku, namun juga dalam persekutuan batin dengan Allah yang terus menerus dipeliharaNya. Hukum spiritual yang serba kuat, yang mengatur alam semesta itu, mewujud dalam bentuk-bentuk yang tak terbatas untuk mengukuhkan diri di ranah manifestasi. Setiap bentukNya menjadi saksi Sang Cahaya Abadi. Penderitaan Anak Allah, Kristus, adalah contoh brilian bagaimana simbol inkarnasi Keabadian menjadi saksi atas sumbernya.

Karena kegelapan dunia bukanlah fenomena luar, maka pelenyapnya bukan pula semata kepribadian fisik. Seorang besar tidak dilihat dari tubuhnya. Orang besar bukanlah bentuk atau tubuhnya. Orang besar adalah tindakan, perilaku, karakter, ucapan, dan ekspresi kesadaran atas apapun. Dari karakteristik khusus ini kehadiran orang besar tampak dan langsung dirasakan. Dia yang besar adalah dia yang telah memahami lautan Roh yang luas, Allah yang Agung yang berkedip di semua mata, yang berada di hati semua makhluk.

Kristus historikus, Anak Manusia, mengambil kelahiran dalam kerangka manusia; terbungkus jubah daging dan darah. Manusia individual adalah orangtuaNya. Ia terikat pada lokasi geografis, dan menapaki sejarah kemanusiaan. Kristus individual adalah simbol jiwa yang berjuang, yang kehilangan esensi illahinya, dan menderita. Dari lahir sampai penyalibanNya, hidup Kristus adalah kisah penyempurnaan diri. Setiap kejadian dalam hidupNya mencerminkan perubahan makrokosmis yang terjadi dalam sejarah evolusi alam semesta menuju realisasi Diri Sejati pada keberadaan Tuhan.

Setiap tahap kehidupan adalah saat yang diperlukan oleh semesta untuk secara terus-menerus mengenali dirinya dalam kesadaran Diri Sejati. Kehidupan setiap orang adalah indikasi hakikat seluruh evolusinya, masa lalu dan masa datang, dan menghasilkan pengalaman kesempurnaan. Kehidupan Kristus adalah ilustrasi kesadaran dan pergerakan sistematisNya, dari tataran dasar individual menuju pencapaian Allah yang tidak terbatas. KehidupanNya adalah kompresi seluruh drama evolusi ke dalam satu kehidupan, dalam format yang sangat indah. Kita tidak akan menemukan, di manapun, kelimpahan dan kemuliaan illahi yang lebih besar daripada yang digambarkan dalam hidup Kristus; begitupun, tidak ada kesedihan dan penderitaan yang lebih besar daripada penderitaanNya. Tidak ada drama yang lebih dahsyat daripada drama kehidupanNya

Kehidupan spiritual kerap dianggap kontradiksi yang mengerikan; perang dalam bahasa kita. Perang telah menjadi tema utama narasi dan deskripsi. Kegelisahan jiwa roh di Padang Kurukshetra yang digambarkan pada bab pertama Bhagavad Gītā adalah juga kegelisahan Kristus di Taman Getsemani. Itulah ‘malam gelap bagi jiwa’, yaitu keadaan ketika kesadaran tertahan dan membara di tengah-tengah kegelapan dan kebodohan, namun diri spiritual terikat untuk berhasil dan menghancurkan akar dan ranting ketidaktahuan.

Ia menyatakan diri di dunia ini pada saat penguasa negeri itu berupaya keras menentangNya. Dia tumbuh secara misterius. Sang bayi spiritual harus dijaga dari serangan ego, yaitu penguasa di tanah kelahiranNya, hingga masa-masa awal kehidupan individualNya. Tepat pada saat kesadaran spiritual mencoba menyeruak keluar, pemberontakan kekuatan non-spiritual tidak terelakkan. Kecenderungan duniawi akan mengalahkan percikan spiritual dalam tahap bayi, namun ketika percik itu menjadi kobaran, kesadaran spiritual akan membakar kecenderungan duniawi. Dengan cara yang sama, jiwa manusia mulai menyeruak dari jubah materialnya ketika menemukan dirinya dikelilingi oleh kekuatan dunia fisik dan mental yang mengganggu. Percikan spiritual harus diselamatkan sebelum padam sama sekali. Ini adalah langkah awal dalam praktik Yoga.

Ada makna besar tersirat dalam penderitaan orang-orang kudus, baik yang sengaja dilakukannya sendiri dalam bentuk kaul penyangkalan ataupun yang dipaksakan kepadanya oleh institusi eksternal. Dia yang mencintai dunia tidak mencintai Bapa, dan dia yang mati demi Anak Allah, benar-benar hidup. Implikasi dari semua ini adalah bahwa untuk mengukuhkan kebenaran Allah dalam wilayah duniawi dan menjadi saksi hukum abadi yang supra duniawi, Anak Allah, menjalani kehidupan penyangkalan terhadap aturan dan kebiasaan dunia terdelusi dan menegaskan dengan segala daya karakter non-duniawi kehidupan ideal. Mati dari kehidupan duniawi yang sempit adalah hidup dalam kedamaian yang melampaui segala pemahaman.

Padang Kurukshetra itu, dari Yerusalem hingga Bukit Golgota, adalah medan perang bagi jiwa. Di sini jiwa individual menemukan dirinya dianiaya oleh kehidupan alamiah dunia. Jiwa terus-menerus dicobai dengan segala cara yang mungkin, dan dinyatakan tidak layak untuk kehidupan alamiah dunia. Namun untuk sampai ke keabadian, cawan kematian harus direguk. Di puncak bukit itu, jiwa berserah diri kepada kehendak Sang Agung, dan demi persekutuan kudus dengan Yang Kekal, jubah individualitas ditanggalkan, gejolak hasrat disalibkan, dan Anak Manusia masuk kembali ke Kerajaan Allah – hak azaziNya sebagai Anak Allah.

Cukup sulit, memang, untuk melewati belantara hakikat material; bahkan mungkin mustahil untuk pada saat yang sama hidup dalam ranah kesadaran Tuhan dan sekaligus di dunia manusia yang penuh gairah. Tidak seorangpun di bumi ini, secara umum, siap untuk minum dari cawan itu. Kristus pun berharap agar cawan itu disingkirkan dariNya (Matius 26:39) – kekuatan alam kesadaran fisik menekan jiwa. Namun Ia membuka mataNya, visiNya menjadi jelas, dan berkata, “Jadilah kehendakMu”.

Tekanan kehidupan fisik melibatkan kesadaran jiwa yang lebih tinggi dan lebih mulia. Menjaga keseimbangan dalam menghadapi perlawanan sungguh sebuah tugas yang luar biasa. Tugas itu diembankan kepada segelintir manusia seperti Kristus untuk terus-menerus menyelam ke kedalaman dan mendapatkan kembali kesadaran yang mendamaikan, yang imaterial dan trans-empiris. Seluruh kehidupan Kristus adalah sebuah kisah derap jiwa menuju tujuannya yang merupakan kesadaran yang sama sekali belum terungkap.

Hidup Kristus adalah sakramen, sebuah tanda lahiriah dan kasat mata akan kasih spiritual yang turun dari Sang Penguasa alam semesta. Inilah cinta tak terbatas Allah yang datang dalam daging dan menderita untuk kebodohan umat manusia, dan untuk mengangkatnya kepada Sang Sumber Cinta. Cinta dan kurban adalah kunci untuk membuka pintu keabadian. Doa, bukan untuk keselamatan dari penderitaan sendiri melainkan untuk penebusan orang lain dari kebodohan akan hukum Allah, adalah bentuk sejati cinta dan kurban dalam kehidupan yang illahiah.

Hidup adalah adonan hukum relatif dunia dan hukum mutlak Allah. “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!” (Markus 12:17). Sebuah pengembangan aspirasi akan Roh, yang selaras dengan aturan yang mengatur kerajaan Allah dan kerajaan bumi, diperlukan agar terbebaskan dari kesalahan penekanan yang tidak esensial dan mengabarkan yang esensial dalam hidup yang relatif ini.

Kehidupan yang semata negativitas bukanlah yang diwartakan oleh Kristus. Bukan sekadar pengosongan jiwa, menanggalkan segala milik, melepaskan diri dari segala keterikatan, melainkan pemenuhan Roh melalui kontemplasi illahi. Bagaimanapun, penyangkalan terhadap segala pameran lahiriah adalah pra-kondisi yang diperlukan untuk pemenuhan illahiah. Kita tidak bisa mengisi bejana dengan nektar ketika bejana itu sudah penuh dengan sampah. Kehidupan spiritual sekaligus juga transendensi kesadaran duniawi dalam kesadaran diri Sejati atau kesadaran Tuhan.

Di dalam Kristus kita menemukan jīvanmukta2. Hidupnya adalah inspirasi kehidupan ideal – bersahabat dengan kerendahan hati dan kepapaan, berteman dengan orang miskin, mencintai sesama seperti dirinya sendiri, dan mengorbankan segalanya untuk Dia, menderita dan menangis demi Dia, menyangkal daging dan hawa nafsu, dan mati untuk dilahirkan kembali dalam kehidupan yang kekal. Semua itu berarti menarik iman dari segala sesuatu yang fana, dan berserah kepada keyakinan akan kemahakuasaan Sang Pencipta segala sesuatu, serta menyangkal diri dan keingingan.

Kristus adalah seorang realis besar ketika menekankan pentingnya kebaikan, cinta, pelayanan, dan menyembah Allah sebagai Bapa di surga. Dia seorang idealis besar ketika menegaskan bahwa Kerajaan Surga ada di dalam diri, bahwa apapun dari luar yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi yang keluarlah yang menajiskannya (Markus 7:15). Sebuah integrasi paralel kekuatan interior dan eksterior melalui regenerasi spiritual yang mengonfirmasi Kerajaan Allah di bumi. Dalam ajaran Kristus kita menemukan kebijaksanaan dan kekudusan, metafisika dan etika, realisme dan idealisme, penarikan diri dan ekspresi diri, pengetahuan dan objeknya, melebur menjadi satu, dengan cara yang paling menakjubkan dan dipahami. Hanya Allah-manusia yang dapat melakukannya, dan Kristus adalah salah satunya. Hidupnya adalah ajaran, dan ajaranNya adalah firman Allah. Dengan mendengar dan mengikuti ucapan bahagia yang tak berujung, manusia akan selamat.

Kristus adalah guru spiritual tak tertandingi. Ia datang untuk membuat orang mengerti dan tahu dengan pengalaman bahwa tujuan hidup bukan untuk melakukan sesuatu yang lain, melainkan untuk menjadi sesuatu yang lain. Bukan perbuatan salah yang menuntut perhatian dan perbaikan, tetapi kerusakan organis dalam diri yang merupakan sumber dan akar perbuatan salah.

Untuk menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda, untuk mengubah sifat seseorang, untuk inisiasi ke dalam pengalaman spiritual yang unik, berarti mati terhadap kehidupan daging dan hidup dalam kesadaran superior. Ini bukan perbuatan seremonial bangsa Yahudi, tetapi kesadaran-pengalaman umat Tuhan, yang saat ini terbatas sebagai tabernakel sempit tempat menyimpan segala kerusakan dan penderitaan. Kesadaran-pengalaman Tuhan tidak tunduk pada aturan dan kekakuan ritual, tetapi pada kebebasan sempurna dalam kemuliaan kesadaran Tuhan. Manusia adalah anak semesta oleh kelahiran, tetapi ia adalah anak Allah oleh kelahiran kembali. Pengendalian diri dan tapa adalah jalan menuju kedamaian batin. Kenikmatan dunia adalah sia-sia, menggoda dan menipu. Semua itu tidak layak. Dia yang mencintai dunia tidak mencintai Bapa (1 Yoh 2:5)

Kristus adalah jiwa yang terlahir kembali, yang ditebus dan bersatu dengan Allah. Seluruh ajaranNya disimpulkan dalam pernyataanNya: ” Aku dan Bapa adalah satu” (Yohanes 10:30). Jiwa individual dan Sang Maha Jiwa adalah satu. Kristus adalah ātman  dan Brahman dalam satu tubuh (Ayamatma Brahmā). Inilah penyempurnaan keberadaan. Kebangkitan dan kenaikan Kristus ke surga adalah mendapatkan kembali Kesadaran Tuhan.

Selamat Paskah!
April 2013

1 Hidup spiritual.
2 Jiwa yang terbebaskan saat masih mewujud (ketika masih dalam kehidupan fisik)

 

Advertisements

Sila beri tanggapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s