Relaksasi

# Prinsip 3 dari 5 Prinsip Yoga 

Jauh sebelum penemuan mobil, pesawat terbang, telepon, komputer, dan simbol-simbol modernitas pemicu stres lainnya, para Guru dan yogi telah merancang teknik relaksasi mendalam yang sangat ampuh. Kenyataannya metode modern pengelolaan stres dan relaksasi banyak meminjam dari tradisi ini. Dengan mengendurkan semua otot para yogi benar-benar dapat meremajakan sistem saraf dan merasakan sensasi kedamaian batin yang mendalam.

Ketika tubuh dan pikir terus-menerus bekerja terlalu keras, efisiensi alamiahnya untuk bekerja malah berkurang. Kehidupan sosial modern, makanan, pekerjaan, bahkan sesuatu yang disebut hiburan sekalipun, semakin menyulitkan manusia modern untuk bersantai.
Energi lebih banyak dihamburkan untuk menjaga otot agar selalu siap sedia untuk bekerja daripada menjaga kemampuannya dalam bekerja. Untuk menata dan menyeimbangkan kerja tubuh dan pikir, adalah lebih baik untuk belajar menghemat energi yang dihasilkan oleh tubuh. Ini bisa dilakukan dengan belajar bersantai.

Dalam satu hari, tubuh biasanya menghasilkan semua substansi dan energi yang dibutuhkan hingga hari berikutnya. Namun kerap terjadi, semua substansi dan energi ini habis dikonsumsi hanya dalam beberapa menit oleh suasana hati yang buruk, kemarahan, atau sakit hati. Proses erupsi dan represi emosi sering tumbuh menjadi kebiasaan. Hasilnya adalah bencana, tidak hanya bagi tubuh, tetapi juga bagi pikir.

Selama relaksasi penuh, nyaris tidak ada energi atau prāṇa yang dikonsumsi, hanya sedikit untuk sekadar menjaga tubuh dalam kondisi normal. Sisanya disimpan dan dikonservasikan.

Untuk mencapai relaksasi sempurna, ada tiga metode yang diterapkan oleh para yogi, yaitu relaksasi fisik, mental, dan spiritual. Relaksasi tidak lengkap sebelum mencapai tahap relaksasi spiritual.

1. Relaksasi Fisik
Kita tahu bahwa tindakan adalah hasil kerja pikir. Gagasan mengambil bentuk tindakan, tubuh mencapai pikir. Sama seperti ketika pikir mengirim pesan kepada otot untuk berkontraksi, begitupun pikir mengirim pesan relaksasi kepada otot yang lelah.
Relaksasi fisik dimulai dari jari kaki dan seterusnya bergerak ke atas. Pesan otomatis ini merambat melalui otot dan mencapai mata dan telinga di tubuh bagian atas. Kemudian secara perlahan pesan dikirim ke ginjal, hati, dan organ dalam lainnya. Posisi relaksasi ini disebut śavāsana atau posisi mayat.

2. Relaksasi Mental
Saat mengalami ketegangan mental, disarankan untuk bernapas perlahan dan ritmis selama beberapa menit. Segera pikir menjadi tenang. Mungkin juga akan merasakan sensasi melayang.

3. Relaksasi Spiritual
Walau sudah mencoba menyantaikan pikir, tidak semua ketegangan dan kekhawatiran sepenuhnya terhapus hingga mencapai relaksasi spiritual. Selama kita masih mengidentifikasikan diri dengan tubuh dan pikir, akan selalu ada kekhawatiran, kecemasan, ketakutan, dan kemarahan. Keadaan emosional ini pada gilirannya akan membawa ketegangan. Para yogi paham bahwa kecuali kita menarik diri dari gagasan tubuh dan pikir, serta menyapih diri dari kesadaran ego, tidak ada cara untuk mendapatkan relaksasi lengkap.

Seorang yogi mengidentifikasikan dirinya dengan diri yang menyenangkan, damai, ampuh, dan melingkupi, yaitu kesadaran diri di dalam. Dia tahu bahwa sumber segala daya, pengetahuan, kedamaian, dan kekuatan ada di dalam diri, dan bukan di dalam tubuh. Kita menyelaraskan diri dengan menyatakan hakikat sebenarnya, yaitu “Aku adalah kesadaran murni”. Identifikasi dengan diri hakiki ini akan melengkapi proses relaksasi.

***

Rama Muktasambhava, pemaparan lisan pada suatu latihan śavāsana di tahun 2009

Advertisements

Sila beri tanggapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s